Manchester United Era Carrick: Masalahnya Bukan Menyerang

Heri Sugiarto • Dipublikasikan Senin, 5 Oktober 2026 | 00:26 WIB
Michael Carrick menghadapi tantangan mengubah permainan Manchester United menjadi hasil yang lebih konsisten pada musim 2026/2027. (Foto: Dok. Manutd.com)
Michael Carrick menghadapi tantangan mengubah permainan Manchester United menjadi hasil yang lebih konsisten pada musim 2026/2027. (Foto: Dok. Manutd.com)

PADEK.JAWAPOS.COM-Start Manchester United pada Premier League 2026/2027 belum sesuai dengan permainan yang mereka tunjukkan di lapangan. Setelah lima pertandingan, Manchester United baru mengumpulkan lima poin dan berada di posisi ke-12.

Manchester United mencatat satu kemenangan, dua hasil imbang, dan dua kekalahan dengan delapan gol memasukkan serta delapan gol kemasukan.

Mereka selanjutnya menghadapi Tottenham Hotspur pada 10 Oktober 2026.

Namun, angka lima poin tidak sepenuhnya menggambarkan bagaimana Manchester United bermain.

Data Premier League menunjukkan Manchester United mencatat 182 sentuhan di kotak penalti lawan, terbanyak di Premier League setelah lima pertandingan.

Sebaliknya, lawan hanya mencatat 92 sentuhan di kotak penalti Manchester United, paling sedikit di liga.

Artinya, persoalan Manchester United bukan sekadar kesulitan membawa bola ke area berbahaya. Persoalannya adalah bagaimana tekanan dan peluang yang mereka ciptakan diterjemahkan menjadi gol, keunggulan yang bertahan, dan poin.

Banyak Masuk Kotak Penalti, Belum Banyak Poin

Lima pertandingan Premier League memberikan gambaran yang cukup jelas.

Manchester United kalah 0-2 dari Hull City pada laga pembuka, kemudian menang 5-2 atas Ipswich Town. Mereka bermain imbang 2-2 dengan Everton sebelum kalah 0-1 dari Manchester City di Old Trafford.

Pada pertandingan kelima, Manchester United bermain imbang 1-1 di markas Fulham.

Hasil tersebut membuat mereka hanya mengumpulkan lima poin dari lima pertandingan.

Padahal, dari frekuensi menyentuh bola di kotak penalti lawan, Manchester United berada di posisi teratas.

Kesenjangan antara permainan yang mereka tunjukkan dan hasil yang diperoleh inilah yang membuat awal musim Manchester United terasa lebih buruk daripada sekadar persoalan posisi di klasemen.

Kekalahan dari Hull memperlihatkan bahwa dominasi permainan tidak otomatis menghasilkan gol.

Kekalahan tipis dari Manchester City menunjukkan pertandingan dapat ditentukan oleh margin yang sangat kecil.

Sementara hasil imbang melawan Fulham memperlihatkan Manchester United belum cukup efektif mengubah tekanan menjadi kemenangan.

Kekalahan dari Brighton Menjadi Gambaran Paling Jelas

Kekalahan 2-3 dari Brighton & Hove Albion di putaran ketiga Carabao Cup menjadi contoh paling jelas mengenai persoalan tersebut.

Manchester United sempat unggul 2-0 hanya dalam 10 menit melalui Shea Lacey dan Mason Mount. Namun, Brighton membalikkan keadaan melalui Charalampos Kostoulas, Pascal Gross, dan Maxim De Cuyper.

Manchester United akhirnya tersingkir dari Carabao Cup. Pertama kalinya Manchester United kalah di Old Trafford setelah memimpin saat jeda sejak Mei 1984 ketika takluk dari Ipswich Town.

Catatan lain memperlihatkan betapa tidak biasanya hasil tersebut. Manchester United sebelumnya tidak pernah kalah dalam 145 pertandingan di Old Trafford ketika mereka unggul dua gol.

Mereka menang dalam 143 pertandingan dan dua lainnya berakhir tanpa kemenangan sebelum Brighton memutus catatan tersebut.

Masalahnya bukan hanya skor akhir. Setelah unggul 2-0, Manchester United gagal mempertahankan kendali pertandingan sampai Brighton mampu mengambil alih momentum.

Di sinilah kekalahan Brighton menjadi lebih penting daripada sekadar hasil di kompetisi piala.

