Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Krisis, Kesadaran, dan Jalan Kemandirian

Tandri Eka Putra • Kamis, 14 Mei 2026 | 07:37 WIB
Krisis, Kesadaran, dan Jalan Kemandirian
Krisis, Kesadaran, dan Jalan Kemandirian

 

Oleh Shofwan Karim
(Pengamat, Penulis Esai, dan Dosen Pascasarjana UM Sumbar)

PADEK.JAWAPOS.COM- Sejarah sering kali berulang, meski dengan wajah berbeda. Dunia kini seakan mundur ke abad lalu, berada di ambangkrisis panjang. Timur Tengah kembali menjadi panggungutama, dengan konstelasi AS–Israel versus Iran yang jauh dariideal damai.

Penolakan Presiden AS Donald Trump terhadap proposal gencatan senjata Iran pada Mei 2026 menjadi pemicuketidakpastian eksistensial. Selat Hormuz, jalur vital yang mengangkut seperlima minyak dunia, terguncang oleh ancaman blokade. Harga minyak Brent melonjak di atas $104 per barel, memicu kenaikan harga bensin dan barang pokok di seluruh dunia.

Bayangan malaise global, tiba-tiba menggebrak rasio bawahsadar. Seperti “zaman meleset” 1930-an, ketika rakyat HindiaBelanda menyebut depresi ekonomi sebagai “zaman air mata”. Kala itu harga komoditas jatuh, pengangguranmerajalela, dan kemiskinan menjerat hampir setiap lapisanmasyarakat. Kini, wajah baru malaise hadir dalam bentukkonflik geopolitik, krisis energi, dan inflasi global.

Baca Juga: Hoyak Tabuik Piaman 2026 Digelar 16-28 Juni, Pariaman Siapkan Keamanan dan UMKM

Stagflasi: Kerentanan-Rawan

IMF memperkirakan pertumbuhan ekonomi dunia bisamerosot hingga 2,5% tahun ini, dengan risiko stagflasikombinasi inflasi tinggi dan pertumbuhan rendah—yang menghantui. Negeri Nusantara ini, kembali berada di posisirawan. Ketergantungan pada impor energi dan bahan bakumembuat ekonomi domestik mudah terguncang. Nilai tukarrupiah sudah menembus Rp 17.500 per dolar AS per 12 Mei, mengingatkan pada krisis 1998. Rakyat kecil menghadapiancaman kenaikan harga pangan dan energi yang bisamenjerumuskan jutaan orang ke jurang kemiskinan baru.

Meski ada pengokohan diri dan harapan. Misalnya Menteri ESDM Bahlil Lahadalia memastikan Indonesia mendapatkanpasokan minyak mentah dari Rusia untuk memperkuatketahanan energi nasional di tengah gejolak geopolitik global. Minyak mentah tersebut dipastikan akan tiba dalam waktudekat. Kerja sama ini juga mencakup potensi investasi Rusia dalam infrastruktur energi di Indonesia.

Menteri Keuangan Purbaya tetap optimis Indonesia mampubertahan. Purbaya menegaskan fundamental ekonomiIndonesia sangat kuat, memecahkan dampak resesi yang diragukan oleh banyak pihak. Namun optimisme teknokratistidak cukup. Sejarah mengajarkan bahwa krisis bukan sekadarangka, akan tetapi pada saatnya harus diwaspadai bahwa efekglobal yang riskan dihindari serta merta. Jangan sampaimenjelma menjadi penderitaan sosial yang nyata.

Baca Juga: Wali Kota Payakumbuh Tinjau 2 Lokasi Banjir-Longsor, OPD Diminta Bergerak Cepat

Malaise Penderitaan Sosial

Pada masa 1930-an, rakyat Hindia Belanda mengalami PHK massal, penurunan gaji drastis, dan kelaparan. Bung Karno menyebutnya “zaman air mata”. Kini, ancaman serupamungkin mulai hadir dalam bentuk pengangguran akibatperusahaan gulung tikar karena biaya energi tinggi. Kemiskinan meningkat karena harga pangan melonjak. Ketimpangan sosial semakin tajam: kelompok kaya mampubertahan, sementara rakyat kecil terpuruk. Represi politik pun bisa muncul, sebagaimana pemerintah kolonial dulumemperketat kontrol terhadap rakyat.

