Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

“Musim Gugur Petahana”

Two Efly • Sabtu, 30 November 2024 | 13:15 WIB

Two Efly
Two Efly
Oleh : Two Efly, Wartawan Padang Ekspres

Pilkada 2024 benar-benar momentum sulit dan suram bagi politisi incumbent dan yang tercatat belum lama mengakhiri jabatannya sebagai kepala-wakil kepala daerah.

Bak daun di musim semi, satu per satu mereka "tumbang" dan "padam" dalam pertarungan. Berdasarkan hasil perhitungan sementara Pilkada 27 November lalu menunjukkan bahwa para penantang benar-benar mampu membalikkan keadaan.

Di mana saja politisi yang tumbang itu? Hampir 65 persen jumlahnya. Di Kota Padang, mantan Wali Kota Hendri Septa harus merelakan posisinya direbut Fadly Amran yang berpasangan dengan Maigus Nasir dengan kemenangan mutlak.

Di Kota Pariaman incumbent Genius Umar-M Ridwan juga kalah telak dari Yota Balad, mantan Sekko yang berpasangan dengan Mulyadi. Di Padangpariaman juga begitu. Aciak Suhatri Bur -Yosdianto harus iklas menyerahkan posisinya ke Ajo Jhon Kenedy Azis-Rahmat Hidayat.

Daerah tetangganya, Agam terjadi kondisi serupa. Andri Warman - Martias Wanto harus rela di posisi ketiga. Jabatan posisi Bupati Agam periode 2025-2030 bakal diserahkan pada pasangan Benny Warlis-M Iqbal.

Pasaman Barat juga bernasib sama. Hamsuardi - Kusnadi harus menyerahkan tampuk pimpinannya ke Yulianto- M Iphan.

Setali tiga uang dengan situasi di Kabupaten Pasaman. Sabar AS-Sukardi juga mesti legawa mengestafetkan kepemimpinannya ke Welly Suheri-Anggit Kurniawan Nasution.

Beranjak ke Kota Sanjai. Ramlan Nurmartis SH - Ibnu Asiz berhasil merebound pertarungan politiknya dengan Bang Wako Erman Syafar-Heldo. Kemenangannya juga cukup telak. Bang Wako kembali melanjutkan "kutukan" tak ada incumbent yang bertahan di Bukittinggi.

Fenomena hampir mirip di Kota Payakumbuh dan Kabupaten Limapuluh Kota. Kota Botiah dengan Erwin Yunas sebagai mantan Wawako harus menerima kekalahan dari Zulmaeta-Elzadaswarman.

Begitu pula di Limapuluh Kota. Datuak Safaruddin - Darman Sahladi secara mengejutkan disalip penantang baru Safni-Ahlul Badrito Resha. Kemenangannyapun cukup telak. Mantan Wabup Riki Kurniawan Nakasari-Ferizal Ridwan juga berhasil ditumbangkannya.

Beranjak lagi ke kota Arang, Sawahlunto. Mantan Wali Kota Deri Asta-Desni Winari yang digadang-gadang sebagai kandidat kuat ternyata mampu dikalahkan Riyanda Putra-Jeffry Hibatullah.

Owner "Miyor" secara mengejutkan mampu melejit dan menumbangkan petahana. Deri Asta juga terkena "kutukan" tak ada incumbent yang bertahan.

Beranjak kita ke tanah tepi dan pulau, yakni Pesisir Selatan dan Mentawai. Hendrajoni - Risnaldi mampu comeback dan mengalahkan Rusma Yul Anwar-Nasta Oktavian.

Hasil mirip Pilkada 2019 berhasil dikembalikan mantan perwira Mabes Polri, Hendrajoni.

Sementara itu di Kepulauan Mentawai, incumbent Rijel Samaloisa-Josep Sarodok berhasil dikalahkan Rinto Wardana-Jacop Saguruk. Walau relatif tipis, namun kalah tetaplah kalah.

