Dies Natalis ke-55 UIN Imam Bonjol: Mencari, Mengumpulkan Arsip Bersejarah

Novitri Selvia • Dipublikasikan Senin, 29 November 2021 | 11:41 WIB
Raichul Amar Alumni/Pensiunan UIN Imam Bonjol Padang
Raichul Amar Alumni/Pensiunan UIN Imam Bonjol Padang
Koran Padang Ekspres Senin 13 September 2021 lalu, kolom Teras Utama membuat tulisan Isril Berd berjudul ”Dirgahayu Universitas Andalas.” Di bawah nama beliau tertulis alumni Unand.

Kemudian penggalan pertama tulisan tersebut adalah: ”Peringatan Hari Ulang Tahun ke-65 dan Lustrum ke-13 Unand jatuh pada 13 September 2021 ini terasa amat spesial, karena 13 hari menjelang peringatan hari jadinya Unand resmi menyandang status Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTN-BH).”

Besoknya, Selasa 14 September 2021, dalam koran dan kolom sama, muncul lagi tulisan: Oentoek Kedjajaan Bangsa oleh Alfan Miko, Dosen Sosiologi FISIP Unand. Penggalan kalimat pertama beliau pada kolom tersebut: ”Piagam Pendirian Unversitas Andalas pada tanggal 13 September 1956 ditandatangani oleh Drs Muhammad Hatta sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia bersama Sarino Mangun Pranoto yang menjadi Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan waktu itu.”

Selanjutnya terbitan 27 Oktober 2021, Marzuki, Dosen Jurusan Fisika, masih di Teras Utama, menulis: ”Berbenah untuk Menjadi PT Berkelas Dunia.” Tulisan Prof Isril, Alfan Miko, dan Marzuki ini, memberikan motivasi khusus terhadap penulis untuk segera kembali menulis, sebagaimana beberapa tahun lalu pernah dilakukan.

Apalagi, mengingat pada 29 November 2021 ini UIN Imam Bonjol juga memasuki Dies ke 55. Sebuah mata rantai sejarah pertumbuhan dan perkembangan perguruan tinggi di Sumbar. Satu sama lain saling berkaitan. Unand 65 tahun, UNP Dies ke-66, Milad UMSB juga 66 tahun, dan UIN Imam Bonjol 55 Tahun.

Satu sama lain seperti hubungan kakak beradik yang saling bersaudara. Yang tua sudah pasti beda pertumbuhan dan perkembangannya dari muda. Untuk sekadar gambaran kuantitatif dari UIN Imam Bonjol Padang, diperoleh data: Jumlah PNS: 539 orang, dosen: 385 orang (guru besar 13 orang), pegawai BLU: 101 orang, dosen tetap bukan PNS:12 orang. Adapun jumlah mahasiswa aktif semester gasal tahun akademik 2021/2022: 14.095 orang.

Sebagaimana diketahui tanggal 29 November 1966, bertepatan dengan 15 Sya’ban 1386 di Gedung Negara Tri Arga Bukittinggi, Menag RI Prof KH Saifuddin Zuhri meresmikan berdirinya IAIN Imam Bonjol. Peresmian itu ditulis pada sebuah piagam yang ditulis dan diukir kaligrafer R Abdullah.

Dalam piagam tersebut pertama-tama dijelaskan bahwa Menag RI menerima secara resmi penyerahan IAIN Sumbar dengan fakultasnya: Tarbiyah di Padang, Syariah di Bukittinggi, Ushuluddin di Padangpanjang dan Adab di Payakumbuh dari Ketum Panitia: Drs Harun al Rasyid Zein.

Di alinea berikutnya tertulis: ”Pada hari ini pula dengan disaksikan oleh saksi saksi di bawah ini kami menyatakan dengan resmi pembukaan IAIN di Sumatera Barat dengan nama: Institut Agama Islam Negeri Al- Jamiah Al- Islamiyah Al-Hukumiyah ”Imam Bonjol.”

Untuk kebutuhan sementara ruangan pimpinan, serta sekretariat rektorat, maka pengurus Masjid Nurul Iman, Jalan Moh Husni Thamrin Padang meminjamkan beberapa ruangan. Sebuah ruangan untuk rektor, pembantu-pembantu rektor, dan sekretaris institut.

