Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Menjadi Pemimpin Yang Amanah

Novitri Selvia • Selasa, 12 Maret 2024 | 10:25 WIB

Asrinaldi A, Dosen Ilmu Politik dan Studi Kebijakan Universitas Andalas
Asrinaldi A, Dosen Ilmu Politik dan Studi Kebijakan Universitas Andalas
RAMADHAN adalah bulan yang selalu ditunggu oleh kaum muslim. Karena semua perbuatan baik yang menjadi amal ibadah akan dibalas berlipat ganda oleh Allah SWT. Tidak hanya itu, siapa yang melaksanakan puasa saat Ramadhan dengan penuh keimanan, maka semua dosa-dosanya yang terdahulu diampunkan oleh Allah SWT.

Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa berpuasa di bulan Ramadhan karena Iman dan mengharap pahala dari Allah maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR Bukhari dan Muslim)

Tentu ibadah yang dilakukan oleh kaum muslim di bulan Ramadhan tidak hanya ibadah puasa. Banyak perbuatan baik yang diniatkan hanya karena Allah SWT bisa menjadi ibadah. Tinggal bagaimana seorang muslim meniatkannya dan melaksanakannya dengan penuh khidmat dan tujuannya hanya karena Allah SWT.

Misalnya, yang paling mudah adalah menjadikan diri sebagai pemimpin yang amanah dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya. Setiap individu adalah pemimpin. Minimal sebagai pemimpin di dalam keluarganya.

Apalagi kaau mereka memang menjadi pemimpin dalam suatu organisasi dalam pemerintahan, maka nilai ibadahnya jauh akan lebih besar pahalanya. Sayangnya, hal yang “sepele” seperti ini saja kadang kala diabaikan oleh seorang pemimpin.

Pemimpin Pemerintahan

Barangkali yang paling mudah disorot oleh masyarakat, apakah pemimpin pemerintahan tersebut amanah adalah ketika mereka menyelenggarakan tugas dan kewenangannya sesuai dengan ekspektasi masyarakat yang dipimpin.

Tanyakan saja, apakah pelayanan publik yang menjadi tugas dan tanggung jawab utama mereka sudah dilaksanakan dengan penuh amanah? Apakah pelayanan publik tersebut memuaskan masyarakat?

Apakah masyarakat yang menerima pelayanan tidak mengeluhkan mutu pelayanan publik yang diberikan? Apakah masyarakat puas dengan pelayanan publik yang diberikan? Dan, banyak lagi pertanyaan yang muncul terkait dengan pekerjaan pemimpin yang amanah ini.

Keberhasilan dalam melaksanakan tugas pemerintahan dengan kualitas yang baik menggambarkan mana pemimpinya amanah mana yang tidak. Mana yang hanya “gimmick” saja sehingga memberi efek dramatis, padahal jauh dari substansi pelayanan yang sesungguhnya.

Singkatnya, pemimpin pemerintahan yang amanah tercermin dalam pelaksanaan pelayanan publik yang baik dalam masyarakat. Oleh karena itu, sejauh mana pelaksanaan urusan pemerintahan tersebut diselenggarakan dengan sungguh-sungguh menjadi indikator melihat seberapa amanah pemimpin tersebut melaksanakan tanggung jawab yang diberikan kepadanya.

Sabda Rasulullah SAW, “Wahai Abu Dzar, kamu ini lemah (untuk memegang jabatan) padahal jabatan merupakan amanah. Pada hari kiamat ia adalah kehinaan dan penyesalan, kecuali bagi siapa yang mengambilnya dengan benar dan melaksanakan tugas dengan baik.” (HR Muslim)

Jika dipahami sebenarnya urusan yang diselenggarakan oleh pemerintah daerah itu dapat dibagi ke dalam urusan wajib dan urusan pilihan. Tentu tidak semua urusan itu dapat diselenggarakan oleh pemerintah daerah.

Karena setiap daerah memiliki kondisi potensi yang berbeda-beda, terutama dalam melaksanakan urusan pilihannya. Namun, untuk urusan wajib dasar adalah suatu kewajiban yang harus dilaksanakan oleh pemerintah daerah sebagai bentuk otonominya.

Paling tidak ada enam urusan wajib dasar yang harus diselenggarakan oleh pemerintah daerah yang terkait langsung dengan kerja seorang pemimpin seperti kepala daerah.

Urusan wajib dasar tersebut adalah pendidikan, kesehatan, pekerjaan umum dan penataan ruang, perumahan dan permukiman, sosial dan ketentraman umum dan perlindungan masyarakat.

Yang Berhak

Setidaknya pemimpin pemerintahan dalam hal ini wali kota/bupati harus melaksanakan urusan wajib dasar ini dengan baik. Sayangnya, tidak semua pemimpin daerah yang menyadari ini bahkan cenderung diabaikan karena dianggap sebagai sesuatu yang rutin saja. Tidak banyak kepala daerah yang berinisiatif menyelesaikan masalah dalam pelaksanaan urusan ini.

Hal yang paling nyata yang dapat dilihat masyarakat adalah mengenai urusan pekerjaan umum dan penataan ruang seperti jalan yang berlubang, sampah yang berserakan, genangan air yang dibiarkan, penataan kaki lima yang tidak dilakukan karena trotoar bagi pejalan kaki diokupasi, serta kesemrawutan lainnya yang menggambarkan ketidakberesan pelaksanaan urusan dasar pemerintahan tersebut.

Di sinilah dilihat amanah atau tidak amanahnya pemimpin pemerintah tersebut dinilai. Mengapa pemimpin pemerintahan yang amanah ini penting? Pemimpin pemerintahan yang amanah menjadi dasar bagaimana mereka menggunakan kepercayaan masyarakat yang memilihnya dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab dan dilakukan secara adil.

Bukan hanya karena ingin dipuji, ingin mengambil hati, apalagi karena ingin mengharapkan sesuatu selain Allah SWT. Karenanya tidak heran, Islam mengajarkan juga salah satu kriteria dalam memilih pemimpin, yaitu amanah. Tentu ada dasarnya mengapa pemimpin itu harus amanah.

Dalam Surat An Nisa ayat 58, Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”

Inilah yang menjadi perhatian umat muslim, khususnya pemimpin yang sedang menjabat hari ini, apakah mereka sudah amanah atau belum? Mestinya dalam bulan Ramadhan, pemimpin pemerintahan yang sedang menjabat harus mawas diri dengan kondisi ini dan melaksanakan amanahnya dengan baik.

Kalau tidak demikian, tentu ibadah mereka di bulan ramadhan ini akan sia-sia. Tidak hanya itu, masyarakat akan melihat mereka sebagai pemimpin yang tidak amanah dan tidak layak untuk jadi pemimpin. Wallahua’lam. (Asrinaldi A, Dosen Ilmu Politik dan
Studi Kebijakan Universitas Andalas)

Editor : Novitri Selvia
#opini #Asrinaldi A #Menjadi Pemimpin Yang Amanah