PADEK.JAWAPOS.COM – Regenerasi menjadi salah satu topik yang dibahas manajemen Semen Padang FC bersama sejumlah tokoh sepak bola dalam pertemuan yang membicarakan perkembangan klub dan sepak bola Sumatera Barat.
Manajer Semen Padang FC Braditi Moulevey mengatakan, dalam pertemuan itu pihaknya bersilaturahmi dengan Pelatih Kepala Semen Padang FC Nil Maizar, Penasihat Teknis Semen Padang FC sekaligus tokoh sepak bola nasional Suhatman Imam, serta pelatih nasional asal Sumbar Indra Sjafri.
Braditi menegaskan, pertemuan tersebut bukan agenda strategis yang berkaitan dengan keputusan besar klub. Diskusi lebih banyak membahas perkembangan Semen Padang FC dan sepak bola Sumbar.
“Kami juga membahas perkembangan sepak bola di Sumatera Barat, di mana kita tahu pelatih-pelatih ini mengharapkan lahirnya bibit baru maupun talenta muda sepak bola yang berasal dari Sumbar,” ujar Braditi kepada wartawan, Kamis (24/9/2026).
Pembicaraan mengenai regenerasi itu tidak lepas dari perjalanan sejumlah pemain asal Sumbar yang berhasil menembus kompetisi nasional, tim nasional kelompok umur, sepak bola profesional hingga kompetisi antarklub Asia.
Piala Soeratin Jadi Salah Satu Jalur Pembinaan
Salah satu gambaran pembinaan pemain muda Sumbar terlihat pada Piala Soeratin Zona PSSI Sumbar 2026.
Kompetisi tersebut mempertandingkan tiga kelompok usia, yakni U-13, U-15 dan U-17. PSTS Tabing menjadi juara U-13, Kinantan FC menjuarai U-15, sedangkan Josal FC Piaman menjadi juara U-17.
PSTS Tabing U-13 kemudian menjadi wakil Sumbar pada babak Regional Sumatera Piala Soeratin U-13 2026 di Palembang, 26 September hingga 3 Oktober 2026.
Tiket itu diraih setelah PSTS Tabing mengalahkan Tiku Putra Agam 6-1 pada final Piala Soeratin U-13 tingkat Sumbar di Stadion Utama Sumbar, 10 September 2026.
Seluruh pemain PSTS Tabing yang dibawa ke babak regional merupakan binaan SSB PSTS Tabing. Mayoritas pemain masih duduk di kelas I dan II SMP.
Jalur tersebut memperlihatkan bahwa perjalanan seorang pemain menuju sepak bola profesional dimulai jauh sebelum mereka masuk ke level senior.
Klub Sumbar Punya Rekam Jejak di Tingkat Nasional
Piala Soeratin menjadi salah satu panggung bagi klub-klub usia muda Sumbar untuk bersaing di tingkat nasional.
Pada Piala Soeratin U-15 2024, Josal FC Piaman menjadi juara setelah mengalahkan Gabsis Sambas 2-1 pada final.
Di kelompok U-17, Persikopa Pariaman menjadi runner-up Piala Soeratin nasional 2024.
Namun, perjalanan klub usia muda tidak selalu mudah. Pada Piala Soeratin U-17 2024, Pemerintah Kota Pariaman menyatakan mengupayakan penyelesaian persoalan pendanaan Persikopa ketika tim tersebut sudah memasuki babak 16 besar.
Persoalan tersebut menjadi gambaran bahwa pembinaan pemain muda tidak hanya membutuhkan kompetisi dan pelatih. Klub juga membutuhkan lapangan, fasilitas latihan, perjalanan pertandingan serta biaya operasional yang tersedia ketika dibutuhkan.
M. Iqbal, Pernah Berseragam Semen Padang FC
Jejak pemain Sumbar di sepak bola profesional juga dapat dilihat dari M. Iqbal.
Muhammad Iqbal memperkuat Semen Padang FC pada Liga 1 2024/25. Pada musim tersebut, ia tampil dalam 25 pertandingan.
