Penulis : Intan Alisya Az-Zahra dkk - Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Negeri Padang
Di sebuah kelas satu sekolah dasar, seorang anak diminta membaca kalimat pendek di papan tulis. Ia diam. Matanya menelusuri huruf-huruf itu seperti melihat peta negeri asing.
Di tangan kanannya, bekas sidik jari layar sentuh masih tercetak. Anak ini bisa menggeser aplikasi game dengan lincah, namun tak mampu menyebut bunyi huruf “b”.
Gambaran ini bukan fiksi. Ini adalah kenyataan yang ditemukan di ruang-ruang kelas rendah sekolah dasar kita hari ini.
Kemampuan membaca permulaan — yang semestinya dikuasai sejak kelas satu dan dua — masih menjadi batu sandungan bagi sebagian besar siswa.
Mereka datang ke sekolah, duduk di bangku, namun pulang tanpa membawa kemampuan paling dasar yang dibutuhkan untuk belajar.
Masalah ini bukan baru. Laporan demi laporan mengkonfirmasi bahwa literasi membaca siswa Indonesia tertinggal di berbagai penilaian internasional.
Namun anehnya, kepanikan itu selalu mereda setelah sepekan headline surat kabar, lalu kita kembali menjalani rutinitas kelas yang sama: guru berceramah, siswa mendengar, buku ditutup, lonceng berbunyi.
Ada tiga aktor yang kerap luput dari koreksi. Pertama, metode mengajar. Banyak guru masih mengandalkan cara-cara konvensional — menyuruh siswa membaca bergiliran dengan nada monoton, tanpa kartu huruf, tanpa gambar, tanpa permainan.
Padahal anak usia enam hingga delapan tahun belajar dengan seluruh tubuhnya: melalui warna, suara, sentuhan, dan cerita. Metode yang tidak menyentuh minat anak hanya akan menghasilkan siswa yang duduk diam namun pikirannya sedang berlayar ke tempat lain.
Kedua, rumah yang sunyi dari buku. Banyak orang tua menyerahkan sepenuhnya tanggung jawab membaca kepada sekolah. Padahal riset konsisten menunjukkan bahwa anak yang dibiasakan membaca di rumah — meski hanya cerita bergambar pendek sebelum tidur — menunjukkan perkembangan literasi yang jauh lebih pesat.
Ketika rumah hanya menawarkan layar, dan sekolah hanya menawarkan papan tulis, anak tumbuh di antara dua kutub yang sama dinginnya terhadap budaya baca.
Ketiga — dan ini yang paling jarang dibicarakan — adalah soal waktu dan kesabaran. Tidak semua anak belajar membaca dalam kecepatan yang sama. Ada yang membutuhkan pendampingan lebih lama untuk membedakan huruf “b” dan “d”, atau “p” dan “q”.
Kelas yang padat dengan satu guru dan tiga puluh murid hampir mustahil memberikan perhatian individual yang memadai. Akibatnya, anak-anak yang membutuhkan waktu lebih lama akan terus tertinggal, lalu diberi cap “lambat”, dan pelan-pelan kehilangan kepercayaan diri untuk membaca sama sekali.
Dampaknya tidak berhenti di nilai rapor. Anak yang belum lancar membaca akan kesulitan di semua mata pelajaran — matematika pun butuh kemampuan membaca soal. Lebih jauh, anak yang tumbuh tanpa kemampuan literasi yang kuat cenderung mengalami keterbatasan dalam mengakses pendidikan tinggi dan pekerjaan layak.
Ini bukan soal satu anak yang gagal mengeja; ini soal lingkaran kemiskinan yang terus berputar karena kita gagal memutusnya di awal.
Solusinya tidak selalu mahal atau rumit. Media sederhana seperti kartu huruf dan buku cerita bergambar sudah terbukti efektif mengenalkan huruf kepada anak. Pojok baca di sudut kelas — dengan koleksi buku yang diperbarui berkala — menciptakan budaya literasi yang bisa menular dari anak ke anak.
Model pembelajaran kooperatif memungkinkan siswa yang lebih cepat membantu temannya yang lebih lambat, sehingga guru tidak harus memikul segalanya sendirian.
Yang dibutuhkan bukan revolusi kurikulum baru. Yang dibutuhkan adalah kehendak bersama: guru yang mau repot sedikit menciptakan pembelajaran menyenangkan, orang tua yang mau meluangkan sepuluh menit sebelum tidur untuk membacakan cerita, dan sekolah yang mau memprioritaskan literasi dasar di atas hafalan tanggal sejarah. Karena anak yang bisa membaca dengan baik tidak hanya akan lulus ujian — ia akan mampu membaca dunia, dan memilih jalannya sendiri di dalamnya. (*)
Editor : Adriyanto Syafril