Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

UTBK Uji Pintar, Strategi dan Kekuatan Doa

Adriyanto Syafril • Rabu, 22 April 2026 | 10:41 WIB
Ilustrasi.
Ilustrasi.

Penulis : Nofrion - Dosen Universitas Negeri Padang

PADEK.JAWAPOS.COM - Mulai 21 April 2026 atau bertepatan dengan peringatan Hari Kartini sebanyak 871.496 lulusan SMA/SMK/MA se Indonesia mengikuti Ujian Tulis Berbasis Komputer dalam Seleksi Nasional Berbasis Tes (UTBK – SNBT). Peserta seleksi tahun ini mencetak rekor terbanyak dalam kurun waktu lima tahun terakhir. Tahun 2025, peserta tercatat 860.976 orang, tahun 2024 sebanyak 785.058 orang. Sedangkan tahun 2023 tercatat 803.852 orang, tahun 2022 adalah 800.852 orang dan tahun 2021adalah 777.858 peserta. Dari total peserta, secara rata-rata dalam lima tahun terakhir jumlah yang diterima hanya 26,89%.

Dalam konteks asesmen, UTBK masuk ranah seleksi bukan evaluasi. Jika dalam evaluasi fokus pada menguji apa yang sudah dipelajari (soal dan materi ujian sesuai kurikulum) maka dalam seleksi lebih dari itu. Makanya, dalam UTBK tidak lagi ada materi ujian TKA (Saintek/Soshum) melainkan dalam bentuk Tes Potensi Skolatik (TPS) dan Literasi Tingkat Tinggi. Pemerintah dalam hal ini Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan teknologi yang menaungi Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru/SNPMB melaksanakan UTBK pada 74 pusat UTBK dan 32 Subpusat di seluruh Indonesia.

Di kalangan lulusan sekolah menengah, UTBK sering dianggap sebagai seleksi masuk perguruan tinggi yang paling “greget” dan “bergengsi”. Selain karena faktor tingkat keketatannya yang tinggi, UTBK juga dipercaya sebagai seleksi yang adil dan objektif serta transparan. Tidak hanya itu, UTBK adalah seleksi yang membutuhkan kemampuan berpikir tingkat tinggi (TPS dan Literasi) dengan soal standar nasional sehingga peserta yang lolos adalah lulusan sekolah menengah yang benar-benar memenuhi syarat intelektual sebagai calon mahasiswa pada program studi pilihannya. Walaupun, sempat ada kasus kecurangan dalam pelaksanaan UTBK namun standar nilai lulus UTBK telah menjadi acuan bagi PTN se Indonesia dalam menerima mahasiswa baru sebesar minimal 40% untuk PTN dan minimal 30% untuk PTNBH.

Atas dasar itulah, siswa sekolah menengah berjuang mati-matian untuk bisa merebut satu kursi di perguruan tinggi Impian. Ada diantara mereka yang sudah mempersiapkan diri sejak kelas X dengan mengikuti bimbingan belajar regular sampai super intensif yang dibandrol dengan harga selangit. Sebagai contoh, ada bimbingan belajar yang mematok harga mulai dari 5 jutaan sampai 25 juta untuk paket intensif. Bahkan, ada lembaga yang menetapkan harga sampai 50 juta lebih untuk kelas bergaransi dengan syarat dan ketentuan tertentu. Walau mahal, paket-paket bimbel ini tetap laris manis karena konten yang diajarkan di bimbel sudah disesuaikan dengan pola soal-soal yang keluar pada UTBK.