Namun sejarah juga mencatat daya tahan baru. Di Bandung, industri tekstil kecil tumbuh pesat karena impor barang jadimenurun. Artinya, krisis bisa menjadi momentum membangun kemandirian ekonomi lokal.

Kementerian Perdagangan bahkan meresmikan GASPOL (Gerakan Kamis Pakai Lokal) pada 25 Mei 2025.Tujuannya untuk menghidupkan produk UMKM dan produk domistik. Mengingatkan kampanyeCintailah Produk Indonesia” di ujung Orde Baru.

Baca Juga: Kadis Kominfo Payakumbuh Minta ASN Buat Inovasi Digital untuk Pelayanan Publik

BPS per Mei 2026, mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia Triwulan I-2026 menunjukkan kinerja solid sebesar 5,61% (y-o-y). Industri pengolahan tumbuh 5,04%  Triwulan I-2026, ditopang oleh industri makanan dan minuman, barang logam, komputer, serta alat elektronik.

Filosofi ke Aksi

Kalau malaise jangka panjang benar terjadi, kita tidak cukupmenghadapinya dengan kebijakan teknis. Diperlukan narasifilosofis yang menuntun arah bangsa. Sejarah adalah ujianmoral dan spiritual, bukan sekadar ekonomi.

Kemandirian energi. Indonesia harus mempercepat transisienergi terbarukan. Krisis minyak global menunjukkanrapuhnya ketergantungan pada energi fosil. Investasi pada tenaga surya, angin, dan bioenergi bukan sekadar pilihan, melainkan keharusan.

Baca Juga: Zona Integritas Dinkop UKM Payakumbuh Diperkuat, Targetkan WBK dan Pelayanan Bersih

Revitalisasi ekonomi lokal. Seperti industri tekstil Bandung di masa Malaise, krisis bisa menjadi peluang menghidupkanUMKM. Pemerintah perlu memberi insentif pada produksilokal agar rakyat tidak sepenuhnya bergantung pada impor.

Solidaritas sosial. Gotong royong, inti budaya Indonesia, harus dihidupkan kembali. Bantuan sosial, koperasi, dan jaringan solidaritas rakyat bisa menjadi benteng menghadapibadai ekonomi.

Kebijakan berkeadilan. Pemerintah harus memastikan fiskaldan moneter berpihak pada rakyat kecil. Subsidi pangan dan energi, serta perlindungan buruh, menjadi langkah mendesakagar krisis tidak berubah menjadi tragedi sosial.

Baca Juga: Rendang Payakumbuh Disiapkan Tembus Pasar Ekspor lewat OVOP Go Global

Jalan Kemandirian

Malaise bukan sekadar krisis ekonomi. Ia adalah cerminrapuhnya sistem global yang terlalu bergantung pada kekuasaan dan modal. Bung Karno menyebut masa itu“zaman air mata”, tetapi juga titik balik lahirnya kesadarannasional.

Bung Hatta menegaskan: Krisis bukanlah akhir, melainkankesempatan untuk menata kembali kehidupan bangsa denganlebih adil dan manusiawi.”

Filosofi Jawa mengajarkan urip iku mung mampir ngombehidup hanyalah singgah untuk minum. Artinya, krisishanyalah satu episode dalam perjalanan panjang. Yang penting bukan seberapa besar badai yang datang, melainkanseberapa kuat kapal kita bertahan.

Baca Juga: Dandim 0306/50 Kota Resmi Berganti, Wali Kota Payakumbuh Tekankan Sinergi TNI dan Pemda

Di Minangkabau ada peribahasa: Duduak marawuik ranjau, tagak maninjau jarakwarga tidak boleh apatis, tetapi terusberikhtiar menghadapi situasi. Sejarah tidak pernah sekadarberulang; ia selalu hadir dengan wajah baru. Malaise 1930-an melahirkan penderitaan sekaligus kesadaran nasional.

Tidak seorangpun di antara kita memimpikan Malaise 2026.Akan tetapi kalauhantuitu datang mungkinmelahirkan penderitaan baru, tetapi juga bisa menjadi titikbalik menuju kemandirian. (*)

Editor : Tandri Eka Putra
#kemandirian #sejarah #Shofwan Karim #kesadaran #krisis