Oleh: Citra Tristi Utami, S.Gz (Mahasiswa Magister Gizi Unand)
PADEK.JAWAPOS.COM-Salah satu masalah serius yang selalu di hadapi Indonesia adalah Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR). Setiap tahunnya, ribuan bayi lahir dengan berat kurang dari 2.500 gram, kondisi yang meningkatkan risiko kematian bayi serta gangguan kesehatan jangka panjang. Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia tahun 2023, prevalensi BBLR di Indonesia mencapai 6,1%. Kondisi ini menuntut adanya intervensi yang tepat sasaran untuk menyelamatkan generasi mendatang.
Penelitian terbaru mengidentifikasi berbagai faktor risiko yang memperparah kasus BBLR, mulai dari kekurangan nutrisi pada ibu hamil hingga minimnya akses layanan kesehatan. Ibu yang tidak mendapatkan suplementasi zat besi dan asam folat selama kehamilan memiliki risiko hampir tiga kali lipat lebih tinggi untuk melahirkan bayi dengan berat lahir rendah. Kekurangan nutrisi ini dapat memperburuk kondisi janin selama dalam kandungan, sehingga bayi lahir dengan berat yang tidak sesuai standar.
Salah faktor utamanya ialah anemia selama kehamilan, dengan peningkatan risiko hingga tiga kali lipat pada ibu hamil yang mengalami kekurangan zat besi. Selain itu, kurangnya konseling gizi yang memadai selama kehamilan membuat banyak ibu hamil tidak memahami pentingnya asupan makanan bergizi untuk mendukung pertumbuhan janin. Hipertensi atau preeklampsia pada ibu juga merupakan faktor signifikan yang dapat meningkatkan risiko BBLR.
BBLR tidak hanya berbahaya pada tahap awal kehidupan bayi, tetapi juga berdampak dalam jangka panjang. Bayi yang lahir dengan berat badan rendah lebih rentan mengalami gangguan perkembangan, seperti wasting dan stunting, serta menghadapi risiko lebih tinggi terkena penyakit tidak menular seperti diabetes, hipertensi, dan penyakit ginjal di kemudian hari. Oleh karena itu, pencegahan BBLR sangat penting untuk menekan risiko-risiko tersebut.
Pemerintah Indonesia telah meluncurkan sejumlah program intervensi untuk mengurangi angka kejadian BBLR, seperti program Scaling Up Nutrition (SUN) dan Desa Siaga. Kedua program ini berfokus pada pemberian suplemen gizi, termasuk zat besi dan asam folat, serta peningkatan akses layanan kesehatan bagi ibu hamil, terutama di wilayah terpencil. Meskipun program-program ini telah menunjukkan hasil positif, masih dibutuhkan upaya yang lebih kuat untuk menjangkau kelompok yang paling berisiko.
Pertanyaan utama yang muncul adalah: siapa yang seharusnya menjadi target utama dari intervensi ini? Berdasarkan temuan penelitian, ibu hamil di daerah terpencil dan miskin harus menjadi prioritas. Mereka sering kali memiliki akses terbatas terhadap layanan kesehatan, suplemen nutrisi, dan konseling gizi. Kondisi sosial-ekonomi yang rendah dan minimnya infrastruktur kesehatan di daerah terpencil menyebabkan prevalensi BBLR lebih tinggi di wilayah-wilayah tersebut.
Tak hanya itu, perawatan antenatal (ANC) yang memadai juga sangat penting. Pemeriksaan kehamilan secara teratur memungkinkan tenaga medis untuk mendeteksi risiko-risiko BBLR secara dini dan memberikan intervensi yang diperlukan. Sayangnya, banyak ibu di daerah terpencil tidak menerima cukup kunjungan ANC, yang pada akhirnya meningkatkan risiko bayi lahir dengan berat badan rendah.
Untuk menekan angka BBLR dan melindungi kesehatan generasi mendatang, target intervensi harus difokuskan pada ibu-ibu yang berada di wilayah berisiko tinggi. Akses ke layanan kesehatan berkualitas dan suplemen gizi harus diperluas, terutama bagi mereka yang sulit dijangkau. Dengan intervensi yang lebih intensif dan tepat sasaran, Indonesia dapat mengurangi angka BBLR dan menciptakan masa depan yang lebih sehat bagi anak-anak bangsa.(*)
Editor : Tandri Eka Putra