Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Kurban, Taqwa dan Akhlak Asmaul Husna

Adriyanto Syafril • Selasa, 26 Mei 2026 | 08:40 WIB
Ilustrasi.
Ilustrasi.

Penulis : Arrizal - Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Andalas, Padang

Menteri Agama Republik Indonesia Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA telah menetapkan berdasarkan hisab dan rukyatul hilal di Indonesia bahwa Hari Raya Idul Adha 10 Zulhijjah 1447 Hijriyah jatuh pada hari Rabu 27 Mei 2026 Masehi. Hari Raya Idul Adha memiliki banyak nama khas yaitu Hari Raya Haji dan Hari Raya Kurban. Pada Hari Raya Kurban, umat Islam menyembelih hewan kurban. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, kamu pasti tidak akan mampu menghitungnya (Al Quran Surat An-Nahl ayat 18). Sesungguhnya Allah telah memberi kamu nikmat yang banyak, maka dirikanlah shalat karena Allah dan sembelihlah hewan kurban (Al Quran Surat Al-Kausar ayat 1-2). Siapa yang mempunyai kemampuan keuangan tetapi dia tidak menyembelih hewan kurban, maka janganlah dia menghampiri tempat shalat kami (Hadis Nabi Muhammad riwayat Ahmad dan Ibnu Majah). Mazhab Syafii, mazhab Maliki, dan mazhab Hambali berpendapat bahwa hukum berkurban bagi umat Islam adalah sunnah muakkad (sangat dianjurkan). Mazhab Hanafi berpendapat bahwa hukum berkurban bagi umat Islam adalah wajib. 

Tujuan Kurban untuk menjadi Orang Bertaqwa  

Tujuan kurban adalah untuk menjadi orang bertaqwa. Informasi ini dikatakan Allah dalam Al Quran surat Al-Haji ayat 37 yang berbunyi, “Daging hewan kurban dan darahnya itu sekali-kali tidak sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada Allah adalah taqwa kamu”. Allah dalam Al Quran surat Al-Haji ayat 37 mengatakan bahwa tujuan kurban adalah untuk menjadi orang bertaqwa. Orang bertaqwa adalah orang berakhlak asmaul husna. Jawaban ini didasarkan pada dua hadis Nabi Muhammad yaitu, “Sesungguhnya aku diutus untuk memperbaiki akhlak manusia” (Hadis Nabi Muhammad riwayat HR. Ahmad) dan “Berakhlaklah kamu manusia dengan akhlak Allah” (Hadis Nabi Muhammad riwayat Al-Baihaqi dari Abu Hurairah). Akhlak Allah berjumlah 99 yang disebut asmaul husna. Orang bertaqwa adalah orang berakhlak asmaul husna. Orang bertaqwa atau orang berakhlak asmaul husna adalah orang berakhlak dengan 99 akhlak Allah (asmaul husna). Orang beriman yang mengerjakan kurban bercita-cita ingin menjadi orang bertaqwa atau orang berakhlak asmaul husna, maka wajib mencontoh 99 akhlak Allah (asmaul husna) itu sesuai dengan kemampuan sebagai manusia. Berdasarkan analisis asmaul husna ini, maka dapat diketahui bahwa tujuan kurban untuk menjadi orang bertaqwa itu pada hakekatnya adalah untuk menjadi orang berakhlak asmaul husna. Tujuan kurban adalah untuk menjadi orang berakhlak asmaul husna. Dengan kalimat lain, tujuan kurban adalah untuk menjadi orang yang mencontoh 99 akhlak Allah (asmaul husna).

Apakah akhlak Allah yang dicontoh oleh orang berkurban? Ada dua akhlak Allah yang dicontoh oleh orang berkurban. Pertama, orang berkurban mencontoh akhlak Allah yang memberi makan. Allah memberi makan dan Allah tidak makan (Al Quran Surat Al-Anam ayat 14). Dengan demikian orang berkurban yang memberi makan protein daging hewan kurban itu pada hakekatnya mencontoh akhlak Allah yang memberi makan. Orang bertaqwa adalah orang memberi makan. Kedua, orang berkurban mencontoh akhlak Allah yang Maha Pembalas Budi atau Maha Menerima Syukur atau Maha Mensyukuri (As-Syakur). Agar Allah menyempurnakan pahala mereka dan menambah karunia-Nya. Sungguh, Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri (Al-Quran Surat Al-Fatir ayat 30).

Dengan demikian orang berkurban yang menyembelih hewan kurban itu pada hakekatnya mencontoh akhlak Allah yang Maha Pembalas Budi atau Maha Menerima Syukur atau Maha Mensyukuri (As-Syakur). Orang bertaqwa adalah orang bersyukur kepada Allah.

Orang berkurban tidak hanya wajib mencontoh dua akhlak Allah saja, tetapi orang berkurban juga wajib mencontoh 99 akhlak Allah (asmaul husna). Orang berkurban yang akan menjadi orang bertaqwa atau orang berakhlak asmaul husna adalah orang berkurban yang mencontoh 99 akhlak Allah (asmaul husna).