Sebelum bergabung dengan Semen Padang FC, Iqbal bermain untuk Persebaya Surabaya. Setelah satu musim bersama Kabau Sirah, ia melanjutkan karier bersama PSIM Yogyakarta.
Iqbal merupakan kakak dari Ikhsan Nul Zikrak. Keduanya sama-sama menempuh perjalanan dari pembinaan sepak bola di Sumbar hingga level profesional.
Ikhsan Nul Zikrak Menembus Timnas U-23
Ikhsan Nul Zikrak merupakan jebolan PPLP Sumbar yang kemudian berkiprah di kompetisi Liga 1 bersama Borneo FC.
Pada April 2024, Ikhsan masuk skuad Timnas Indonesia untuk Piala Asia U-23 di Qatar.
Data ILeague mencatat Ikhsan tampil dalam 24 pertandingan bersama Borneo FC pada Liga 1 2023/24. Musim berikutnya, ia mencatat 33 penampilan, kemudian 34 penampilan pada musim 2025/26.
Sebelumnya, Ikhsan juga bermain untuk RANS Nusantara FC.
Perjalanan Ikhsan menjadi salah satu contoh pemain binaan Sumbar yang melanjutkan karier hingga sepak bola profesional dan tim nasional kelompok umur.
Rafi Rasyiq, dari Semen Padang U-18 ke Timnas
Generasi yang lebih muda diwakili Rafi Rasyiq.
Rafi lahir di Payakumbuh pada 30 November 2008. Data ILeague mencatat dirinya memperkuat Semen Padang FC U-18 pada EPA Liga 1 U-18 2024/25.
Dalam kompetisi tersebut, Rafi mencatat 10 penampilan dan satu gol.
Ia kemudian memperkuat Persib Bandung U-18. Pada EPA Super League U-18 2025/26, Rafi mencatat 23 penampilan dan tujuh gol.
Kesempatannya di level nasional kemudian datang bersama Timnas Indonesia kelompok umur.
Rafi masuk skuad Indonesia U-17 pada Piala Asia U-17 2025. Pada 2026, namanya kembali masuk daftar 23 pemain Timnas Indonesia U-20 untuk Kualifikasi Piala Asia U-20 2027.
Indonesia tergabung di Grup H bersama Australia, Malaysia dan Laos.
Perjalanan Rafi menjadi salah satu contoh pemain muda yang pernah melewati pembinaan Semen Padang U-18 sebelum melanjutkan karier bersama klub lain dan mendapat kesempatan memperkuat tim nasional.
Ikram dan Nabil Tampil di Piala Dunia U-17
Sumbar juga memiliki pemain yang mencapai panggung Piala Dunia kelompok umur.
Ikram Algiffari dan Muhammad Nabil Asyura masuk skuad Timnas Indonesia U-17 pada Piala Dunia U-17 2023.
Ikram merupakan penjaga gawang yang ditempa melalui pembinaan usia muda di Sumbar. Nabil juga menjadi bagian dari skuad Indonesia pada turnamen yang berlangsung di tanah air tersebut.
Saat Indonesia menghadapi Maroko, Nabil mencetak gol melalui tendangan bebas. Ikram tampil di bawah mistar dan melakukan sejumlah penyelamatan.
Keduanya menjadi bagian dari generasi pemain Sumbar yang mendapat kesempatan tampil di turnamen dunia kelompok umur.
Ikram Mendapat Kesempatan di Tim Senior Semen Padang
Perjalanan Ikram kemudian berlanjut ke sepak bola profesional.
Pada Pegadaian Championship 2026/27, ia masuk skuad senior Semen Padang FC.
Saat Semen Padang FC menghadapi PSIS Semarang pada 20 September 2026, Ikram dipercaya tampil sebagai penjaga gawang. Pertandingan tersebut berakhir 1-1.
Penampilan itu menjadi salah satu kesempatan terbaru Ikram bersama tim senior Kabau Sirah.
