Dosen Jurusan Biologi FMIPA Unand/Ketua Perhimpunan Entomologi Indonesia Cabang Padang
Lebah adalah salah satu dari beberapa serangga yang dikenal sangat berperan dalam proses penyerbukan di alam. Serangga yang tergolong pada ordo Hymenopptera atau serangga dengan sayap seperti selaput ini, selain dikenal dunia sebagai penyerbuk yang paling efektif, juga memiliki nilai ekonomi tinggi karena beberapa produk dari kehidupan berkoloninya sebagai serangga sosial seperti madu, propolis dan bee polen diketahui memiliki potensi besar bagi dunia kesehatan dan kecantikan, bahkan belakangan ini juga menjadi daya tarik yang kuat dalam kegiatan ekoeduwisata pada beberapa daerah di Indonesia.
Kesadaran masyarakat yang meningkat untuk selalu menjaga kebugaran dan ketahanan tubuh agar dapat bertahan dari berbagai penyakit termasuk serangan Covid-19 yang tengah terus bermutasi telah menyebabkan tingginya nilai konsumsi masyarakat akan produk lebah terutama madu dan propolisnya.
Madu lebah adalah cairan yang dihasilkan lebah dari olahan bermacam nektar tumbuhan berbunga dan telah dikenal luas amat kaya nutrisi. Madu telah dimaanfaatkan sejak zaman
dahulu kala oleh bangsa Arab, Romawi dan Cina untuk proses penyembuhan luka, berbagai penyakit pencernaan, tenggorokan dan telinga.
Madu banyak dikupas dalam pengobatan Thibbun Nabawi atau pengobatan ala Nabi (merupakan perkataan, pengajaran dan tindakan Rasulullah yang berkaitan dengan dengan kesehatan maupun pengobatan). Komponen utama madu sendiri, antara lain adalah glukosa, fruktosa, flavonoid, polypgenol dan asam-asam organic sehingga menjadi berpotensi sebagai obat atau makanan berenergi sangat baik.
Madu tak hanya dihasilkan oleh lebah bersengat tetapi juga madu lebah tak bersengat
yang telah semakin populer untuk diternakkan selama beberapa tahun belakangan ini, terutama sejak peternakan lebah tanpa sengat mulai bisa dilakukan di area pemukiman
masyarakat (domestikasi) dengan membuatkan kotak khusus, sehingga memudahkan dalam proses pemeliharaan dan memanen madu maupun propolis dan bee polennya.
Secara ilmiah, lebah dikelompokkan ke dalam famili Apidae, subfamily Apinae, disumbar di sebut lebah, ukuran sedang hingga besar, jika merasa terganggu, akan menusukkan sengat, sedangkan lebah tanpa sengat tergolong pada family Apidae, subfamili Meliponinae, di Sumatra Barat disebut galo-galo, ukurannya lebih kecil hingga sangat kecil, jika merasa terancam akan menggigit dan tak berbahaya gigitannya.
Tipe madu yang dikonsumsi di Sumatera Barat antara lain adalah yang dikumpulkan dari lebah madu yang bersarang pada pohon-pohon besar tertentu di hutan, dikenal juga sebagai Madu Sialang (Apis dorsata) atau madu dari lebah yang diternakkan (umumnya jenis Apis cerana).
Sementara itu, lebah tanpa sengat atau di Sumatera Barat disebut galo-galo (di Jawa disebut kelenceng atau kelulut, di Malaysia juga disebut kelulut) saat ini semakin naik pamor, karena selain mampu menghasilkan madu dengan berbagai khasiat seperti anti bakteri, anti imflamasi dan lain sebagainya juga menghasilkan propolis dan bee pollen/ bee bread.
Propolis merupakan bagian dari struktur sarang lebah tanpa sengat, berupa olahan lebah dari getah dan resin tumbuhan yang dipergunakan untuk membangun sarang. Propolis sering juga disebut lem lebah karena jika disentuh akan terasa lengket dan bisa merekatkan.
Pasupuleti dkk yang merangkum informasi mengenai propolis dari berbagai sumber ilmiah pada tahun 2017 menemukan bahwa propolis dapat berperan sebagai antiseptik, anti-inflamasi, antri bakteri, antioksidan, anti kanker, menyembuhkan tukak lambung dan
membantu penguatan imun tubuh.