Di sebelahnya, terdapat sebuah ruangan besar yang digunakan untuk seluruh personel bagian dari kantor pusat tata usaha. Di sebelahnya, terdapat sebuah ruangan besar untuk keperluan rapat, pertemuan dan wisuda. Dan paling ujung dari Utara masjid, dipinjamkan pula sebuah ruangan besar untuk perpustakaan.

Pembangunan kampus baru dimulai tahun 1969/1970 untuk empat lokal kuliah di lokasi Jalan Sudirman No 15 Padang. Tahapan pembangunan fisik berlanjut tahun 1970/1971, 1971/l972, 1972/1973, 1974/1975.

Pada masa tahun pembangunan 1974/1975 inilah Rektorat mulai pindah (pindah pertama) kantor dari Masjid Nurul Iman ke kampus I Jalan Jenderal Sudirman No 15 Padang. Tahun III Pelita II, baru mulai pula dibangun kampus II di Lubuklintah. Dengan begitu, mulai tahun 1978 baru hanya Fakultas Tarbiyah pindah ke kampus Lubuklintah.

Unit-unit kerja lain, termasuk rektorat masih tetap berada di kampus Jalan Sudirman. September 1997, kantor rektorat mulai pula pindah (pindah kedua) ke kampus II Lubuklintah menempati ruangan pada sebuah bangunan bertingkat dua dekat lapangan basket.

Sedangkan ruangan Sekretariat, menggunakan beberapa lokal kuliah Fakultas Tarbiyah, menjelang selesai bangunan rektorat yang berlokasi sebelah kanan masuk kampus Lubuklintah. Setelah bangunan selesai, rektorat lalu pindah lagi. Berarti ini adalah kepindahan yang ketiga.

30 September 2009 lalu, terjadi gempa dahsyat di Kota Padang. Kantor rektorat, perpustakaan, fakultas, masjid dan aula pun luluh lantak, serta porak poranda. Termasuklah yang luluh lantak dan kacau, berkaitan arsip dan dokumentasi, buku laporan hasil penelitian dosen.

Sebagai aset perguruan tinggi merupakan dokumen dan arsip lembaga, ataupun file kepegawaian, idealnya tidak boleh hilang, berantakan, hancur, atau rusak. Setelah gempa besar 2009 itu, rektorat pindah lagi sementara (pindah keempat) ke sebuah gedung di Fakultas Ushuluddin.

Bangunan rektorat bekas gempa dirobohkan, diganti bangunan baru yang cukup megah seperti terlihat sekarang ini. Berarti dari bangunan kampus Fakultas Ushuluddin, rektorat pindah lagi kebangunan yang direhab berat pascagempa 2009, bila dilanjutkan hitungannya, ini adalah kepindahan yang ke lima.

Bagaimanapun, namanya proses kepindahan itu mungkin ada yang tidak begitu cermat diperhatikan, mungkin tidak terbawa, tercecer, atau tidak memungkinkanterperhatikan secara tuntas dan apalagi teliti dokumentasi, apakah ada yang tinggal atau luput untuk dibawa pindah.

Padahal itu, mungkin sesuatu itu sekilas dianggap tidak begitu perlu. Padahal, sebenarnya adalah sebuah dokumen penting dan mempunyai kandungan nilai kesejarahan luar biasa.
Melalui renungan dan refleksi mensyukuri Dies ke-55 ini, mari kita semua warga kampus membangkitkan kesadaran mencari, memelihara arsip, dan mempelajari dokumen, memikirkan sejenis sentra arsip, museum benda sejarah.

Ini memerlukan kesadaran kolektif dan kolaboratif yang luar biasa dan harus serius, untuk bisa mulai memperhatikan lembar demi lembar arsip arsip yang sudah ada. Betapapun, file demi file perlu dibuka, perlu dibaca, perlu diteliti, perlu diklasifikasi.

