Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Modal Sosial Orang (Muda) Minang

Novitri Selvia • Kamis, 26 Oktober 2023 | 10:56 WIB
Abdul Mongid Guru besar UHW Perbanas
Abdul Mongid Guru besar UHW Perbanas
ORANG Minangkabau dikenal berbasis kekeluargaan yang kuat. Ini adalah pertanda bahwa orang Minang memiliki modal sosial yang kuat. Jika demikian adanya, kita bisa bayangkan beberapa konsekuensinya.

Para calon anggota legislatif dan kepala daerah bisa mendekati kepala-kepala keluarga dan bisa berharap para anggota keluarga akan sama pilihannya. Orang Minang sangat bisa jadi memilih orang yang ia kenal atau di-endorse orang yang ia kenal daripada mereka yang asing bagi mereka.

Bisa jadi bahkan di kalangan intelektual seperti dosen sekalipun, memilih rektor bukan karena kompetensi, tetapi lebih karena mengenal dan dikenal oleh calon rektor. Contoh lainnya, terkait budaya wirausaha, jika kemenakan mengalami kekurangan modal usaha, mereka bisa berharap pada orang-orang yang mereka kenal di sekelilingnya terutama keluarga besar.

Atau, orang Minang yang enggan membayar utang, misalnya, bisa didekati oleh mamak atau orang yang disegani di keluarga sehingga mereka mau membayar. Itu karena Minangkabau sudah lama dikenal sebagai berbudaya kolektifis. Bahkan, budaya ini memengaruhi nilai-nilai individual orang Minang.

Misalnya, penelitan Games dkk (2021) menemukan bahwa tipe nilai tradisi berpengaruh terhadap inovasi usaha orang Minangkabau. Ini berarti bahwa urang awak tidak bisa lepas norma-norma yang melingkupinya.

Orang Minang cenderung untuk melihat dirinya sebagai bagian dari masayarakat daripada sebagai individual yang mengutamakan kepentingan dirinya semata. Sangat bisa jadi kebijaksanaan “duduk surang basampik-sampik; duduk basomo balapang-lapang” berasal dari kesadaran itu.

Apakah memang demikian adanya? Ada situasi kontradiktif yang menarik terkait modal sosial. Makin banyak orang yang memiliki preferensi politik, misalnya, yang berbeda dari teman-teman dekatnya bahkan sesama anggota keluarga.

Terkait wirausaha, kita selama ini tidak tahu persis, apakah laki-laki Minang merantau justru karena tidak diberi fasilitas pinjaman atau dukungan sistem dari keluarga. Soal bayar hutang, bukan rahasia umum, bahwa tidak membayar hutang pun tetap berlaku bahkan meskipun sudah ada desakan orang-orang terdekat untuk membayarnya.

Penelitian penulis pada 2023 mengonfirmasi ini bahwasanya kekurangan kepercayaan sesama orang Minang dalam bermitra usaha utamanya karena kekhawatiran terkait gagal bayar hutang. Lalu, bagaimana sebenarnya modal sosial orang Minang saat ini?

Apakah semakin melemah seiring dengan mengemukanya nilai-nilai individualistis yang bukan hanya terjadi pada konteks Minangkabau? Apa konseluensinya bagi Minangkabau kekinian dan masa depan?

Modal Sosial Kaum Muda Minang

Tulisan ini secara singkat mengetengahkan beberapa hasil penelitian tentang modal sosial orang Muda Minang khususnya dari mereka yang pemilik usaha. Ini karena kaum muda adalah mereka yang mendominasi kehidupan kita termasuk di ranah Minang baik dari segi ekonomi, sosial, maupun gaya hidup.

Pertama, kaum muda wirausahawan kita ternyata merasakan bahwa bridging social capital-lah dan bukannya bonding social capital yang berperan meningkatkan inovasi bisnis. Dengan kalimat lain, bukan orang dekat yang berperan meningkatkan kegiatan berwirausaha orang Minang.

Justru, interaksi sosial dan kemitraan dengan orang baru (kenal) berkontribusi positif pada kewirausahaan kaum muda Minang. Hasil ini setengah mengejutkan. Kaum Muda Minang sepertinya mengukuhkan pandangan bahwa mereka harus merantau, tidak mesti fisik.

Mereka harus meneruskan legacy urang Minang yang memiliki kekuatan dalam beradaptasi dengan budaya dan orang baru. Mereka tidak mesti berharap pada keluarga dekat di ranah; mereka bisa berharap dari jejaring yang mereka ciptakan sendiri. Di sisi lain, ini memperkuat anomali.

Biasanya, misalnya, pada Chinese entrepreneurship, jejaring itu terbentuk dari orang dekat berbasis kepercayaan. Ketika seseorang terbukti tidak bisa dipercaya, maka ini berarti orang itu akan menghancurkan jejaring (quanxi atau kongsi) yang bahkan tidak akan sempat terbangun.

Kedua, kaum muda Minang dari kalangan usahawan, akan lebih bisa mengembangkan sayap kewirausahaan manakala dengan satu syarat. Bahwasanya, interaksi sosial yang dibangun haruslah memberikan hikmah atau pembelajaran. Konsekuensinya, kaum muda harusnya bergaul dengan mereka yang bisa menjadi sumber pembelajaran.

Profil mereka adalah orang-orang yang terus berkarya bahkan meskipun dalam kesulitan. Pun, mereka yang gagal tapi bisa bangkit dan menginspirasi. Mereka yang bisa belajar dari kegagalan adalah tipe ideal dari kaum muda Minang. Dan mereka bisa hadir ketika interaksi sosial yang mereka terlibat di dalamnya, bisa memberikan itu.

Dalam perspektif yang lebih luas, kaum muda Minang berarti harus menampilkan kebijaksanaan bahkan meskipun di usia muda. Kaum muda tidak kekurangan pengetahuan; mereka sepertinya lebih bermasalah dalam pemaknaan.

Dengan kebijaksanaan, mereka tidak akan terlena oleh kepentingan sesaat. Inilah kaum paripurna par excellence yang bisa diharpakan menjadi agen perubahan termasuk dalam dunia kewirausahaan.

Ketiga, perbedaan gender sepertinya tidak terjadi dalam hal modal sosial dan kegiatan kewirausahaan. Penulis menemukan bahwa perempuan muda yang memilih jalan wirausaha pun bisa mendapatkan manfaat dari bridging social capital.

Artinya, perempuan yang memiliki interaksi sosial dan mampu menginisiasi jejaring bisnis dari situ, akan memiliki kinerja berwirausaha yang tinggi. Ini meneguhkan perspektif bahwa perempuan dan laki-laki akan berprestasi setara jika ada ketersediaan peluang dan pemanfaatan hubungan dengan orang-orang baru dari tempat-tempat baru.

Terlepas dari mulai bergesernya kultur kolektifis ke individualistis; ataupun dari kontradiksi yang melingkupi kewirausahaan Minangkabau, kita mungkin bersepakat dalam satu hal. Bahwasanya modal sosial orang (muda) Minang masih berperan penting bagi wajah Minangkabau masa kini dan masa yang akan datang. (Donard Games, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unand) Editor : Novitri Selvia
#Modal Sosial Orang #minang #muda #Donard Games