Pertanyaannya, berapa persenkah anak-anak Indonesia yang bisa mendapatkan akses  ke “bimbel”?. Bagaimana dengan anak-anak dari daerah dengan berbagai keterbatasan dan kemampuan?. Cukupkah bekal dari sekolah untuk menembus UTBK?. Menarik untuk diperhatikan adalah ketika hasil UTBK diumumkan maka Lembaga bimbel akan merilis siswa/I mereka yang lulus pada berbagai perguruan tinggi terutama perguruan tinggi Top Nasional. Sebagai contoh tahun 2025 adalah “siswa A”. Impiannya menjadi dokter telah memacu motivasinya untuk belajar sungguh-sungguh. Selain rajin berlatih mandiri membahas soal-soal, siswa ini juga mengikuti bimbingan belajar. Tidak hanya satu, dia mendaftar pada dua bimbel sekaligus. Dukungan keluarga juga sangat besar sehingga akses ke berbagai sumber dengan mudah didapatkan seperti perangkat belajar (laptop/ipad/computer), kuota internet dan lain-lain. Alhamdulillah, saat UTBK diumumkan namanya terpampang dengan keterangan lulus pada prodi pendidikan dokter sebagaimana harapannya dan namanya juga tertera pada pengumuman kelulusan pada dua bimbel yang diikutinya. Demikian juga dengan “siswa B”. Walau tidak semilitan siswa A, dia hanya mengikuti satu bimbel saja dengan biaya lebih murah. Namun, anak ini rajin mengikuti pelatihan dan try out online. Keberuntungan juga berpihak kepadanya. Lulus UTBK 2025 pada program studi pilihannya. Cerita berbeda datang dari “siswa C”. Setelah gagal dalam SNBP, semangat kuliah untuk memperbaiki hidup terus membara. Berbekal doa dari kedua orangtua, dia melangkah menuju Kota Padang untuk mengikuti UTBK. Tanpa bimbel, hanya berbekal buku panduan dan contoh-contoh soal Latihan UTBK yang menjadi pedoman. Anak inipun sadar dengan kemampuannya dan anak panahnya melesat menuju program studi tujuan dan dinyatakan lulus. Cerita dari “siswa D” perlu juga menjadi catatan bersama. Lulus SMA dan ingin kuliah namun tidak sempat mempersiapkan diri dengan optimal. Walaupun nilai rapor sangat bagus untuk ukuran sekolah di kampungnya, namun UTBK belum berpihak kepadanya. Dia tidak lulus.

Dari contoh kisah di atas terlihat bahwa ada satu benang merah yang perlu menjadi perhatian peserta UTBK bahwa lulus tidaknya dalam UTBK bukan hanya ditentukan oleh ikut tidaknya bimbel semata. Kata kunci utama adalah usaha. Banyak usaha yang dapat dilakukan untuk mendapatkan hasil optimal dalam UTBK. Bisa dengan ikut bimbel, rajin mengikuti pelatihan dan try out online, belajar mandiri atau berkelompok untuk membahas contoh-contoh soal melalui buku-buku yang ada. Minimal ada tiga kunci untuk mendapatkan hasil optimal dalam suatu kegiatan termasuk menuju sukses UTBK  yaitu;  

1. Keputusan yang tepat. Hal ini berkaitan dengan Keputusan dalam menentukan program studi tujuan dalam UTBK. Tepat dalam artian sesuai dengan bakat, minat dan kemampuan. Bak kata orang bijak “ukur bayang-bayang sepanjang badan”. Tidak hanya itu, ketepatan juga berkaitan dengan penempatan urutan pilihan program studi. Pada UTBK 2026, peserta diberi peluang untuk memilih maksimal empat program studi (S1, D4 dan D3) dengan kombinasi tertentu.

