Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Jika Gempa Berpotensi Tsunami, Apa yang Terjadi di Kota Padang

Hendra Efison • Selasa, 16 Januari 2024 | 01:18 WIB
Gambar 1: Data sejarah gempa yang terjadi pada tahun 1797 dan 1833 yang mengunci segmentasi Mentawai-Pagai megathrust.
Gambar 1: Data sejarah gempa yang terjadi pada tahun 1797 dan 1833 yang mengunci segmentasi Mentawai-Pagai megathrust.
Oleh: Alif Oryza Wisti & Yosritzal  ST MT PhD, Prodi Magister Teknik Sipil, Universitas Andalas

Indonesia terletak di perbatasan tiga lempeng tektonik besar  yang sangat aktif di dunia (Rusli et al., 2012), yaitu lempeng Eurasia, lempeng Pasifik, lempeng Indo-Australia, dan lempeng mikro Filipina. Pergerakan tektonik ini menjadikan Indonesia rentan terhadap gempa bumi dan tsunami. Gempa Megatrust adalah gempa bumi yang terjadi di zona subduksi awal (subduction zone). Lempeng Indonesia memiliki 16 segmen megathrust aktif yang dapat menyebabkan gempa bumi besar dan  tsunami. Antara lain : Aceh-Andaman, Nias-Shimulu, Kepulauan Batu, Mentawai-Sibert, Mentawai-Pagay, Selat Sunda Banten, Jawa Barat Selatan, Jawa Tengah Selatan - Provinsi Jawa Timur, Bali Bagian Selatan, NTB Selatan, NTT Selatan, Selatan  Laut Banda, Laut Banda Utara, Sulawesi Utara. Subduksi Lempeng Laut Filipia (Pusat Gempa Nasional, 2017).

Tulisan ini akan berfokus pada gempa yang terjadi di wilayah segmentasi Mentawai-Pagai. Sumatera memiliki intensitas kegempaan yang tinggi  (Khawiendratama,  2016;  Mustafa,  2010). Pada sejarah kegempaan, pada tahun 1797 terjadi gempa dengan magnitudo M 8,3 - 8,7 SR dan pada tahun 1833  M8,9 SR. Kedua gempa ini menyebabkan tsunami besar yang menyapu Sumatera Barat dan Bengkulu. Studi Paleogeodetik menunjukkan bahwa kedua  gempa tersebut menyebabkan zona  segmentasi Mentawai-Pagai terkunci dan mengumpulkan energi rupture yang besar (Gambar 1).

Berdasarkan pembahasan pada mengenai megathrust di segmen Mentawai-Pagai yang terdapat dalam jurnal, (Damayanti, dkk (2022) disimpulkan bahwa tsunami yang disebabkan oleh megathrust segmentasi Mentawai-Pagai memiliki mekanisme gempa tsunamigenik. Tapi karena gelombang tsunami yang  datang lebih  besar dari yang diperkirakan dan memiliki magnitude gempa yang lebih kecil dan pergerakan rupture yang lebih lambat  maka  gempa ini  termasuk dalam  kategori tsunami earthquake. Gempa megathrust segmentasi Mentawai-Pagai disebabkan oleh adanya zona yang terkunci dari dua gempa megathrust tahun 1797 dan 1833, sehingga adanya zona gap Mentawai, zona  gap ini kembali aktif ketika ada dorongan dari tsunami megathrust segmentasi sumatra  andaman  atau aceh  andaman pada tahun 2004.

Berdasarkan data distribusi aftershock dan joint invertion teleseismic diperoleh dimensi rupture panjang kurang lebih 180 km, lebar 110 km dan slip kurang lebih 7 m. Model rupture yang terjadi di  segmentasi Mentawai-Pagai terdapat di oceanic crust, dan adanya struktur backtrust di  timur  Mentawai dengan panjang lebih dari 300 km memiliki strike hampir  sejajar dengan subduksi Sunda dan dip yang mengarah ke barat. Energi yang dikeluarkan dari gempa megathrust segmentasi  Mentawai-Pagai tahun 2010 baru sepertiga dari  energi yang ada. Maka diperlukan kajian dan monitoring lebih lanjut.  Karena  jika energi  gempa  yang dihasilkan lebih besar maka tsunami yang dapat terjadi lebih besar  3  kali  lipatnya.  Hal  ini  dibuktikan  juga dengan simulasi gempa megathrust tahun 1314.

Beralih pada kebutuhan infrastruktur yang memadai dalam mengahadapi bencana alam seperti Gempa Bumi dan Tsunami, Kota Padang memiliki 58 shelter tsunami berdasarkan kutipan Harian Haluan, 2020. 58 shelter ini sudah termasuk gedung sekolah dan kampus, maupun gedung baru yang dijadikan sebagai Tempat Evakuasi Sementara (TES). Dengan angka penduduk Kota Padang yang mencapai 919.145 jiwa (BPS, 2023), tentu saja dengan 58 shelter belum mampu untuk menampung masyarakat dalam evakuasi sementara. Kota padang juga belum memiliki Pusat shelter dengan kapasitas besar yang juga sering ditanyakan oleh masyarakat sekitar.

Masyarakat Kota Padang rata-rata sudah memiliki pengetahuan edukasi tentang Evakuasi bencana secara umum, seperti: mempersiapkan diri, menyiapkan berkas penting dsb. Namun, pemerintah tetap harus memberikan edukasi yang lebih spesifik agar jika terjadi situasi terburuk masyarakat mengetahui step by step yang harus dan tidak dilakukan dalam mitigasi bencanam dan tidak menimbulkan kepanikan yang akan memperburuk situasi darurat.

Saran yang dapat disampai ialah peningkatan dan penambahan infrastruktur shelter di Kota Padang dan edukasi yang lebih spesifik tentang mitigasi bencana tsunami kepada masyarakat, penetapan standar dan pelaksanaan bangunan tahan gempa dan melakukan peremajaan gedung-gedung agar teap kokoh.(***) Editor : Hendra Efison
#Alif Oryza Wisti #berpotensi tsunami #gempa #kota padang