Pemberontakan Satsuma, salah satu sejarah bangsa Jepang yang melegenda, yang terjadi akibat Restorasi Jepang atau yang dikenal dengan era Meiji atau Restorasi Meiji. Pemberontakan ini terjadi antara polisi/tentara pemerintah/kaisar dengan samurai klan Satsuma. Februari hingga Septermber 1877, Jepang mengalami perang pemberontakan dari rakyat Jepang sendiri.
Pemberontakan ini terjadi tepatnya di Khusyu, Kagoshima-Jepang. Akibat dari perubahan tatanan Restorasi Jepang tersebut, samurai merasa dirugikan dan tidak dihargai lagi keberadaannya. Oleh karena itu, para samurai yang tidak menerima perubahan tersebut, melakukan perlawanan terhadap kaisar yang dikenal dengan “Pemberontakan Satsuma”.
Perubahan Restorasi Jepang oleh pemerintah yang menghapus golongan strata para samurai, pedang kehormatan samurai tidak boleh dipergunakan, hingga gaji para samurai yang dikurangi. Keputusan pemerintah tersebut membawa dampak buruk bagi para samurai. Pertentangan terjadi dari kelompok samurai yang menginginkan tradisionalitas Jepang tetap dipertahankan. Para samurai pengusung tradisionalitas Jepang dan pembela hak-hak para samurai adalah dari kalangan samurai ternama asal klan Satsuma. Karenanya, pemberontakan tersebut dikenal dengan pemberontakan Satsuma yang dipimpin oleh Saigo Takamuri.
Pakar sejarah Mark Ravina mengangkat Pemberontakan ini dalam sebuah bukunya yang berjudul “The Last Samurai: The Life and Battles of Saigo Takamori pada tahun 2004. Kemudian The last Samurai juga menarik perhatian dari sutradara Amerika Edward Zwick, filmnya berjudul “The last Samurai” yang dirilis pada tanggal 20 November 2003 di Tokyo dan 5 Desember di Amerika Serikat.
Menurut Mark Ravina dalam bukunya (2004) mengatakan, dalam bahasa Inggris nama yang paling umum digunakan untuk peperangan ini adalah Pemberontakan Satsuma. Namun, pemberontakan Satsuma bukanlah nama yang baik untuk peperangan ini, karena dalam bahasa Inggrisnya nama tersebut tidak mewakili perang dan nama Jepangnya dengan baik.
Ravina mengatakan ruang lingkup perang lebih jauh dari Satsuma dan mencirikan peristiwa itu lebih dekat dengan perang saudara daripada pemberontakan. Ravina dalam bahasa Inggris lebih menyukai dengan nama War of The Southwest. Menurut Edward Zwick dalam wawancaranya (2004), mengatakan, ia sangat senang dengan penerimaan film di Jepang, dimana hal tersebut telah menjadi suatu fenomena. Hal ini (Pemberontakan Satsuma) telah menjadi sesuatu hal terbesar dalam sejarah Jepang, yang sangat berarti bagi bangsa Jepang. Ia sangat menghormati budaya mereka yang telah menganut budaya tersebut.
Ada banyak bentuk perlawanan oleh samurai Satsuma terhadap pemerintah/kaisar Jepang. Disebutkan dalam sejarahnya, pemberontakan ini terjadi di beberapa tempat yang dikenal dengan pertempuran Kumamoto, pertempuran Tabaruzaka, dan pertempuran Shiroyama. Pertempuran Kumamoto terjadi pada bulan Februari, oleh pasukan Satsuma mengepung kastil Kumamoto. Tentara pemerintahlah yang meraih kemenangan. Karena kekalahan tersebut pasukan Satsuma melakukan penyerangan lagi di Tabaruzaka. Tabaruzaka adalah rute tentara kaisar yang membawa persediaan senjata dan makanan menuju Kumamoto. Pada pertempuran ini pasukan Satsuma juga harus menerima kegagalan melawan tentara pemerintah, yang akhirnya mengharuskan Satsuma kembali ke Shiroyama. Setelah kalah dari pertempuran sebelumnya, samurai Satsuma melakukan pertempuran Shiroyama di Kumamoto. Ini adalah pertempuran terakhir sebelum Saigo memutuskan untuk bunuh diri. Saigo tertempak oleh peluru tentara pemerintah, dan akhirnya Saigo memutuskan melakukan bunuh diri dalam pertempuran ini.
Pasca pemberontakan, Jepang mengalami kerugian yang cukup berdampak saat itu. Kerugian ekonomi, politik, hingga dampaknya terlihat kediplomasi luar negeri. Pemberontakan Satsuma juga secara efektif mengakiri kelas samurai Jepang.
Merujuk dari informasi, dalam kasus ini ada beberapa pendapat tentang awal pemberontakan Satsuma terjadi. Norman dalam bukunya yang berjudul Feudal Background of Japanese Politics menyatakan bahwa pertempuran ini terjadi pada bulan Februari 1877, dimana ketika samurai Satsuma menyerang perbatasan Kaghosima.
Sedangkan menurut John Richman dalam artikelnya Satsuma Rebellion: Satsuma Clan Samurai Against the Imperial Japanese army mengatakan bahwa pertempuran ini terjadi pada bulan maret 1877. Sedangkan yang terjadi dibulan Februari adalah bentrokan fisik dengan tentara pemerintah, tapi tidak melibatkan seluruh pasukan samurai yang dimiliki Saigo Takamuri.
Melalui perkembangan zaman, sejarah pemberontakan Satsuma dapat kita lihat melalui jejak yang ditinggalkan. Seperti kata Moh, Yamin (Dalam Syehnurjati, Hal.3), sejarah merupakan ilmu pengetahuan yang tersusun atas hasil penyelidikan beberapa peristiwa, yang dapat dibuktikan dengan kenyataannya. Bukti nyata dari pemberontakan Satsuma bisa kita jumpai di Jepang saat ini. Diantaranya, Kastil Kumamoto yang berada di Chou-ku, Kumamoto. Museum Tabaruzaka di uekimachitoyooka, Kumamoto. Dan yang terakhir adalah monumen Saigo Takamori di Uenokoen, Tokyo.
Sejak saat itu, sejarah pemberontakan Satsuma menjadi salah satu sejarah yang masih dikenang sampai saat ini. Buktinya, hingga sekarang peninggalannya masih dijaga, dirawat, dan dijadikan wisata di Jepang. Pemberontakan ini dikenal dengan beberapa istilah. Ada yang menyebutnya sebagai perang saudara hingga The Last Samurai. (*) Editor : Hendra Efison