Dari pembinaan usia muda, tim nasional kelompok umur hingga tim senior Semen Padang FC, perjalanan Ikram menggambarkan salah satu jalur yang bisa ditempuh pemain muda Sumbar.
Teja Paku Alam Membawa Jejak Semen Padang ke Asia
Pada level yang lebih tinggi, Teja Paku Alam menjadi contoh pemain yang melanjutkan karier hingga kompetisi antarklub Asia.
Teja yang pernah memperkuat Semen Padang FC kini menjadi bagian dari Persib Bandung.
Pada 16 September 2026, Persib menghadapi FC Seoul dalam laga AFC Champions League Two 2026/27 di Seoul World Cup Stadium, Korea Selatan.
Persib menang 1-0 melalui gol Julio Cesar pada menit kelima. Teja tampil sebagai penjaga gawang dan Persib mampu menjaga gawangnya tetap tanpa kebobolan.
Perjalanan Teja menjadi salah satu contoh pemain yang pernah berseragam Semen Padang FC dan kemudian tampil di kompetisi antarklub Asia.
Fadillah, Jejak Generasi Sebelumnya
Regenerasi pemain Sumbar juga memiliki catatan dari generasi sebelumnya.
Fadillah Nur Rahman, pemain asal Lubuk Alung, Padangpariaman, pernah masuk Timnas Indonesia U-16.
Bersama Timnas U-16, Fadillah menjadi bagian dari skuad Indonesia yang menjuarai Piala AFF U-16 2018.
Jejak tersebut kemudian diteruskan oleh generasi berikutnya, termasuk Ikram Algiffari dan Muhammad Nabil Asyura yang tampil di Piala Dunia U-17 2023.
Pembinaan Membutuhkan Dukungan Banyak Pihak
Perjalanan para pemain tersebut memperlihatkan bahwa pembinaan sepak bola membutuhkan waktu dan dukungan yang tidak sedikit.
Pemain usia muda membutuhkan kompetisi, pelatih, lapangan, fasilitas latihan, perlengkapan, perjalanan pertandingan hingga dukungan pendanaan.
Persikopa menjadi salah satu contoh. Ketika tampil pada Piala Soeratin U-17 2024, persoalan pendanaan sempat muncul setelah tim mencapai babak 16 besar. Pemerintah Kota Pariaman ketika itu menyatakan mengupayakan penyelesaiannya.
Karena itu, pembinaan tidak hanya menjadi tanggung jawab klub atau sekolah sepak bola.
Pemerintah daerah, klub profesional, dunia usaha, sponsor, komunitas, orang tua dan pihak lain memiliki peran dalam menjaga agar pemain muda tetap memiliki ruang untuk berlatih dan bertanding.
Semen Padang FC dan Mata Rantai Regenerasi
Dalam ekosistem tersebut, Semen Padang FC berada di salah satu jenjang sepak bola profesional Sumbar.
Rafi Rasyiq menjadi contoh pemain yang pernah memperkuat Semen Padang U-18 sebelum melanjutkan perjalanan bersama Persib U-18 dan masuk lingkungan Timnas Indonesia U-17 serta U-20.
M. Iqbal pernah memperkuat Semen Padang FC di kompetisi profesional.
Ikhsan Nul Zikrak menempuh jalur PPLP Sumbar, kemudian bermain di kompetisi profesional dan Timnas U-23.
Ikram Algiffari melewati pembinaan usia muda dan Timnas U-17 sebelum mendapat kesempatan bermain bersama tim senior Semen Padang FC.
Mereka berada pada generasi dan tahap karier yang berbeda. Namun, perjalanan masing-masing memperlihatkan bahwa pemain membutuhkan jalur untuk naik dari satu jenjang ke jenjang berikutnya.
Hal itulah yang menjadi salah satu konteks pembahasan regenerasi dalam pertemuan Braditi Moulevey dengan Nil Maizar, Suhatman Imam dan Indra Sjafri.