Petahana yang Bertahan

Itu yang tumbang. Petahana yang bertahan juga cukup banyak. Gubernur Sumbar Mahyeldi berhasil menang telak. Hasil perolehan suara identik pada kontestasi politiknya di Kota Padang 15 tahun dan 10 tahun lalu mampu "dibawa" ke Pilgub 2024.

Mahyeldi menang tipis di awal periode Wali Kota Padang dan menang telak ketika head to head pada periode kedua.

Pada 2019 yang lalu Mahyeldi-Audy Joinaldy menang tipis dan 2024 Mahyeldi - Vasko Ruseimy berhasil menang besar atas pasangan Epyardi Asda dan Albar. 

Kalau "Pariaman Raya" (Padangpariaman, Pariaman, Mentawai) incumbent tumbang, maka "Solok Raya" petahananya mampu berkibar. 

Ramadhani Kirana Putra-Suryadi Nurdal berhasil memenangkan Pilwako Solok dan mengalahkan Nofi Chandra-Leo Murphy. 

Begitu juga mantan Wakil Bupati Jhon Firman Pandu - Candra yang mampu menang besar atas kompetitornya. 

Di Bumi Saribu Rumah Gadang, Solok Selatan juga kembali dimenangkan Khairunnas-Yulian Efi.

Trio kepala dan wakil kepala daerah 2019-2024 mampu bertahan. Ramadani "naik kelas" menjadi wali kota Solok, Jhon Firman Pandu naik kelas menjadi Bupati Solok dan Khairunnas menjadi Bupati Solok Selatan. Mereka bertiga akan melenggang menjadi kepala daerah untuk periode 2024-2029.

Di Tanahdatar sedikit berbeda. Eka Putra-Fadly mendapatkan lawan tanding relatif sepadan dari Wabupnya Richi Aprian-Doni Karson. Eka - Fadli hanya menang tipis, yakni 47 persen diraih Richi - Doni dan 52 persen diraih Eka Fadli.

Kemenangan Eka Fadli lebih didominasi pemilih di wilayah Lintau IX Koto dan Pabasko. Eka pun berhasil memecahkan mitos tak ada incumbent asal Lintau yang bisa dua periode.

Benny Dwifa Yuswir-Iraddatillah berhasil melanjutkan kepemimpinannya. Hendri Susanto-Mukhlis kembali harus legawa menerima kekalahan keduanya dari Benny Dwifa Yuswir. 

Sementara Dhamasraya berhasil mencatatkan sejarah sebagai pasangan calon kepala dan wakil kepala daerah pertama di Indonesia yang terpilih di Pilkada 2024, yakni Annisa - Leli.

Sedangkan di Kota Padangpanjang, jabatan sebagai wali kota dan wakil wali kota bakal kembali ke pangkuan Hendri Arnis-Alex Saputra. 

Pentingnya Reorientasi Sosialisasi

Ada yang menang dan ada yang tumbang. Satu hal yang pasti kekalahan pastilah berkelindan dengan kerja dan kinerja politik.

Soal kinerja kepemimpinan ada juga namun kinerja kepemimpinan masih bisa dilingkupi dengan kinerja dan kerja politik.

Kenapa banyak incumbent yang tumbang? Mereka tidak mampu mencitrakan dirinya dengan baik.

Sebagian besar dari mereka tak mampu mempublikasikan kinerja kepemimpinannya selama lima tahun secara baik.

Publik tak melihat ada perkembangan yang signifikan selama kepemimpinannya. Pada akhirnya publik merasa ekspektasi tak sesuai realita.

Tidakkah mereka melakukan publikasi? Ada. Incumbent yang bertumbangan ada melakukan publikasi. Publikasi lebih banyak menggunakan kanal-kanal medsos dan media internal pemerintah daerah ketika bekerja.

Dua wadah ini secara "trust" jelaslah kurang diminati. Harus kita akui jagad medsos didominasi oleh sampah-sampah informasi.

