Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Transformasi FEB Unand Untuk Kejayaan Bangsa

Novitri Selvia • Kamis, 14 Juli 2022 | 09:56 WIB
Fajri Muharja Ketua Departemen Ekonomi FEB Unand
Fajri Muharja Ketua Departemen Ekonomi FEB Unand
CIVITAS akademika Universitas Andalas (Unand) dapat memaknai tahun 2022 ini sebagai momentum baru menuju sebuah perubahan besar. Ada dua hal penting yang baru saja terjadi. Yaitu mengukuhkan diri sebagai perguruan tinggi negeri berbadan hukum (PTN-BH) dan perubahan nama fakultas ekonomi (FE) menjadi fakultas ekonomi dan bisnis (FEB).

Kedua ini jelas memberikan tantangan dan peluang tersendiri dalam mewujudkan cita-cita luhur universitas “Untuk Kejayaan Bangsa”. Tulisan ini lebih memfokuskan pembahasan kepada transformasi dari FE menuju FEB Unand, mengingat fakultas ini telah berusia 65 tahun dengan Lustrum XIII.

Sekadar mengingat kembali, kemauan perubahan nama ini sebetulnya sudah lama diusahakan seiring hal yang sama juga telah dilakukan oleh universitas-universitas lain di Indonesia. Namun secara resmi Jurusan Ilmu Ekonomi (Departemen Ekonomi) pada 22 Februari 2022 menyurati Dekan FE Unand bernomor: 87a/UN.16.05.1/PP/2021.

Surat tersebut menyatakan bahwa dalam menyikapi kebutuhan penguatan dan pengembangan institusi di tengah tingginya kompetisi dan dinamika pendidikan tinggi di tingkat lokal, nasional dan global yang diwarnai juga oleh Revolusi Industri 4.0. Perlu kiranya Fakultas melakukan terobosan untuk memanfaatkan momentum transformasi UNAND menuju PTN-BH.

Melalui rapat yang dihadiri 15 Anggota Senat Akademik FE Unand pada 26 Februari 2022 sepakat untuk merekomendasikan perubahan nama tersebut kepada Rektor Universitas Andalas. Syukur alhamdulillah, pada hari yang sangat berbahagia ini, Kamis, 14 Juli 2022 secara resmi diluncurkan nama baru menjadi Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Andalas.

Beberapa tahun terakhir fakultas ini telah berusaha secara keras dan cerdas memelihara dan memanfaatkan transformasi perubahan meskipun pandemi Covid-19 menghadang. Dengan 15 program studi (prodi) D3, S1, S2, S3, dan pendidikan profesi, 8 diantaranya telah terakreditasi A BAN-PT.

Fakultas ini terus berikhitiar untuk mendapatkan pengakuan internasional. Usaha ini terus membuahkan hasil dengan diperolehnya sertifikasi ASEAN University Network–Quality Assurance (AUN-QA) untuk ketiga prodi S1 dan satu program magister yang terakreditasi The Alliance on Business Education and Scholarship for Tomorrow (ABEST21).

Masih dalam hitungan hari menjelang peluncuran nama baru ini, keringat tim kerja akreditasi yang tak kenal lelah ini terobati kembali dengan tiga prodi S1 dan dua prodi S2 mendapatkan pengakuan Foundation for International Business Administration Accreditation (FIBAA).

Meskipun mekanisme transfer recognisi FIBAA ini belum tersedia pada Lembaga Akreditasi Mandiri – Ekonomi, Manajemen, Bisnis dan Akuntansi (LAMEMBA). Tetapi dengan Tim ikhtiar hebat, tiga prodi S1 dan satu pendidikan profesi terus tetap mempersiapkan diri dalam menghadapi LAMEMBA Tahun 2022.

Jika diputar kembali kebelakang dan kemudian berusaha menatap perjalanan ke depan. Memang pertempuran ini belumlah usai. Masih banyak lagi yang harus dibenahi sejalan dengan akreditasi-akreditasi berikutnya yang harus lakukan.

Mencoba untuk merenung sedalam-dalamnya, terasa bahwa usaha ini semua jelas untuk kepentingan institusi, mahasiswa, alumni dan masyarakat. Capaian ini jelas meningkatkan benefit bagi stakeholders dalam menentukan pilihan dan kolaborasi tridarma perguruan tinggi secara baik di tingkat lokal, nasional dan internasional.

Perubahan sosio ekonomi masyarakat kekinian makin dimanjakan oleh kehadiran sistem teknologi dan informasi. Tidak dipungkiri disrupsi terus membayangi masing-masing program studi meskipun telah mendapatkan sertifikasi dan akreditasi internasional.

Permintaan (demand) global dewasa ini membutuhkan pendidikan tinggi mengarah kepada academic sharing, refreshing and recharging menuju matching “contex” dan “content”. Dunia global membutuhkan “Teach me something I can’t from Google”.

Masing-masing program studi FEB Unand sangat perlu menyediakan dan mentransformasi hal tersebut dari sebuah knowledge menuju competency. Perguruan tinggi dituntut fokus dalam membangun “competency” dari pada mentransfer knowledge.

Secara nyata saat ini telah terjadi akses gratis yang luar biasa terhadap konten pendidikan tinggi yang menuntut perubahan bagi profil dosen dan professor di perguruan tinggi bersangkutan.

Di lain sisi, demand lokal jangka pendek memperlihatkan adanya gap besar kebutuhan terhadap perguruan tinggi yang berbeda dengan kebutuhan global. Dengan struktur pasar yang kompetitif saat ini, berbagai perguruan tinggi menawarkan program yang bersifat low cost (effort) bagi custumer dan beragam kemudahan yang didapat.

Hal ini tidak terlepas sebuah respons berdasarkan permintaan lokal yang masih berorientasi untuk hanya mendapatkan pengakuan yang setara meskipun melaksanakan studi atau kerja sama di mana pun berada dan apa adanya.

Agar FEB Unand tidak terjebak dengan kebutuhan lokal jangka pendek demikian, fakultas ini harus mendidik pasar dengan baik dan secara inovatif dan kreatif mendefinisikan target market pendidikannya.

Pasar yang harus dibidik adalah stakeholders yang membutuhkan benefit kompetensi ilmu yang optimal dengan cost (effort) yang seimbang. Setidaknya, setelah studi dan kerja sama dilakukan alumnus atau stakeholders ini dengan yakin memiliki dan mendapatkan pengakuan masyarakat secara nasional maupun internasional.

Sehingga pada masa datang mereka mendapatkan peluang yang sangat membanggakan. Selamat untuk Lustrum XIII Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Andalas “Untuk Kejayaan Bangsa”. (*) Editor : Novitri Selvia
#transformasi #Fajri Muharja #FEB Unand