2. Tindak lanjut Keputusan yang tepat. Setelah menetapkan Keputusan yang tepat maka berikutnya adalah melakukan tindak lanjut yang tepat pula. Jika poin 1 berkaitan dengan “Apa” maka poin 2 berhubungan dengan “bagaimana cara mencapai poin 1”. Ini berkaitan dengan usaha apa saja yang harus dilakukan untuk menjadi tujuan. Semakin tinggi tujuan tentu semakin besar usaha yang dilakukan. Pepatah Arab mengatakan “Man Jadda Wajada” yang artinya “siapa yang bersungguh-sungguh maka ia akan berhasil”. Karena UTBK bersifat seleksi maka tentu penguasaan materi dan soal-soal evaluasi di sekolah belum memadai. Maka, perlu ditambah dengan belajar dan berlatih mengerjakan latihan-latihan soal yang mengasah literasi dan penalaran Tingkat tinggi. Tidak harus bimbel, latihan mandiri atau berkelompok bisa dilakukan. Ada empat  upaya untuk mengasah kemampuan berpikir dan bernalar tinggi yaitu  membaca kritis, mendengar aktif, berlatih rutin serta ada mitra diskusi/dialog. Keberadaan teman belajar baik sebagai mitra atau pembimbing dapat meningkatkan hasil belajar sebagaimana dikatakan oleh Jhon Dewey bahwa “jika hasil belajar dua kepala lebih baik maka libatkanlah lebih banyak kepala”. Ini juga sesuai dengan Konsep Zone Proximal Development/ZPD yang dikemukakan oleh Lev Vygostky yang salah intinya adalah perkembangan kognitif dapat ditingkatkan melalui interaksi sosial serta adanya tugas yang menantang. Keputusan yang tepat harus ditindaklanjuti dengan aksi yang tepat pula. Tapi, usaha tanpa doa adalah aktivitas minim makna.

Doa adalah inti usaha, artinya sebesar apapun usaha jika tidak diiringi dengan doa maka sesuatu itu kehilangan intinya. Maka, anak-anak yang ingin berhasil dalam UTBK, optimalkan usaha dan perbanyak berdoa. Tidak hanya doa-doa yang diucapkan sendiri tapi juga mintalah doa-doa dari keluarga terutama doa dari “keramat dunia” yaitu Ibu.

3. Dukungan yang tepat. Setelah menentukan Keputusan yang tepat, melakukan tindak lanjut yang tepat maka kunci ketiga untuk mengoptimalkan hasil adalah dukungan yang tepat. Kepemilikan perangkat dan akses kepada beragam sumber belajar adalah contoh dukungan untuk hasil yang optimal.

Laptop/PC/Ipad/Tablet/Smartphone harus digunakan untuk keperluan belajar persiapan UTBK.  Dukungan yang tepat juga termasuk lingkungan dan teman.

Carilah lingkungan dan teman yang sama-sama fokus untuk sukses UTBK. Sementara waktu, kurangi alokasi waktu untuk bermain dan bersantai. Kalimat bijak mengatakan bahwa “tanah yang baik akan menumbuhkan pohon yang baik” dan “kita adalah siapa teman kita”. Untuk menambah semangat belajar maka ciptakan atmosfer positif di rumah atau di kamar atau di tempat tinggal (khusus yang kos saat persiapan UTBK). Tulis dan tempelkan target UTBK di dinding kamar agar menjadi pengingat dan penyemangat. Tentukan target harian dan mingguan serta atur jadwal antara belajar sendiri dan kelompok. Belajar sendiri perlu dilakukan untuk refleksi diri dan belajar dengan orang lain diperlukan untuk pendalaman pemahaman dan perluasan perspektif.

UTBK selain uji pintar, uji strategi juga uji kekuatan doa. Pintar saja tanpa strategi yang jitu belum jaminan lulus. Tidak sedikit anak-anak juara justru gagal dalam UTBK. Malah, anak-anak yang prestasinya biasa di sekolah berhasil merebut satu tiket pada program studi idamannya. Kombinasi tiga aspek tersebut adalah Gambaran kesiapan lulusan sekolah menengah menuju perguruan tinggi yang berdampak kepada Angka Partisipasi Kasar/APK Indonesia yang saat ini masih jauh tertinggal dibanding negara tetangga. APK Indonesia masih terseok pada angka 32% (data tahun 2024-2025). Jauh di bawah Singapore (97%) dan rata-rata APK negara OECD (besar dari 70%). APK Indonesia juga kalah dari Tailan (49%), bahkan Vietnam dan Malaysia yang berada pada kisaran 35%. (*)

Editor : Adriyanto Syafril
#UTBK 2026 #opini #SNBT 2026