Menjaga Jalur dari SSB hingga Tim Senior
Pembinaan pemain tidak berhenti pada SSB.
Kompetisi seperti Piala Soeratin memberi ruang bagi pemain usia U-13, U-15 dan U-17 untuk mendapatkan pengalaman bertanding.
Sebagian pemain kemudian melanjutkan pembinaan melalui PPLP atau akademi klub sebelum mendapat kesempatan memperkuat tim nasional kelompok umur.
Rafi merupakan salah satu contohnya. Ia pernah bermain untuk Semen Padang U-18, kemudian Persib U-18, sebelum masuk skuad Timnas Indonesia U-17 dan U-20.
Ikram dan Nabil juga memperlihatkan bahwa pemain dari pembinaan Sumbar dapat mencapai Piala Dunia U-17.
Di level profesional, M. Iqbal pernah memperkuat Semen Padang FC, sedangkan Ikhsan menembus kompetisi profesional dan Timnas U-23.
Teja Paku Alam kemudian menjadi contoh perjalanan pemain yang pernah berseragam Semen Padang hingga tampil di kompetisi antarklub Asia.
Rangkaian tersebut memperlihatkan pentingnya kesinambungan pembinaan. Pemain yang tumbuh dari SSB membutuhkan kompetisi. Setelah itu, mereka membutuhkan jenjang pembinaan berikutnya, kesempatan bermain dan jalur menuju tim senior.
Membangun Regenerasi Secara Berkelanjutan
Pembahasan mengenai regenerasi pada akhirnya kembali kepada bagaimana jalur tersebut bisa terus berjalan.
Semen Padang FC dapat memperkuat sistem pembinaan pemain muda secara terintegrasi, mulai dari pencarian bakat, kelompok umur, akademi hingga tim senior.
Model pembinaan klub-klub besar seperti Ajax dan Barcelona menunjukkan bahwa akademi dapat menjadi bagian penting dari sistem klub. Namun, model tersebut tidak harus diterapkan secara mentah di Sumatera Barat.
Kebutuhan dan kondisi sepak bola Sumbar tetap menjadi dasar dalam membangun sistem pembinaan.
SSB dan klub usia muda di berbagai daerah dapat menjadi bagian dari jaringan pencarian talenta. Piala Soeratin menjadi salah satu ruang kompetisi, sedangkan akademi klub dapat menjadi jalur pembinaan menuju kelompok umur dan tim senior.
Pembinaan juga tidak sebatas kemampuan bermain. Pemain muda membutuhkan pendidikan, nutrisi, kesehatan, pengembangan karakter serta pendampingan selama menjalani karier sebagai atlet.
Kualitas pelatih dan pemantauan perkembangan pemain juga menjadi bagian penting agar klub mengetahui perkembangan setiap pemain dari waktu ke waktu.
Dengan sistem yang terarah, Semen Padang FC tidak hanya mencari pemain yang sudah siap bermain, tetapi juga memiliki ruang untuk membentuk pemain dari usia muda.
Regenerasi pun tidak lagi bergantung pada munculnya satu atau dua pemain dalam satu generasi.
Jalurnya harus tersedia. Dari SSB dan kompetisi usia muda, pemain dapat melanjutkan ke PPLP atau akademi, masuk tim kelompok umur, kemudian mendapat kesempatan menuju tim senior dan kompetisi profesional.
Bagi sepak bola Sumbar, menjaga jalur tersebut berarti menjaga peluang agar talenta-talenta baru terus muncul dan memiliki kesempatan berkembang.
Pertemuan Braditi Moulevey, Nil Maizar, Suhatman Imam dan Indra Sjafri menjadi salah satu pembicaraan tentang arah tersebut.
Tantangannya adalah bagaimana pembinaan yang sudah berjalan di berbagai daerah dapat tersambung dengan lebih baik, sehingga pemain muda tidak berhenti di satu jenjang dan memiliki kesempatan untuk melanjutkan perjalanan hingga level yang lebih tinggi. (*)
Editor : Heri Sugiarto