Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Mampukah Indonesia Memproduksi Gandum Sendiri?

Novitri Selvia • Jumat, 4 September 2020 | 09:21 WIB
ilustrasi. (jawapos.com)
ilustrasi. (jawapos.com)
Indra Dwipa
Dosen Tanaman Pangan Fakultas Pertanian Unand

Rabu (15/8) lalu, menjadi hari penting bagi penulis karena ditunjuk jadi moderator dalam webinar bertema ”Kupas Tuntas Potensi dan Tantangan Pengembangan Gandum Indonesia” dihelat Perhimpunan Agronomi Indonesia (Peragi) Komisariat Daerah Sumbar. Dan, penulis dipercaya menjadi ketua Peragi Komda Sumbar hingga tahun 2021.

Mengapa tema ini begitu penting? Rasa miris ini muncul ketika kita melihat hampir semua makanan yang dikonsumsi baik mi instan, roti, ayam goreng tepung (fried chicken), makanan cepat saji, jajajan di pinggir jalan (street food) seperti gorengan, mi ayam, siomay, serta termasuk fenomena menjelang Hari Raya Idul Fitri atau Lebaran, di mana ibu-ibu sudah siap dengan semua bahan untuk membuat kue untuk Lebaran.

Semuanya pasti berbahan baku tepung terigu. Banyak dari kita yang tidak tahu bahwa tepung terigu merupakan produk turunan dari tanaman gandum, tanaman yang bukan berasal dari negara kita. Gandum tidak tergantikan sebagai bahan baku tepung terigu, karena memiliki kandungan gluten yang memberikan daya kembang adonan. Gluten ini hanya terkandung pada tanaman gandum dan barley.

Namun, ironi yang terjadi sampai saat ini adalah bahan baku pembuatan tepung terigu masih kita impor dari negara-negara penghasil gandum antara lain, Australia, Amerika Serikat, Kanada, Argentina, Ukraina, Rusia dan Perancis. Bahkan, 60% kebutuhan gandum negara kita dipasok dari negara tetangga kita, Australia. Menurut catatan sejarah, Indonesia pertama kali mengimpor gandum secara resmi pada tahun 1969.

Di tahun tersebut, Amerika Serikat (AS) memperkenalkan paket kerja sama ekonomi di bawah Public Law 480 (PL 480) berisi perpanjangan kerja sama bantuan makanan kemanusiaan berbentuk tepung terigu, atau gandum ke Indonesia. Namun, kebijakan tersebut berhenti tidak lama setelahnya, dan sialnya masyarakat Indonesia sudah jatuh cinta terhadap tanaman ini. Data BPS tahun 2019 menunjukkan bahwa konsumsi gandum per kapita penduduk Indonesia adalah 30,5 kg/ tahun.

Sebagai perbandingan, makanan pangan pokok penduduk Indonesia yaitu beras, konsumsi penduduk Indoensia per kapita sebesar 27 kg/tahun. Rata-rata petumbuhan konsumsi gandum per kapita penduduk Indonesia dari tahun 2014-2019 sebesar 19,92%. Hal ini tentu sangat mengkhawatirkan, karena gandum yang kita konsumsi 100% merupakan impor. Tahun 2010, impor gandum Indonesia sebesar 6,2 juta ton, sedangkan tahun 2019 jumlah impor gandum Indonesia 13,49 juta ton. Atau, hanya kurun waktu 10 tahun ini terjadi peningkatan sebesar 120%.

Hal ini disebabkan konsumsi gandum selalu meningkat, dan kita tidak mampu memproduksi gandum sendiri. Dan tahun 2019 lalu, Indonesia resmi menjadi negara pengimpor gandum terbesar di dunia mengalahkan Mesir. Total anggaran yang dibutuhkan untuk mengimpor gandum sebanyak ini mencapai 1,6 milliar US Dollar atau Rp 23,2 trilliun ($1 = Rp 14.500) guna mendatangkan tanaman asli sub tropis ini ke Indonesia. Kita bisa membayangkan, berapa banyak uang negara ini yang keluar negeri hanya untuk mengimpor gandum saja.

