Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Mengapa Memilih Relokasi atau Bertahan?

Novitri Selvia • Jumat, 29 November 2024 | 11:15 WIB

Fery Andrianus, Dosen Ekonomi FEB Universitas Andalas. (dok.Unand)
Fery Andrianus, Dosen Ekonomi FEB Universitas Andalas. (dok.Unand)

PADEK.JAWAPOS.COM-SUMBAR yang terkenal dengan keindahan alamnya merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang sering kali dilanda bencana alam. Salah satu bencana yang baru saja terjadi di wilayah ini adalah galodo.

Yaitu banjir bandang yang membawa lumpur, bebatuan, dan puing-puing yang dapat menghancurkan infrastruktur dan lahan pertanian dalam sekejap.

Banjir ini disebabkan lahar hujan dari erupsi Gunung Marapi yang dipicu hujan deras di daerah pegunungan. Ini mengakibatkan volume air besar turun dengan cepat ke lembah-lembah dan permukiman di dataran rendah.

Banjir ini terjadi pada Mei 2024 lalu dengan mengakibatkan tiga daerah terdampak. Tanahdatar, Agam dan Padangpanjang. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumbar mencatat, bencana tersebut mengakibatkan korban jiwa dan puluhan rumah hancur.

Bahkan tidak berbekas sedikitpun karena terbawa oleh arus air yang besar. Sawah dan ladang tertimbun lumpur. Beberapa jalan bahkan jembatan ambruk.

Banjir tersebut menyebabkan terhambatnya aktivitas ekonomi di daerah terdampak, memaksa pemerintah untuk mempertimbangkan relokasi untuk masyarakat yang terkena dampak.

Langkah relokasi ini bertujuan untuk mengurangi dampak negatif dari bencana terhadap perekonomian dan kesejahteraan sosial masyarakat. Namun, masyarakat dihadapkan pada pilihan sulit.

Pindah ke lokasi yang lebih aman atau tetap bertahan meski menghadapi risiko bencana berulang. Pilihan ini serta-merta akan memberikan dampak yang signifikan pada masyarakat.

Relokasi ke tempat yang lebih aman mungkin menawarkan perlindungan dari bencana yang berulang, namun dapat menimbulkan tantangan sosial dan ekonomi baru.

Seperti kehilangan mata pencaharian, akses terbatas ke fasilitas sosial, serta adaptasi budaya yang mungkin sulit. Di sisi lain, bertahan di daerah yang rawan bencana bisa berarti mempertaruhkan keselamatan, meskipun masyarakat tetap dapat mempertahankan sumber daya yang ada.

Keputusan relokasi atau bertahan melibatkan pertimbangan yang lebih kompleks, terutama bagi mereka yang telah membangun kehidupan di daerah terdampak bencana.

Banyak masyarakat yang terjebak dalam dilema, antara memulai hidup baru dengan risiko kehilangan sumber daya yang telah mereka bangun, atau tetap bertahan meski berhadapan dengan ketidakpastian dan ancaman bencana.

Sehingga, keputusan ini memerlukan pertimbangan mendalam, tidak hanya dari sisi ekonomi, tetapi juga dari faktor sosial, budaya, dan psikologis.

Faktor-faktor seperti kompensasi yang ditawarkan, kemungkinan partisipasi dalam perencanaan, serta persepsi terhadap pemerintah, menjadi elemen penting dalam mempengaruhi pilihan masyarakat.

Di sisi lain, aspek psikologis, seperti ikatan emosional dengan tempat tinggal yang lama, juga turut mempengaruhi apakah masyarakat akan memilih untuk memulai kehidupan baru atau tetap tinggal dalam situasi yang penuh ketidakpastian.

Dengan demikian timbul pertanyaan. Mengapa sebagian masyarakat mau direlokasi sedangkan yang lainnya tidak?

Berdasarkan hasil survei lapangan oleh tim peneliti pada akhir September lalu, menemukan bahwa akibat dari bencana tersebut, masyarakat kehilangan sumber penghasilan utama terutama mereka yang bergantung pada hasil pertanian yang mengakibatkan banyak dari mereka menolak opsi relokasi, karena khawatir kehilangan akses ke lahan pertanian dan sumber daya yang telah mereka andalkan untuk kehidupan sehari-hari.

Ketidakpastian tentang peluang ekonomi di lokasi baru seperti kesulitan dalam mencari pekerjaan di tempat baru serta tantangan beradaptasi dengan lingkungan yang berbeda menjadi faktor penentu yang membuat masyarakat enggan untuk berpindah.

Kemudian lagi alasan utama penolakan relokasi adalah ketidakmauan untuk meninggalkan kampung halaman mereka yang dianggap sebagai “tanah pusako”.

Bagi sebagian besar masyarakat, tanah tersebut bukan hanya sekadar tempat tinggal, tetapi juga simbol identitas dan sejarah keluarga mereka. Ditambah lagi tanah pusako bukan hanya warisan fisik, tetapi juga memuat nilai-nilai budaya yang telah diteruskan dari generasi ke generasi.

Selanjutnya alasan tidak maunya masyarakat direlokasi pascabencana adalah partisipasi masyarakat dalam proses pengambilan keputusan terkait relokasi juga terbilang minim.

Dalam wawancara, sebagian besar masyarakat menyatakan, meskipun terpaksa harus direlokasi, mereka tidak bersedia kehilangan lahan, tanah, dan rumah mereka. Lebih memilih solusi jangka panjang yang memungkinkan mereka untuk tetap tinggal di wilayah mereka.

Dengan memilih untuk memperbaiki atau memperbesar saluran air guna mengantisipasi banjir di masa depan dan berharap pemerintah memberikan bantuan modal usaha sebagai prioritas dibandingkan relokasi.

Warga yang rumahnya mengalami kerusakan parah sebagian besar memilih untuk tinggal sementara di rumah keluarga atau mengontrak rumah lain, dengan alasan bahwa program relokasi belum memiliki kejelasan mengenai lokasi dan waktu pelaksanaannya.

Dari beberapa alasan mengapa sebagian masyarakat tidak mau direlokasi, ada juga yang memilih pindah dan mau direlokasi alasannya karena trauma dan ketakutan akan bencana yang berulang.

Banyak dari mereka yang mengalami stres dan kecemasan, terutama saat hujan lebat, yang mengingatkan pada bencana sebelumnya.

Kondisi psikologis ini menjadi faktor penting dalam keputusan mereka untuk relokasi, karena mereka merasa bahwa tinggal di lokasi yang lebih aman adalah cara untuk mengurangi rasa takut dan memberikan rasa aman bagi keluarga mereka di masa depan.

Dengan demikian, pemerintah harus berperan aktif dalam merancang kebijakan yang dapat menjawab kebutuhan masyarakat pasca-bencana. Pendekatan yang lebih komprehensif, yang mengintegrasikan faktor-faktor ekonomi, psikologis, sosial, dan budaya, perlu diterapkan.

Selain itu, partisipasi aktif masyarakat dalam setiap tahap pengambilan keputusan akan membantu memastikan keberhasilan program relokasi.

Pemerintah juga harus menjamin kompensasi yang adil dan memberikan dukungan yang memadai bagi masyarakat agar mereka merasa aman dan siap menghadapi perubahan terkait pasca bencana banjir di Sumatera Barat. (Fery Andrianus, Dosen Ekonomi FEB Universitas Andalas)

Editor : Novitri Selvia
#relokasi #Galodo #Bertahan #Fery Andrianus