Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Guru Bukan sekadar Pengajar

Adriyanto Syafril • Selasa, 23 Juni 2026 | 07:20 WIB
Ilustrasi.
Ilustrasi.

Penulis : Kayla Assyfha dkk - Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Negeri Padang

Di tengah arus deras digitalisasi pendidikan, muncul kekhawatiran serius: apakah guru masih menjalankan fungsinya sebagai pembentuk karakter, ataukah telah tereduksi hanya menjadi penyampai materi di depan layar?

Sebuah kajian terbaru dari Departemen Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Negeri Padang (UNP) mengangkat pentingnya bimbingan guru dalam proses pem­bentukan karakter peserta didik, khususnya di jenjang se­kolah dasar (SD).

Kajian yang disusun oleh tim mahasiswa PGSD UNP ini menegaskan bahwa sekolah dasar merupakan fase emas (golden age) pembentukan kepribadian anak. Anak usia 6 hingga 12 tahun berada pada tahap perkembangan yang sangat mudah dibentuk oleh lingkungan sekitarnya, termasuk oleh keteladanan guru di kelas.

“Guru tidak hanya berfungsi sebagai penyampai materi, tetapi juga sebagai pembimbing, pengarah, sekaligus teladan bagi peserta didik dalam kehidupan sehari-hari.”

Apa Itu Pendidikan Karakter?

Karakter, secara etimologis berasal dari kata Yunani kharakter, berarti tanda atau ciri khas yang membedakan satu individu dengan individu lainnya. Dalam dunia pendidikan, pembentukan karakter mencakup dimensi moral reasoning (penalaran moral), moral feeling (perasaan moral), dan moral behavior (perilaku moral). Ketiga dimensi ini harus berjalan beriringan agar proses pendidikan menghasilkan pribadi yang utuh.

Thomas Lickona, pakar pendidikan karakter, menyebutkan bahwa karakter yang baik mencakup tiga elemen: mengetahui yang baik, menginginkan yang baik, dan me­lakukan yang baik. Dengan kata lain, pendidikan karakter bukan sekadar ceramah nilai-nilai, melainkan proses internalisasi yang menyentuh pikiran, hati, dan tindakan peserta didik.

Pemerintah Indonesia sendiri telah lama menaruh perhatian terhadap isu ini. Sejak Gerakan Nasional Pendidikan Karakter Bangsa tahun 2010 hingga program Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) yang diluncurkan pada 2016, upaya sistematis untuk menanamkan karakter di lingkungan sekolah terus digalakkan.

Guru: Lima Peran Sekaligus

Kajian ini mengidentifikasi lima peran utama guru dalam pem­bentukan karakter peserta didik: Pertama, sebagai Pendidik. Guru bertanggung jawab membentuk kepribadian siswa melalui keteladanan dan pembiasaan. Si­kap disiplin, tanggung jawab, jujur, dan peduli lingkungan yang ditunjukkan guru setiap hari menjadi referensi moral bagi siswa.

Kedua, sebagai Demonstrator. Guru tidak hanya menjelaskan ni­lai-nilai secara teori, tetapi juga memperagakan langsung sikap dan tindakan yang mencerminkan nilai karakter, termasuk memberikan apresiasi atas perilaku positif siswa.

Ketiga, sebagai Pengelola Kelas. Dengan menciptakan ling­kungan belajar yang kondusif dan tertib, guru mendukung terbentuknya sikap disiplin, kerja sama, dan tanggung jawab pada diri sis­wa. Keempat, sebagai Motivator.

Guru memberikan dorongan me­lalui kata-kata positif, penghargaan, dan variasi kegiatan pembelajaran yang menarik agar siswa aktif dan tidak mudah menyerah. Kelima, sebagai Evaluator. 

Guru menilai tidak hanya aspek kognitif, tetapi juga sikap dan perilaku sis­wa, lalu memberikan umpan balik yang membantu perbaikan karakter secara berkelanjutan. “Kurangnya bimbingan guru dapat me­micu hilangnya rasa kepedulian, rendahnya etika bergaul, hingga penyalahgunaan media sosial di kalangan pelajar.”