Yang juga paling penting adalah mencari arsip lama terlebih lebih dahulu, baru kemudian merancang langkah digitalisasi. Cari dulu album album lama, terutama sebelum gempa 2009, sepertinya masih ada (dan sepertinya cukup banyak juga) yang tertinggal, dan alhamdulillah masih diamankan oleh mahasiswa crew Suara Kampus di ruangan sekretariat mereka (terima kasih anak anakku!).

Yang akan didigitalkan itu, baru sibuk dengan mendigitalkan yang memang sudah di pelupuk mata. Dan dokumen penting dan bersejarah, mungkin ada dan tersuruk. Kita saja yang selama ini tidak ada kepedulian.

Dampak dari sering berpindah itu, sudah jelas berakibat kekacauan arsip dan dokumen. Sudah saatnya kita harus serius membenahi arsip, walau pada unit kerja yang terkecil sekalipun. Apalagi sejak dahulunya, penanggung jawab arsip ini yang berjabatan fungsional arsiparis, pekerjaaan sangat kurang peminatnya.

Sudah sejak lama usulan gerakkan pencarian arsip dan dokumen bersejarah. Pertama, bersama mahasiswa D-3 Prodi Ilmu Perpustakaan Fakultas Adab dan Humaniora UIN Imam Bonjol yang PKL di Perpustakaan Pascasarjana UIN Imam Bonjol Kampus I Jalan Sudirman Padang.

Akhir tahun 2012, pernah diselamatkan naskah asli penegerian Fakultas Tarbiyah IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta cabang Padang, bertanggal 1Oktober 1963, dan kemudian diserahkan ke Dekan Fakultas Tarbiyah dan Kependidikan tanggal 3 Desember 2012. Sekarang naskah asli itu sudah berada di ruangan dekan FTK.

Kedua, secara tertulis tertanggal 27 April 2015 pernah diusulkan untuk persiapan adanya semacam museum/ gallery dukumen dan arsip bersejarah IAIN Imam Bonjol Padang. Ketiga, juga secara tertulis bertanggal 31 Desember 2015 pernah pula diusulkan untuk menyiapkan cikal bakal sejenis museum bersejarah.

Keempat, peringatan 122 tahun Prof Mahmud Yunus tahun 10 Februari 2021, dari kumpulan arsip, foto dan dokumen bersejarah yang sudah dicari dan kumpulkan, serta sudah dibingkai semula akan diresmikan tanggal itu ternyata rencana itu tidak jadi, dan belum jadi sampai tulisan ini disiapkan.

Mudahan-mudahan dalam rangka memeriahkan 55 tahun UIN Imam Bonjol, salah satu rangkaian acaranya adalah berupa peresmian embrio museum itu dengan jumlah koleksi/dukumen sekitar sudah lebih dari 66 butir. Mudah-mudahanlah, amin.

Sekalian dalam rangkaian Dies Natalis 55 tahun tersebut, agaknya kita juga perlu mengetahui bahwa di tahun 1975an (46 tahun lalu), mahasiswa IAIN Imam Bonjol sudah mengukir tinta emas keberhasilan dan kesuksesan dalam bidang olahraga volley ball antar-perguruan tinggi, di level regional Sumbar.

Sebuah tim final yang sempat mengalahkan tim dari STO, dari 6 pemain, dua orang dapat menyelesaikan pendidikan S-3, seorang dari yang dua ini sempat menjadi rektor, seorang lagi menjadi dekan dan pembantu pektor. Dua dari 6 pemain ini sudah mendahului kita. Alhamdulillah, beliau-beliau yang hidup, perlukah kita memberikan secarik penghargaan universitas buat mereka?

Terakhir, menghadapi tahun 2022 yang dijadwalkan telah selesainya beberapa bangunan baru rektorat dan fakultas di kampus III Sungaibangek, maka sudah waktunya persiapan kepindahan besar-besaran (rektorat dan lima fakultas) ini perlu dirancang mulai sejak sekarang, dengan harapan tidak ada arsip dan dokumen penting, apalagi bersejarah, yang tidak mustahil bisa bisa tertinggal. (*) Editor : Novitri Selvia
Dies Natalis ke-55 UIN Imam Bonjol PTN BH