Bee bread sendiri, merupakan kumpulan serbuk sari bunga yang dikumpulkan galo-galo dari berbagai tumbuhan pakan yang dikunjunginya, dibawa ke sarang dan disimpan ke dalam wadah tersendiri di dalam sarang sebagai pakan utama bagi lebah pradewasa dan lebah pekerja.
Bee polen ini juga mempunyai banyak manfaat kesehatan dan kecantikan walaupun masih terus dalam pengkajian menyangkut cara pemanfaatan yang paling aman, mempertimbangkan kemungkinan adanya alergi polen. Saat ini telah ada puluhan peternak lebah di berbagai daerah di Sumatera Barat, baik lebah bersengat maupun tak bersengat seperti di Padang, Solok, Sawahlunto, Sijunjung, Kota Padang Panjang, Bukittinggi, Batu Sangkar Payakumbuh, 50 Kota, Kabupaten Padangpariaman dan Damasraya.
Walaupun peternak lebah di Sumbar ada yang mengkombinasi memelihara lebah bersengat dan galogalo, peternak galo-galo saja lebih banyak jumlahnya karena tak membutuhkan
kepakaran khusus dan tak "seberbahaya” lebah bersengat dalam proses pemeliharaaan.
Dari 46 jenis galo-galo yang telah teridentifikasi di Indonesia oleh Kahono dkk pada 2018,
setengahnya telah dilaporkan ditemukan di Sumatera sejak 1990 oleh Sakagami dan Salmah, atau 24 jenis. Sebanyak 75 % dari lebah Sumatera telah diidentifikasi keberadaanya di Sumatera Barat, tersebar di hutan sekunder dan peternakan lebah yang pernah penulis dan tim kunjungi tahun lalu dalam beberapa kali perjalanan team Ekspedisi Galo-Galo 2019 yang dibersamai juga oleh pakar lebah senior Indonesia, Prof Dr Siti Salmah dan beberapa peneliti lebah dari Universitas Andalas dan STIKES Indonesia seperti Dr Jasmi dan Rusdimansah, MSi serta beberapa mahasiswa dan alumni.
Dari beragamnya jenis galo-galo Sumatera Barat, ada beberapa jenis yang menjadi pilihan favorit para peternak. Pilihan jenis ini biasanya terkait kemampuan koloni untuk menghasilkan madu. Jenis yang galo-galo yang paling-paling digemari masyarakat Sumbar saat ini adalah Heterotrigona itama. Jenis ini berwarna dominan hitam, berukuran sedang dan mampu menghasilkan ratusan ml madu perkoloni setiap bulannya.
Jika peternak menggabungkan hasil panen dari beberapa koloni yang mereka miliki, maka total panen perbulan dapat menjadi beberapa liter, tergantung jumlah koloni yang mereka miliki. Jika satu ml madu galo-galo dihargai Rp 1000, dengan hasil panen 100-300 ml per koloni, peternak telah dapat menghasilkan Rp 300.000 per koloni per bulannya. Jika ada 10 koloni pada tiap peternak, maka dari galo-galo saja, peternak sudah berpenghasilan 1-3 juta. Untuk peternak dengan jumlah koloni lebih banyak, tentu makin tinggi pula pengasilan yang akan diperoleh, biaya rutin pemeliharaan hampir tak ada.
Sehingga peluang beternak galo-galo ini sangat menjanjikan. Jenis lainnya yang juga digemari peternak adalah Geniotrigona thorasica, galo-galo yang berwarna agak kecoklatan dan berukuran lebih besar dari H. itama. Beberapa jenis galo-galo kecil yang dulu sering kita jumpai di perumahan warga adalah galo-galo yang tergolong pada genus Tetragonula, juga bisa dipelihara.
Ukurannya kecil, tapi koloninya banyak di alam serta madunya paling manis rasanya. Selain membutuhkan tumbuhan berbunga sebagai sumber madu, keberadaan pohon atau tumbuhan yang mengandung getah atau resin juga tak kalah pentingnya bagi lebah
dan-galo galo.
Dewasa ini, selain terus memperbanyak koloni, para perternak galo-galo Sumbar juga mulai melirik upaya perbanyakan tumbuhan berbunga, terutama pohon buah dan bunga hias. Penyediaan tumbuhan pakan sebenarnya juga memiliki peluang usaha tersendiri bagi masyarakat. (*) Editor : Novitri Selvia