Bahaya jika Bimbingan Terabaikan 

Kajian ini juga memotret dampak serius ketika bimbingan guru absen atau tidak optimal. Setidaknya tujuh dampak negatif teridentifikasi: hilangnya rasa kepedulian terhadap sesama; kurangnya sikap menghargai dan toleransi; tidak menaatinya aturan yang berlaku; rendahnya etika moral dalam pergaulan; minimnya penanaman nilai-nilai dasar; penyalahgunaan media sosial; serta merosotnya prestasi akademik.

“Ketika nilai-nilai dasar seperti kejujuran, tanggung jawab, dan toleransi tidak ditanamkan secara konsisten di lingkungan sekolah, peserta didik tumbuh tanpa landasan moral yang kuat,” tulis para penulis kajian, mengutip penelitian Syarif (2025).

Perilaku negatif pun muncul sejak usia sekolah, mulai dari ke­tidakjujuran, sikap individualistis, hingga rendahnya kepedulian sosial. Di era digital, tantangan ini semakin kompleks.

Penggunaan media sosial tanpa pemahaman etika membuat sebagian siswa dengan mudah me­nyebarkan hoaks, ujaran kebencian, bahkan melanggar pri­vasi orang lain. Kondisi ini, menurut kajian, mencerminkan krisis moral yang mendesak untuk ditangani melalui penguatan pendidikan karakter.

Tujuh Penghambat Pendidikan Karakter

Kajian mengidentifikasi tujuh faktor yang menghambat implementasi pendidikan karakter di sekolah dasar: (1) Pola asuh keluarga yang kurang mendukung; (2) Kondisi ekonomi keluarga yang tidak stabil; (3) Kecukupan gizi yang memengaruhi perkembangan otak anak; (4) Lingkungan sekolah yang tidak kondusif secara moral; (5) Pengaruh negatif teman sebaya; (6) Budaya dan kebiasaan masyarakat yang bertentangan dengan nilai karakter positif; serta (7) Perkembangan teknologi digital yang tidak disertai literasi etika memadai.

Faktor lingkungan sekolah mendapat sorotan khusus. Guru yang terlalu otoriter membuat siswa tidak terbuka, sementara guru yang acuh terhadap kesalahan siswa justru merusak hu­bungan interpersonal yang seharusnya menjadi ruang pembentukan karakter. Pendekatan humanis, menurut kajian ini, menjadi kunci agar penanaman nilai dapat berjalan efektif.

Solusi: Tujuh Strategi Konkret

Untuk mengatasi tantangan tersebut, kajian ini merekomendasikan tujuh strategi: mengembangkan pedoman pendidikan karakter yang jelas; menyatukan visi antara guru, orang tua, dan pembuat kebijakan; menjadikan pendidikan karakter bagian integral kurikulum; me­ngembangkan kerangka komprehensif yang memandu seluruh kelas dan sekolah; memberikan pengembangan profesional berkelanjutan bagi guru; melibatkan orang tua dan ma­syarakat secara aktif; serta mengevaluasi kemajuan secara berkala.

“Sekolah perlu menyadari pentingnya pendidikan karakter dan mem­prioritaskannya,” simpul kajian, mengacu pada Ningsih dkk. (2023). “Hal ini dapat dilakukan dengan memasukkan pendidikan karakter ke dalam misi dan nilai-nilai se­kolah serta memastikan bahwa itu tercermin dalam kebijakan, praktik, dan kegiatan sekolah.”

Pendidikan Seutuhnya

Kesimpulan kajian ini tegas: pendidikan di sekolah dasar tidak boleh hanya berfokus pada pencapaian akademik. Guru, sekolah, orang tua, dan masyarakat harus bekerja bersama membentuk peserta didik yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga berkarakter kuat, berakhlak mulia, dan siap menghadapi tantangan era modern.

Kajian ini disusun sebagai tugas mata kuliah Seminar Ke-SD-an di bawah bimbingan Dr. M. Habibi, M.Pd., dan menjadi pengingat bagi seluruh pemangku pendidikan: bahwa di balik setiap generasi yang berkarakter, ada guru yang tak lelah membimbing. (*)

Editor : Adriyanto Syafril
#PGSD UNP #siswa sekolah dasar #pendidikan karakter #peran guru #Digitalisasi Pendidikan