Penulis : Shofwan Karim - Pengamat, Penulis Esai dan Dosen Pasca Sarjana UM Sumbar.
PADEK.JAWAPOS.COM- Seperti kilat, Menlu Iran Abbas Araghchi mendahului ke Islamabad. Bertemu PM Pakistan Shehbaz Sharif 25 April 2026 kemarin. Dalam tatap wajah 2 jam, fokus kepada stabilitas regional dan negosiasi potensi damai pasca 8 pekan konflik Iran dan AS-Israel. Agaknya ini lanjutan Negosiasi Islamabad I lalu.
Dan waktu berlari kencang. Araghchi terbang ke Muscat bertemu Emir Oman Haitham bin Thariq Al Said. Seperti Burung Elang Menlu Negeri Persia ini, berikutnya akan cabut untuk ke Moscow. Begitu lanskap media international sampai pagi ini WIB 07.45 Ahad 26 April 2026.
Di ujung kaki langit lain, Washington membatalkan pengiriman utusan Ronde II yang direncanakan di Islamabad setelah tenggat gencatan senjata habis 26 April. Amerika masih bersiap, tetapi memilih jalur telepon, bukan tatap muka.
Baca Juga: Gunung Padang Padang Dikeluhkan Kumuh, Sampah Menumpuk di Pintu Masuk Wisata
Pertemuan di Islamabad 25 April kemarin antara Menlu Iran dan PM Pakistan itu memperlihatkan wajah diplomasi sebagai permainan kartu. Iran membawa “kerangka kerja” yang disebutnya layak untuk mengakhiri perang. Pakistan menegaskan pentingnya dialog.
Namun kartu berikutnya itu dan ini mungkin paling menentukan belum dibuka: apakah Amerika benar-benar siap duduk di meja perundingan?
Israel dan Luka Lebanon
Semenyara itu di luar ruang perundingan, Israel menunjukkan ketidakkonsistenan. Meski gencatan senjata dibicarakan, serangan tetap berlanjut. Serangan masih dilakukan. Empat warga sipil Lebanon tewas. Dalam kerangka Konvensi Jenewa, tindakan ini menimbulkan pertanyaan serius: Pasal 51 Protokol Tambahan I menegaskan larangan serangan terhadap penduduk sipil. Prinsip proporsionalitas melarang kerugian berlebihan terhadap warga sipil dibanding keuntungan militer.
Baca Juga: Ribuan KTP Hilang Tiap Bulan di Padang, April Tembus 1.621 Keping
Ketidakkonsistenan Israel memperlemah kredibilitas proses damai, sekaligus memperkuat narasi Iran tentang standar ganda Barat dalam hal ini Israel.
Estimasi Oman dan Rusia: Simpul Diplomasi
Kembali ke paragraph di atas. Mengapa Oman menjadi tujuan? Muscat adalah simpul diplomasi yang tenang, ruang netral di mana suara keras dunia bisa diredam. Oman sering menjadi mediator tak terlihat, jembatan antara pihak-pihak yang enggan bertemu langsung. Dan Oman punya geografios strategis berada di mulut Selat Hormuz gerbang satu-satunya teluk Persia.
Lalu mengapa Menlu Iran ke negeri Beruang Merah. Rusia adalah kartu strategis. Moskow memiliki kepentingan menjaga pengaruhnya di Timur Tengah, sekaligus menegaskanposisinya sebagai penyeimbang dominasi Amerika. Kehadiran Araghchi di Moskow bukan sekadar kunjungan, melainkan upaya Iran memperkuat dukungan dari kekuatan besar yang dapat menekan Washington di meja perundingan.
Baca Juga: Wisuda ke-44 Paramadina: 520 Lulusan Siap Bersaing di Era AI dan Ekonomi Hijau
Blokade Laut dan UNCLOS
Crita kemnbali ke blokade. Amerika memperluas blokade Teluk Persia dan Selat Hormuz, bahkan menghentikan kapal yang dianggap beraliansi dengan Iran di berbagai lautan dunia. Dalam kerangka UNCLOS (United Nations Convention on the Law of the Sea): Pasal 87 menjamin kebebasan navigasi di laut lepas. Pasal 90 menegaskan hak setiap negara untuk berlayar dengan kapal berbendera nasional. Pasal 301 melarang ancaman atau kekerasan di laut yang bertentangan dengan Piagam PBB.
Blokade tanpa mandat Dewan Keamanan PBB dapat dianggap ilegal, menyerupai collective punishment terhadap pihak ketiga yang tidak terlibat langsung. Sesuatu yang kini hanya disilau dari jauh oleh dunia karena belum tahu, apakah Trump akan menyadari bahwa UNCLOS harus dijadikan rujukan.
Dampak Geopolitik dan Geoekonomi Praktis
Semua sudah merasakan. Dunia morat-marit kini. Akibat belokade Selat Hormuz oleh AS dan narasi kontrol penuh persyaratan Iran pada Negoasisi I Islamad awal pekan ke-2 April lalu. Perdagangan energi kocar-kacir. Selat Hormuz jalur vital bagi 20% pasokan minyak dunia tersumbat. Semua sadar bahwa blokade dan control ketat oleh pihak berseteru tadi telah meningkatkan harga energi global, menekan negara importir besar seperti Cina, India, dan Uni Eropa serta beberapa negara di Asia serta kawasan lainnya.
Baca Juga: Gol Extra Time Firas Al Buraikan Antar Al Ahli Juara AFC Champions League Elite 2026
Di Tengah itu semua, aliansi regional Negara Teluk namopaknya tetap terdorong memperkuat kerja sama keamanan dengan AS, tetapi juga membuka ruang bagi Rusia dan Cina untuk menawarkan alternatif jalur perdagangan atau perlindungan diplomatik.
Di situlah posisi Rusia, tentu dengan dukungan Iran menegaskan diri sebagai penyeimbang terhadap dominasi Amerika, sekaligus memperkuat pengaruhnya di pasar energi global.
Strategi Diplomasi ke Depan
Mengapa Menlu Iran ke Muscat? Boleh jadi ada misi lain, disamping posisi geografis, ada geopoltik-economi di atas tadi. Oman diharapkan menjadi serambi lain bersama Islamabad tetap menjadi mediator netral, menyediakan ruang aman bagi komunikasi tidak langsung.
Baca Juga: Langkah Sumbar Terhenti di 16 Besar ORADO 2026, Evaluasi Pembinaan Jadi Fokus
Begitu pula Moscow, tetap diposisisikan menjadi kartu strategis Iran untuk menekan Washington. Telepon Washington–Teheran mungkin terjadi, tetapi tanpa tatap muka, sulit membangun kepercayaan.
Estimasi berlanjut. Blokade laut akan terus menjadi faktor penekan, membuat setiap perundingan berikutnya berlangsung di bawah bayang-bayang krisis energi dan ancaman hukum internasional. Mungkin pihak tertentu mengabaikan atau diabaikan. Dan dunia masih mencari siapa sebenarnya pemegang kunci utama gerbang perdamaian ini. Seakan, Islamabad II sedang mencari sosok utama di persimpangn krisis. (*)
Shofwan Karim, Pengamat, Penulis Esai dan Dosen Pascasarjana UM Sumbar
Editor : Tandri Eka Putra