Sudah lewat tengah malam. Saya dan Supardi baru saja menemukan nama yang cocok untuk kegiatan; ‘Musyawarah Tuo Silek’. Detik kemudian, kami terdiam. Seperti menghisap seluruh asa untuk dihembuskan di antara kesiuran angin di luar.
Tiga jam kami berdiskusi. Membolak-balik fakta. Membelah-belah data. Mencari-cari apa yang tertinggal. Apa yang tanggal, kemudian tak dipungut lagi. Bahkan tak kelihatan. Mungkin ditimpa debu selama puluhan tahun.
Ia sudah didatangi beberapa pengurus IPSI Sumbar. Memintanya untuk duduk di kursi ketua. Di luar urusan politik, diskusi kami sebelum dan sesudah pertemuan malam itu menjurus pada sengkarutnya narasi tradisi-modern. Yang anehnya, menurut saya, selalu ditaruh di ruang hampa untuk dihela kian kemari sesuai bau yang berada di bawah hidung.
Silat, ketika berada dalam organisasi selalu melengahkan silek. Selalu ditaruh dalam seksi. Bahkan untuk kategori seni, disodorkan aturan yang seolah-olah bertolak belakang. Namun, saat dalam kawah tradisi, semuanya mengaku memahami sampai ke urat, daging darah dan tulang. Bahkan, yang bukan orang Minang koar-koarnya lebih bersiponggang. Meng-aku menyelami hakikat Hu di Silek Pangian atau Ulu Ambek. Saya bayangkan, koarnya mampu memecah dinding batu Ngarai Sianok. (Untunglah, sampai hari ini, dinding itu masih baik-baik saja).
Supardi pernah belajar di sasaran dan perguruan. Ia sering menceritakan salah satu gurunya, Pak Hasan. Seorang petarung pernah datang menantang. Saat itu, latihan sedang berlangsung. Pak Hasan berkali menolak. Namun, betapa kerasnya suara itu telah jatuh pada hinaan. Pak Hasan mengangguk dan minta orang itu bersiap. Baru saja anggukannya selesai, Penantang terpelanting. “Tak melihat saya bagaimana Liau bergerak,” akunya, “apalagi jaraknya. Tak masuk akal.”
Dengan mata kepalanya, ia melihat bagaimana silat prestasi jatuh ke dalam baku hantam ala preman. Kali ini legal karena ada aturan. Soal bagaimana aturan itu dibuat karena, kabarnya, utusan Indonesia terlelap saat peraturan ditetapkan, itu lain perkara. Sekarang, apapun yang dibuat hanyalah mencari titik temu tradisi dan prestasi. Sebuah rongga, di mana semuanya berkelimun dalam harmonisasi. Bahkan olahraga tak boleh hanya soal kinesiologi. Ia adalah ‘seni itu sendiri’. Apalagi saat memberlakukan silat. Bahkan … silek.
Baca Juga: Power Distance Index Ungkap Masalah Fundamentalis Kekuasaan di Pemerintahan
Maka, Musyawarah … diadakan untuk mencari kebat yang terlepas. Atau buhul yang lungga. Bagian mana yang tiris atau gerowong. Ingin mendengar dan mencatat daripada keluh kesah ‘jatuh’ ke langit.
Intinya, pada peserta. Syarat pun ditetapkan. Paling tinggi, memiliki surau dan sasaran dengan kedudukan Guru Tuo. Di bawah itu, punya sasaran, tetap dengan status Tuo Silek. Di bawah lagi. Tuo Silek yang diakui di Nagari. Supardi tak hanya menyetujui, ia lah yang membuat standarnya.
Pengurus IPSI Sumbar, Kota/Kab diminta bantuan menyerahkan nama yang kemudian diseleksi oleh kurator. Saat rapat diadakan, seorang pengurus bertanya dengan sinisnya, “Apa itu kurator?”
Dan, yap, kita tahu ujungnya. Pengurus tak hanya menyerahkan nama tapi menstempelnya dengan ‘harus’. Juga dengan kisah-kisah bagaimana keikutsertaan nama-nama itu mendukung Supardi dalam pemilihan.