Sebagai bangsa yang besar, kita tidak ingin terus tergantung terhadap negara lain dalam impor gandum. Ketergantungan kita akan impor gandum menyebabkan negara kita akan terus didikte dalam hal harga, karena kita tidak memiliki posisi tawar dalam hal ini.

Gandum sejatinya bukan tanaman asli daerah tropis, namun bukan berarti gandum tidak bisa ditanam di daerah tropis. Banyak tanaman yang sejatinya bukan berasal dari daerah kita, namun bisa tumbuh dan berkembang dengan baik di daerah tropis. Sebut saja, tanaman kubis-kubisan dan sayuran lainnya.

Memang banyak sekali tantangan harus dihadapi agar tanaman ini bisa tumbuh dan menghasilkan di zona yang perbedaan siang dan malam hampir sama. Keterbatasan luas dataran tinggi salah satu kendala yang dihadapi dalam pengembangan gandum daerah tropis. Selain keterbatasan luas dataran tinggi, kendala lainnya berupa kesiapan bangsa ini pada teknologi processing tanaman gandum yang belum sepenuhnya dikuasai pemerintah maupun petani.

Namun sebagai makhluk hidup yang diberikan kelebihan oleh Tuhan, manusia sejak zaman dulu selalu bisa mengatasi semua kendala yang dihadapi. Sama halnya soal tanaman gandum ini, sedikit demi sedikit kita bisa melihat secercah harapan akan adanya gandum tropis. Telah banyak penelitian tentang gandum di daerah tropis. Salah satu universitas besar di Indonesia, Universitas Andalas (Unand) memiliki kesempatan mempelajari gandum tropis. Bekerja sama dengan Pemerintah Slovakia, Unand mengembangkan tanaman gandum di daerah Alahanpanjang, Kabupaten Solok, Sumbar.

Selain Unand, semangat untuk memiliki tanaman gandum tropis juga datang dari tanah Jawa tepatya Universitas Kristen Setya Wacana di Salatiga, Jawa Tengah. Mereka sudah berhasil menghasilkan galur gandum tropis, dan tanaman tersebut sudah bisa menghasilkan gandum sebesar 2 ton/ ha. Selain itu, pesatnya perkembangan teknologi dalam bidang pertanian juga bisa mendukung hadirnya gandum tropis kita. Saat ini, banyak tanaman hasil produk rekayasa genetika (genetic engineering). Banyak contoh keberhasilan rekayasa genetika ini, salah satunya tanaman golden rice.

Pemerintah berperan peran penting agar kita bisa menghasilkan gandum sendiri. Bisa dikatakan, pemerintah memainkan peran utama dalam mencapai tujuan tersebut. Pemerintah memiliki wewenang untuk mengeluarkan suatu kebijakan di negara ini. Pemerintah seharusnya juga menyadari bahwa saat ini kondisi Indonesia sudah sangat tergantung terhadap impor gandum. Ketergantungan ini bisa berakibat fatal jika tidak ada langkah konret yang diambil, karena ini akan selalu menyedot APBN dalam jumlah besar.

Kita mempunyai banyak potensi dan sumber daya dengan beberapa hasil penelitian yang telah dilakukan. Selain itu, Indonesia juga memiliki Balai Penelitian Tanaman Serealia (Balitsereal). Kita sudah mengetahui bersama bahwa Balitsereal juga sudah mengeluarkan beberapa varietas gandum yaitu, Nias, Selayar, Dewata, Guri 1, Guri 2, Guri 3, Guri 4, Guri 5 dan Guri 6 Agritan. Mengapa kita tidak memanfaatkan semua potensi ini.

Makanya, pemerintah dengan wewenangnya bisa mengajak semua pihak pemangku kepentingan (stakeholders) duduk bersama guna membuat sebuah perencanaan peta jalan (road map) pengembangan gandum ke depannya. Jika kita tidak mampu secara keselurahan menghentikan impor gandum, setidaknya kita bisa menghentikan impor sebesar 20-30%. Nothing is impossible. Tanaman hortikultura lain kita bisa kembangkan dan berproduksi dengan baik di negara kita yang beriklim tropis ini, mengapa gandum tidak? (*) Editor : Novitri Selvia
#gandum #produksi #indonesia