Kaidah dalam penyampaian informasi tidaklah dijalankan dengan baik dan bertanggung jawab.

Publik hari ini sudah mulai berpikir jernih bahwa kanal medsos lebih didominasi hoaks dan sampah informasi.

Benar pun konten yang diproduksi influencer untuk seorang tokoh politik tetap saja tidak bisa dipercayai utuh oleh audiens (masyarakat).

Buktinya, dalam laporan terbaru organisasi pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan PBB (UNESCO) menyebutkan bahwa mayoritas pembuat konten di medsos itu tidak memverifikasi fakta, sebelum membagikan informasi kepada audiens.

Hal itu membuat influencer dan pengikutnya rentan terhadap kesalahan informasi.

Laporan UNESCO ini menunjukkan bahwa enam dari 10 kreator mengaku tidak memverifikasi keakuratan informasi sebelum membagikannya. 

Sementara itu, media online internal pemerintah daerah secara faktual tidaklah begitu diminati. Banyak pula yang tidak di-update.

Begitu pun dengan media "online sempalan" yang banyak dimiliki personel (individu) staf Kominfo. Lihatlah jumlah pageviewes-nya, lihatlah pengunjungnya.

Kalaupun banyak pengunjungnya, apakah itu real atau hasil rekayasa teknologi? Bisa dilihat secara riil, misalnya dengan Google Analytics.

Sederhananya begini, kalaulah kanal medsos dan media internal itu diminati dan dipercayai publik tentulah imej dan brand kepala saerah tertanam dengan baik dalam pikiran publik. Logikanya tentulah mereka tidak akan bertumbangan.

Pekerjaan Rumah Kominfo

Peristiwa bertumbangannya petahana dalam Pilkada mestilah menjadi "Pekerjaan Rumah" juru citra kepala saerah.

Kominfo dan public relation pemerintah eaerah harus reorientasi cara dan wadah publikasi kembali.

Ingat, publik saat ini sudah cerdas. Publik sudah bisa memilah mana informasi sampah dan mana informasi yang sebenarnya.

Kominfo haruslah melakukan reorientasi kembali. Kehadiran dan keberadaan media mainstream jangan sekali-sekali dilupakan. 

Media mainstream lah saat ini yang dipercayai publik. Evaluasi dan analisa ulanglah kalau tak percaya.

Manakah yang lebih dipercayai publik media cetak dan online yang benar-benar digawangi orang yang sudah memiliki kompetensi serta menjalankan kaidah jurnalistik, dibandingkan kanal medsos yang out of control dari kaidah penyampaian informasi.

Bagi kepala daerah janganlah menjadikan Kominfo itu bak pemadam "kebakaran" saja.

Tugas Kominfo tidaklah di situ. Tugas Kominfo itu sangat berat. Baik dan buruknya citra kinerja seorang kepala daerah sangat tergantung pada kompetensi jajaran Kominfonya.

Berilah ruang "fiskal" untuk mereka sehingga Kominfo dapat membuat serta membentuk citra kepala daerah.

Hasil kerja selama menjabat bisa diketahui publik secara luas dan informasinya disalurkan lewat media kredibel.

Belajar dan reorietasilah cara dan wadah bersosialisai sedari dini. Ingat, waktu lima tahun jadi pemimpin tidaklah lama.

Faktanya, banyak dari kepala daerah terpilih kali ini yang dikenal selalu bersosialisasi di media mainstream dan publikasinya tersalurkan dengan baik kepada publik.

Apalagi media mainstream berbadan hukum dan memiliki tim lulus uji kompetensi Dewan Pers, kini juga telah banyak memiliki media sosial yang juga bakal lebih dipercaya publik.

Empat kali periode APBD "alek demokrasi" kembali ditabuh. Jadikanlah "musim gugur" Petahana di Pilkada 2024 sebagai pelajaran penting. (***)

Editor : Hendra Efison
#Pilkada Sumbar 2024 #incumbent tumbang #Musim Gugur Petahana