Soal sukses Musyawarah, tak usahlah diceritakan. Yang jelas, banyak bilur-bilur merah bahkan menghitamoleh hantaman kirikanan-atasbawah. Banyak oleh kesoktahuan dan ketidakmengertian.
***
Hari berlalu. Saya tak lagi intens mengikuti IPSI Sumbar. Saya menolak jadi pengurus. Ketika dikeluarkan dari WA bakal calon pengurus, saya takbir dan tahmid. Suatu kali, saya tetap menolak bahkan ketika sudah diminta mengambil jabatan Sekum.
Beberapa kegiatan yang dikuratori, tetap dari biaya Supardi, tetap menyisakan bilur-bilur. Bahkan kadang sudah menjelma luka. Dan anehnya, tetap pada soal yang sama.
Sampailah pada training camp PON. Supardi menginginkan, TC merupakan ekosistem. Hulu-hilir. Setiap langkah menjadi letusan. Pijar menyala dari daging kelapa tua yang terus diremas sehingga menghasilkan minyak murni.
Dibuatlah pemetaan. Meski sudah diseleksi, Supardi ingin alternatif yang lebih luas untuk Pra PON. Dibuatlah kegiatan agar seluruh pesilat yang membuka langkah, layak umur, bisa terjaring. Di Sumatera Barat!
Meski rembuk sudah putus, kenyataan tetaplah paradoks. Panggang itu masih jauh dari api. Meski Buya Zuari Abdullah sudah membuat modul, modernitas tetap dikedepankan. Sungguh aneh di zaman yang sudah melangkahkan kaki ke arah Post Tradisi, justru cara pengembangan kreativitas bukanlah dari intisari Silek.
Silat dibetot menjauhi nilainya. Dipaksa ditanam pada lahan yang tidak memiliki hara Hu. Orang memuja modernitas sebagai narasi bahkan sudah menganggapnya usang. Kita, kemudian, tetap memakainya dengan gegap gempita.
Soalnya, konsep yang dianjung ini tidak pernah menghasilkan lebih dari sekeping emas. Sebagai tanah asal silat, saya menyebutnya, ’jatah Akamsi’. Ada tak ada TC, pesilat, entah dari daerah mana (yang tumbuh kuat dengan tradisinya!) akan merebut emas. Bahkan, dengan sains meraja lela di setiap elemen pelatihan, di 2012, hasilnya tetap sama.
Saat hasil Pra PON 2023 bersembunyi di gabak, sekali lagi Supardi menawarkan TC PON dengan modelnya. Tawaran itu ditaruh di atas meja dengan geraham terkatup. Saya ditawari masuk dalam Pokja. Awalnya mau menolak. Nama Prof. Syahrial Bakhtiar sebagai konsultan, akhirnya membuat anggukan.
Tidak perlu pula saya berkisah bagaimana ‘epik’-nya diskusi. Saya bertanya-tanya dalam hati, apakah kita benar-benar mengerti apa arti ‘bajalan di salo rinai’ terlebih dahulu? Sedangkan dalam bayangan saya, modul yang akan ditawarkan sudah akan ‘mengiris hujan’.
Modul itu akhirnya selesai. Prof. Syahrial berkomentar, modul ini sudah berkelas TC Nasional. Ia bahkan ragu, apakah TC Nasional memiliki modul seperti ini. Namun, sekali lagi, meski sudah dikawal, retakan yang timbul tiap hari, tiap minggu, tiap bulan, hanya meneteskan kejumudan.
***
Sebagai kritik terhadap Supardi, karena bagaimanapun, turbulensi yang terjadi tetap berada dalam genggamannya. Karena setiap pemimpin, oleh sebab dan lain hal, punya ‘cara’ untuk gagal.
Yang jadi soal, siapa pun ketua nanti, akan menghadapi problematika yang sama. Terlalu panaskah kursi itu atau terlalu dingin. Sebab, sesuatu yang sudah beku, meringkus organisasi. Sampai ke bawah kulit.
Ia, Sang Ketua, apakah akan memainkan strategi Kuda Troya atau tetap sebagai Kuda Pelajang Bukit. (***)
Editor : Hendra Efison