Manchester United mampu menciptakan keunggulan, tetapi belum cukup konsisten dalam mempertahankannya.

Tiga Kekalahan, Tiga Cerita

Tiga kekalahan Manchester United pada awal musim memperlihatkan persoalan yang berbeda.

Melawan Hull City, Manchester United gagal mengubah aktivitas permainan menjadi gol dan akhirnya kalah 0-2.

Melawan Manchester City, mereka kalah tipis 0-1 dalam derby di Old Trafford. Premier League mencatat City tetap menang meski harus bermain dengan 10 pemain sejak menit ke-23 setelah Phil Foden mendapat kartu merah.

Sementara saat menghadapi Brighton, Manchester United sudah memiliki keunggulan dua gol tetapi kehilangan kendali pertandingan dan akhirnya tersingkir dari Carabao Cup.

Tiga pertandingan tersebut tidak menghasilkan satu pola sederhana bahwa Manchester United tidak mampu menyerang.

Justru data Premier League menunjukkan mereka paling sering menyentuh bola di kotak penalti lawan.

Yang terlihat adalah kesenjangan antara masuk ke area berbahaya dan mengubahnya menjadi hasil yang konsisten.

Carrick Menghadapi Persoalan Kontrol Pertandingan

Michael Carrick tetap menjadi bagian penting dari persoalan tersebut karena ia kini menjalani musim penuh pertamanya sebagai pelatih kepala permanen Manchester United.

Setelah kekalahan dari Brighton, Carrick mengakui tanggung jawab atas situasi yang dihadapi timnya.

"Ini tanggung jawab saya dan saya menerimanya. Ini bukan soal saling menyalahkan. Silakan salahkan saya, tidak masalah, tapi ini bukan tentang menyalahkan orang lain.”

Ia kemudian menekankan pentingnya mencari solusi secara bersama-sama.

“Ini soal mencari solusi. Ini merupakan upaya kolektif secara keseluruhan. Ini bergantung pada apa yang Anda fokuskan,” kata Carrick.

Pernyataan tersebut menunjukkan fokus Carrick bukan mencari pihak yang harus disalahkan, melainkan menemukan cara untuk mengubah situasi.

Ia menyampaikan hal itu kepada wartawan menjelang pertandingan melawan Fulham pada 18 September.

Beberapa hari kemudian, setelah Manchester United bermain 1-1 melawan Fulham, Carrick menyederhanakan persoalan tersebut dalam satu kalimat: "Kami ingin lebih banyak poin."

Hasil imbang itu membuat Manchester United mengumpulkan lima poin dari lima pertandingan Premier League.

Reuters mencatat United sebenarnya melepaskan 29 percobaan ke gawang Fulham, tetapi baru mencetak gol penyama pada menit ke-89 melalui Matheus Cunha.

Jadi, Apa Masalah Manchester United?

Menyebut Manchester United tidak mampu menyerang terlalu sederhana jika melihat data lima pertandingan pertama.

Mereka justru berada di posisi teratas Premier League dalam jumlah sentuhan di kotak penalti lawan.

Persoalannya adalah apa yang terjadi setelah mereka sampai di sana.

Kekalahan dari Hull menunjukkan dominasi wilayah tidak menjamin gol.

Kekalahan dari Manchester City memperlihatkan margin kecil dapat menentukan pertandingan.

Sedangkan kekalahan dari Brighton menunjukkan keunggulan dua gol belum otomatis berarti pertandingan berada dalam kendali Manchester United.

Karena itu, persoalan Carrick bukan semata-mata membuat Manchester United lebih sering menyerang.

Tantangannya adalah membuat aktivitas tersebut menghasilkan peluang yang lebih efektif, gol yang lebih konsisten, sekaligus kemampuan mempertahankan kendali ketika sudah unggul.

Lima pertandingan belum cukup untuk menyimpulkan seluruh arah proyek Carrick. Namun, lima poin dari lima laga membuat pertandingan berikutnya memiliki arti lebih besar.

Manchester United akan menghadapi Tottenham Hotspur di Old Trafford pada 10 Oktober.

Di pertandingan itu, ukuran keberhasilan Carrick bukan hanya seberapa sering timnya masuk ke kotak penalti lawan, tetapi apakah tekanan tersebut akhirnya menghasilkan tiga poin. (*)

Editor : Heri Sugiarto
manchester united carabao cup premier league michael carrick brighton