Fashion SCBD

Novitri Selvia • Dipublikasikan Kamis, 28 Juli 2022 | 10:19 WIB
Vinna Melwanti Wartawan Utama
Vinna Melwanti Wartawan Utama
SAYA ambil sedikit yang lagi viral: Citayam Fashion Week. Jakarta yang mati gaya, tetiba menyala kembali oleh anak-anak pinggiran. Dan, bagai bisa diduga, pemerintah membubarkan acara nan viral itu.

Digenjotnya Jakarta, dimainkan gaya catwalk, terkejut-kejut orang banyak. Geleng-geleng kepala karena heran dan kagum. Siapa saja bisa jadi apa saja, asal mau. Dan, Ibu kota ternyata milik bersama.

Indonesia seperti tersengat listrik rumahan, ada rupanya anak muda pinggiran yang bisa ”menguasai” Jakarta. Demi nongkrong, pergi dan pulang naik kereta api. Mereka hadir di kawasan jalan protokol Jenderal Sudirman, melagak-lagak, lenggang-lenggok seperti peragawan/wati, yang hit itu.

Sudirman, Citayam, Bojong Gede, Depok (SCBD), adalah potret sesungguhnya dari realita yang tak tampak. Realita yang tak seperti di mall, yang serba harum semerbak itu. Anak-anak dari daerah tersebut, seperti juga anak-anak di komunal kita, sudah lama menyimpan keinginan agar bisa diperhatikan.

Mereka punya talenta hebat. Banyak yang hebat-hebat kemudian menjulang sendirian, seperti Jeje, Kurma, Bonge dan tiktokers Citayam lainnya yang saya tidak tahu. Fenomena Jakarta ada dimana-mana, juga di kota Anda. Kita saja yang tak tahu.

Padang misalnya, jangan kira isi jantung kota atau taplau kala senja tiba, maka kawasan itu diisi warga kota tepi-tepi, alias Padang pinggir kota, tapi di Padang lagak dan gaya hampir sama. Yang belum ada di Padang adalah jalan yang jadi panggung demontrasi berpakaian. Adanya, selfie yang dimana-mana.

Bahkan mobil parkir di trotoar, menyamak saja, merusak keindahan kota. Sesungguhnya yang menarik justru di pelataran Jam Gadang, ikon kota wisata itu. Jika dikemas dengan baik dan tidak sembarangan, maka akan jadi event wisata pula. Sebaiknya dimulai saja, atau sudah ada? Saya tidak tahu.

Memang banyak yang tak diketahui tentang kehidupan di Indonesia, sebab kita lebih suka bicara politik. Di kota kita, sesungguhnya sudah lama anak pinggiran menguasai tempat nongkrong. Negeri kita memang meriah, semeriah es tebak.

Lalu, sedang ramai-ramainya Sudirman. Tetiba ada yang hendak ”merebut roti dari mulut mereka”. Seorang selebriti, mau mengambil hak-hak atas hukum, HAKI, belakangan dibatalkan.

Belum selesai sampai di sana, masuk selebgram influencer hingga tokoh politik, melenggang-lenggok pula di sana. Lantas, kemudian masuk pula –meminjam istilah PBNU— pria berpakaian wanita. Makin kusutlah SCBD itu.

Fashion week di Sudirman itu, tentu saja membuat netizen bisa meredam kekagumannya pada kaum selebritis hedon. Berdamai, lalu menyokong anak-anak Citayam untuk datang ke lokasi tersebut. Kemudian viral.

Anak-anak itu persis kita-kita beli pakaian murah, bisa Rp20 ribu dan paling mahal Rp150 ribu. Berbanding terbalik dengan harga pakaian orang-orang ”dareh” alias selebriti. Hidup mereka sederhana, mandi di kamar mandi yang engsel pintunya sudah copot, handuk kecil usang disandang di bahu. Dipadu kacamata tanah abang, dan celana jeans robek beli lewat sistem COD. Tanpa marah-marah pada kurir.

Jakarta memang bukan hanya mall semata. Kota yang ekonominya hebat ini, di atas Kuala Lumpur. Indonesia yang ekonominya paling hebat di Asia Tenggara, menyimpan aneka kisah. Kisah tentang manusianya.

Manusia Indonesia memang hebat, tahan banting, walau benar-benar dibanting. Gaya nomor satu, lagak nomor 1-A, yang lain menyusul. Sisi hedonis kita mulai menerima hal-hal tentang lagak, apalagi setelah menonton sinetron Korea atau penyanyi Negeri Ginseng itu.

Karenanya, mesti ada perbaikan sikap terhadap hidup bahwa kota milik bersama dan sikap hedonis kalangan atas tak perlu ditiru, karena menciptakan pertentangan kelas saja. Lalu ”lalulintas” di zebra cross tetiba dibubarkan. Selalu saja pemerintah begitu. ”Minggir-minggir,” kata Pol PP. Kerumunan orang di kawasan itu tetap saja seramai sebelumnya.

Sesuatu yang disukai khalayak, jika dibubarkan, biasanya tak efektif. Apapun, ada yang setuju, ”bubar saja,” sebab pandemi masih ada. Banyak sekali yang tak setuju, ”apaan sih?!” Nah.

Fashion SCBD memang wow. Yang tak wow, kala malam, mereka pulang kembali ke rumah berhadapan segudang persoalan pelik keluarga tapi tetap tegar meski bukan dari kalangan kaum Starbucks. (*) Editor : Novitri Selvia
Fashion SCBD vinna melwanti