Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Belalang Beterbangan dan Hari Kiamat

Novitri Selvia • Kamis, 21 Maret 2024 | 11:14 WIB

Munzir Busniah, Dosen Fakultas Pertanian Universitas Andalas.(Padek.co)
Munzir Busniah, Dosen Fakultas Pertanian Universitas Andalas.(Padek.co)
BISMILLAH. Di dalam Al Quranul Karim Surat Al-’Ankabut Ayat 43, Allah Subhana wa ta’ala berfirman yang artiny; “Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buat untuk manusia; dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu”.

Jadi di dalam Al Quran banyak sekali perumpaan-perumpamaan yang dibuat oleh Allah Subhana Wata’ala yang hendaknya perumpamaan-perumpamaan tersebut menjadi pemikiran dan kajian bagi orang-orang yang memahami ilmu pengetahuan. Tentu saja tujuannya tiada lain hanya untuk meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kita.

Salah satu firman Allah Subhana Wata’ala di dalam Al Quan adalah perumpamaan-perumpamaan yang terjadi pada hari kiamat, sebuah hari yang menjadi Rukun Iman yang wajib kita percayai. Bagaimana kita bisa mempercayai hari kiamat tersebut?

Allah Subhana Wata’ala telah membantu kita dengan memberi gambaran apa yang akan terjadi di hari kiamat kelak melalui perumpamaan-perumpamaan yang terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari ini yang dapat kita lihat, rasakan dan fikirkan.

Salah satu contohnya dinukilkan Surat Al-Qamar Ayat 7. Yang artinya; “sambil menundukkan pandangan-pandangan mereka keluar dari kuburan seakan-akan mereka belalang yang beterbangan”.

Dalam ayat ini Allah SWT menamsilkan bahwa manusia di akhirat kelak seperti belalang yang beterbangan. Kajian ilmu serangga yang menjelaskan tentang belalang, khususnya dalam hal model atau perilaku terbang belalang dapat dijelaskan sebagai berikut.

Di dunia ada banyak jenis atau spesies belalang. Salah satu jenis belalang yang banyak dikaji dan memiliki kekhasan dalam hal terbang adalah belalang kembara (Locusta migratoria).

Belalang kembara merupakan jenis belalang besar yang paling banyak tersebar di dunia, khususnya di daerah yang beriklim agak hangat, seperti di Afrika, Asia, dan Australia.

Karena penyebarannya yang luas maka terdapat banyak anak jenisnya, seperti Locusta migratoria manilensis Meyen (Orthoptera: Acrididae) yang terdapat di Indonesia.

Meskipun banyak anak jenis belalang kembara tersebut, tetapi hanya menggambarkan kekhasan lokasi penyebarannya saja, namun secara umum berbagai anak jenis belalang kembara tersebut memiliki tipe yang sama termasuk dalam hal terbangnya.

Belalang kembara sering menimbulkan masalah hama di berbagai tempat. Di Afrika belalang kembara sering menimbulkan serangan hebat terhadap tanaman pertanian. Di Indonesia juga terdapat berbagai kasus serangan belalang kembara terhadap tanaman pertanian.

Sebagai contoh, di Lampung dan Sumatera bagian selatan lainnya pada tahun 1998 telah terjadi serangan belalang kembara yang cukup hebat serta menimbulkan kerusakan yang cukup parah terhadap berbagai jenis tanaman pertanian setempat.

Tidak hanya di Lampung, belalang kembara juga pernah dilaporkan menyerang tanaman pertanian di kawasan Nusa Tenggara Timur dan Kalimantan Barat. Apa yang telah diketahui tentang pola penerbangan belalang kembara tersebut.

Yaitu adanya berbagai bentuk pola penerbangan belalang kembara berdasarkan pada besar kecilnya ukuran populasinya. Belalang kembara dapat mengalami tiga perubahan atau tingkatan besaran populasinya.

Perubahan atau tingkatan besaran populasi belalang tersebut didorong dari pola hidup soliter (menyendiri) menuju pola hidup gregarious (berkelompok). Ada tiga bentuk perubahan kepadatan populasi belalang kembara tersebut, yaitu: 1) fase soliter, 2) fase transien dan 3) fase gregarious.

Belalang pada fase soliter adalah pada saat tingkat populasinya masih rendah. Pada fase soliter ini, belalang berperilaku secara individual atau hanya hidup secara individual.

Pada saat ini belalang terbang dan memencar secara sendiri-sendiri tanpa dipengaruhi oleh individu lain, karena pada saat itu populasinya masih rendah sehingga masing-masing individu jarang bertemu dan mengelompok dengan individu lain.

Pada fase transien, fase transisi atau fase antara, belalang mulai mengelompok, namun bentuknya masih dalam bentuk kelompok-kelompok kecil. Kelompok kelompok kecil ini mulai bermigrasi atau berpindah lokasi dari suatu daerah ke daerah lainnya.

Kerusakan yang ditimbulkannya terhadap tanaman pertanian masih belum berarti karena memang populasinya masih cukup rendah. Pada fase gregarious, kelompok-kelompok kecil belalang kembara menjadi tergabung sehingga terbentuk kelompok belalang kembara yang sangat besar.

Pada kondisi ini terbentuk sebuah kerumunan (swarm) dengan jumlah individu yang sangat besar. Belalang kembara dalam fase gregarious ini akan bermigrasi ke sana ke mari untuk mencari makan dengan sangat rakus serta menimbulkan kerusakan yang luar biasa terhadap tanaman pertanian.

Dalam satu malam individu-individu belalang dalam fase gregarious tersebut dapat menghancurkan tanaman pertanian dalam kawasan yang luas. Demikianlah gambaran tentang bentuk terbangnya belalang.

Berawal dari individu-individu yang hidup soliter (sendiri-sendiri) kemudian berkembang menjadi kelompok kecil serta selanjutnya memasuki fase gregarious dengan jumlah individu yang sangat banyak dalam satu kelompok besar.

Kalau seperti terbangnya belalang kembara sebagaimana yang dijelaskan di atas sebagai perumpaman manusia hidup setelah bangkit dari kubur di hari kiamat kelak. Serta kajian ini disandarkan kepada firman Allah Subhana Wata’ala di dalam Surat Al Qomar Ayat 7, maka

dapat kita berkesimpulan bahwa awalnya manusia keluar atau dibangkitkan dari kubur secara sendiri-sendiri, kemudian sekelompok manusia membentuk kelompok-kelompok kecil, serta selanjutnya kelompok-kelompok kecil manusia tersebut menjadi kelompok besar dengan jumlah manusia yang sangat besar.

Kelompok manusia yang sangat besar ini akan bersafari mencari tempat untuk dihisap yang akan menentukan baik buruknya timbangan yang akan diterimanya serta selanjutnya akan menentukannya masuk ke dalam surga atau ke dalam neraka. Wallahu a’lam bishawab. (Munzir Busniah, Dosen Fakultas Pertanian
Universitas Andalas)

Editor : Novitri Selvia
#hari kiamat #Belalang Beterbangan #Munzir Busniah