PADEK.JAWAPOS.COM-DAGING ayam broiler (ayam potong), telur ayam ras, telur puyuh, ikan nila, ikan lele, ikan bandeng, gurami, buah usaha positif peternakan di Sumbar dan Indonesia umumnya, memperlihatkan hasil yang menggembirakan.
Produksi daging ayam dan telur ini lumayan cukup menyokong produksi daging, susu ternak berlambung kembar, ruminansia (sapi, kambing, kerbau, biri-biri) dan ternak ikan laut.
Kita ketahui, komoditi hasil ternak dan ikan berupa daging, telur dan susu, memberikan sumbangan besar dalam pembangunan fisik, kecerdasan dan intelektual manusia Indonesia.
Sekaligus, menghapus stunting (pertumbuhan anak yang buruk) mulai dari balita, anak remaja, karena bahan-bahan hasil ternak dan ikan ini mengandung protein hewani berkualitas tinggi.
Keistimewaan protein hewani ini mengandung asam-asam amino esensial di dalam alat pencernaan manusia tidak perlu dicerna oleh enzim/hormon, tapi langsung diserap dalam usus halus untuk kebutuhan tubuh manusia tersebut.
Usaha intensif pemeliharaan ternak unggas dan ikan itu, memperlihatkan 60-70% biaya produksi akan terpakai oleh biaya kebutuhan pakan (ransum), karena alat pencernaan ternak ayam dan ikan, berlambung tunggal.
Segala kebutuhan hidup ternak ini, berupa makanan harus didatangkan dari luar tubuh, berupa ransum berkualitas protein dan energi metabolisme (ME/tinggi).
Ayam broiler muda butuh protein 23% dan energi 3.200 kcal/kg. Ayam ras petelur 16,5% protein dan energi 2.750 kcal/kg. Ikan nila bertumbuh dalam keramba dan kolam butuh protein 20% dan ME: 2.900 kcal/kg. Ayam potong (broiler) dan ikan yang bertumbuh perlu makanan (ransum) mengandung protein tinggi.
Ternak unggas dan ikan tidak bisa membentuk protein mikro organisme di dalam lambungnya, seperti ternak ruminansia yang berlambung ganda, sapi, kambing, kerbau, domba, bisa makan hijauan (rumput), jerami.
Ternak ini bisa tumbuh dan hidup, tetapi ayam dan ikan tidak tumbuh diberi makanan hijauan. Itulah sebabnya kebutuhan makan ayam dan ikan itu mahal.
Dalam usaha peternakan unggas, ayam petelur, broiler, tambak-tambak, keramba ikan sebaiknya kita punya pabrik penggilingan ransum sendiri, bisa menjual ransum dan diberikan kepada ternak yang kita pelihara untuk usaha ternak yang lebih menguntungkan.
Kenyataannya kalau kita lihat contoh di Sumbar di lokasi peternakan ayam petelur, broiler, kolam-kolam dan keramba ikan seperti di Mungko, Payakumbuh; Solok, Lubukalung, Pasaman, Danau Maninjau dan Lubuk Minturun.
Semua peternak tersebut memakai ransum siap yang dimonopoli, disiapkan pengusaha-pengusaha besar, seperti PT Charoen Pokphand dan PT Central Proteinaprima (All Feed) dari Medan.
Tidak ada peternak yang punya pabrik ransum sendiri. Inilah kerugian peternak-peternak ayam dan peternak ikan yang hanya mendapat hasil kecil dari penjualan telur, daging broiler dan ikan hasil kolam dan keramba mereka.
Kita lihat gudang-gudang penyimpanan pengusaha besar ransum ayam petelur, broiler dan ransum ikan di lokasi-lokasi peternakan tersebut, ruangan gedung lebih besar dari bioskop dan gedung-gedung sekolah. Begitulah kenyataannya nasib peternak ayam dan peternak ikan kita.
Sejak tahun 1980, komoditi pakan penguasa ternak dari tepung ikan dari Thailand dan Peru, bungkil kedele, tepung daging tulang, jagung dari Amerika Serikat, sudah dimonopoli oleh pengusaha, pejabat-pejabat tertentu.
Masyarakat, peternak menjerit. Sarjana-sarjana peternakan dan perikanan dan peternak tidak dapat buat pabrik makanan ternak sendiri.
Bahan pakan impor yang dimonopoli tersebut dengan kualitas: tepung ikan protein: 65% dan ME: 2.650 kcal/kg. Bungkil kedele: protein: 45% dan ME: 2.240 kcal/kg. Lalu, tepung daging tulang: protein 50% dan ME: 1.950 kcal/kg dan jagung protein: 8,7% dan ME: 3.430 kcal/kg. Dan, dedak halus padi protein: 13,6% dan ME: 1.630 kcal/kg.
Kita menyusun ransum ayam dan ikan itu, berpatokan kepada kebutuhan protein, energi metabolisme (ME), serat kasar, lemak yang rendah dan mineral Ca yang tinggi pada rasum ayam petelur (3,8%).
Pengusaha kakap/besar ini, kualitas ransum yang dibuatnya, hanya berdasarkan kebutuhan protein dan zat-zat yang dibutuhkan dan mengabaikan ME. Bahaya ransum ini, kalau ME rendah, konsumsi ayam banyak dan kalau ME tinggi, komsumsi ayam rendah.
Disinilah para ahli di perusahaan makanan ternak besar itu yang tidak jalan pada perusahaan-perusahaan besar itu (usaha konglomerat).
Kepada pemerintah kita minta tolong bebaskan, jangan dimonopoli juga bahan pakan, tepung ikan, bungkil kedele, tepung daging tulang dan suplemen kebutuhan ransum ternak tersebut.
Kalau ini sudah dibebaskan, maka peternak, masyarakat dan ahli-ahli peternakan dapat membuat pabrik penggilingan ransum ternak ayam dan ternak ikan kebutuhan sendiri.
Saya selaku alumni senior Fakultas Peternakan Unand empat tahun lalu, waktu pelantikan pengurus IKA Fakultas Peternakan Unand, memberi masukan supaya secara bersama-sama dengan ketua-ketua alumni Fakultas Peternakan lainnya se-Indonesia.
Yakni, meminta kepada pemerintah, supaya tidak ada lagi monopoli pakan ternak oleh pejabat-pejabat/pengusaha. Tetapi, sekarang sudah 4 tahun usulan itu tidak digubris.
Kita usulkan lagi, pada Mubes IKA Faterna Unand bulan Oktober 2024 ini, pilihlah Ketua IKA Faterna Unand 2024-2029 yang dapat berkolaborasi, kerja sama dengan alumni Fakultas Peternakan dan Perikanan seluruh Indonesia.
Sepakat menyuarakan supaya bebas jangan ada lagi monopoli bahan pakan ternak penyusun ransum ternak yang sangat dibutuhkan. Efek mudahnya memperoleh pakan ternak sangat positif, peternak ayam dan peternak ikan dapat membuat pabrik makanan ternak sendiri.
Alumni peternakan tidak lagi sebagai tenaga kerja biasa di pabrik-pabrik makanan ternak pengusaha besar dan bisa menjadi tenaga ahli pada pabrik makanan ternak yang mereka miliki sendiri. Mengapa dimonopoli, hak hidup warga negara Indonesia yang merdeka adalah sama, monopoli itu melanggar hak asasi manusia dan demokrasi. Terima kasih. (Dasril Tami, Guru Besar Fakultas Peternakan Unand)
Editor : Novitri Selvia