Orang berkurban yang hanya mencontoh dua akhlak Allah saja yaitu memberi makan protein daging hewan kurban dan menyembelih hewan kurban saja, maka orang berkurban itu akan gagal menjadi orang bertaqwa atau orang berakhlak asmaul husna. Apakah penyebab orang berkurban itu gagal menjadi orang bertaqwa atau orang berakhlak asmaul husna? Jawabannya adalah karena orang berkurban itu tidak mencontoh 99 akhlak Allah (asmaul husna), dan orang berkurban itu hanya mencontoh dua akhlak Allah saja yaitu memberi makan protein daging hewan kurban dan menyembelih hewan kurban saja.

Enam Contoh Akhlak Asmaul Husna

Orang bertaqwa adalah orang berakhlak asmaul husna. Ada enam contoh akhlak asmaul husna dari 99 akhlak asmaul husna. Pertama, Allah bersifat Maha Pemaaf (Al-Afuwwu). Agar menjadi orang bertaqwa atau orang berakhlak asmaul husna, maka orang berkurban wajib mencontoh akhlak Allah yang Maha Pemaaf (Al-Afuwwu) dengan memberikan maaf kepada manusia. Orang bertaqwa adalah orang pemaaf. Kedua, Allah bersifat Maha Mencipta atau Maha Bekerja (Al-Khaliq). Seluruh makhluk yang ada di langit dan di bumi meminta kepada Allah. Setiap hari Allah bekerja (Al-Quran Surat Arrahman ayat 29). Agar menjadi orang bertaqwa atau orang berakhlak asmaul husna, maka orang berkurban wajib mencontoh akhlak Allah yang Maha Mencipta atau Maha Bekerja (Al-Khaliq) dengan setiap hari bekerja. Orang bertaqwa adalah orang bekerja. Ketiga, Allah bersifat Maha Penyabar (Ash-Shabuuru). Agar menjadi orang bertaqwa atau orang berakhlak asmaul husna, maka orang berkurban wajib mencontoh akhlak Allah yang Maha Penyabar (Ash-Shabuuru) dengan berperilaku sabar. Orang bertaqwa adalah orang sabar. Keempat, Allah bersifat Maha Kaya (Al-Ghaniiyyu). Agar menjadi orang bertaqwa atau orang berakhlak asmaul husna, maka orang berkurban wajib mencontoh akhlak Allah yang Maha Kaya (Al-Ghaniiyyu) dengan rajin bekerja dan rajin menuntut ilmu agar menjadi orang kaya. Orang bertaqwa adalah orang kaya. Kelima, Allah bersifat Maha Mengetahui atau Maha Berilmu (Al-Alimu). Agar menjadi orang bertaqwa atau orang berakhlak asmaul husna, maka orang berkurban wajib mencontoh akhlak Allah yang Maha Mengetahui atau Maha Berilmu (Al-Alimu) dengan rajin menuntut ilmu agar menjadi orang berilmu. Orang bertaqwa adalah orang berilmu. Keenam, Allah bersifat Maha Dermawan (Al-Barru). Agar menjadi orang bertaqwa atau orang berakhlak asmaul husna, maka orang berkurban wajib mencontoh akhlak Allah yang Maha Dermawan (Al-Barru) dengan memberi derma. Orang bertaqwa adalah orang dermawan. Demikian enam contoh akhlak asmaul husna orang bertaqwa. Dengan demikian untuk menjadi orang bertaqwa atau orang berakhlak asmaul husna, maka orang berkurban wajib mencontoh 99 akhlak Allah (asmaul husna) sesuai dengan kemampuan sebagai manusia.

 

Manfaat Orang Berkurban 

Al Quran surat Al-Haji ayat 37 mengatakan bahwa tujuan kurban adalah untuk menjadi orang bertaqwa. Apakah manfaat orang berkurban menjadi orang bertaqwa? Ada tujuh manfaat orang berkurban menjadi orang bertaqwa. Pertama, siapa yang bertaqwa kepada Allah, Allah pasti akan membukakan jalan keluar baginya (Al-Quran Surat Ath-Thalaq ayat 2). Kedua, Kami selamatkan orang-orang beriman dan orang-orang bertaqwa (Al Quran Surat An-Naml ayat 53). Ketiga, sekiranya penduduk suatu negeri beriman dan bertaqwa, Kami pasti akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi (Al-Quran Surat Al-Akraf ayat 96). Keempat, sungguh, orang yang paling mulia adalah orang yang paling bertaqwa (Al Quran Surat Al-Hujarat ayat 13). Kelima, sungguh, orang-orang yang bertaqwa mendapat kemenangan (Al-Quran Surat An-Naba ayat 31). Keenam, sungguh, bagi orang-orang bertaqwa disediakan surga yang penuh kenikmatan (Al Quran Surat Al Qalam ayat 34). Ketujuh, Wahai orang-orang yang beriman! Bertaqwalah kepada Allah dan carilah jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah dan bersungguh-sungguhlah pada jalan Allah semoga kamu menjadi orang beruntung (Al Quran Surat Al-Maidah ayat 35). (*)

Editor : Adriyanto Syafril
#hari raya kurban #hari raya idul adha