Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Refleksi Hari Buruh: Menghargai Perjuangan Tenaga Kesehatan dalam Cahaya Al Quran

Novitri Selvia • Jumat, 2 Mei 2025 | 12:30 WIB

Dwi Yulia, Dosen Fakultas Kedokteran Unand.(DOK.PADEK)
Dwi Yulia, Dosen Fakultas Kedokteran Unand.(DOK.PADEK)

PADEK.JAWAPOS.COM-Setiap tanggal 1 Mei, dunia berhenti sejenak untuk merayakan mereka yang menjaga kehidupan dari balik peluh dan kerja keras: para buruh. Di pabrik-pabrik, ladang, pelabuhan, dan jalanan, kita mengenal wajah-wajah pekerja yang berjuang demi keluarga.

Namun, di lorong rumah sakit, ruang operasi, dan posko kesehatan desa, ada buruh lain yang sering terlupa: tenaga kesehatan. Apakah dokter dan perawat bukan buruh?

Mereka yang bekerja bergilir siang dan malam, yang kadang tak pulang karena pasien tak berhenti datang, yang rela mengambil risiko demi menyelamatkan nyawa, apakah kerja mereka bukan bentuk tertinggi dari memburuh?

Hari Buruh Internasional seharusnya menjadi ruang yang lebih luas: untuk mengenang, mengakui, dan menghormati seluruh bentuk kerja yang menopang kemanusiaan, termasuk mereka yang berjaga dalam senyap, dokter, bidan, perawat, analis laboratorium, dan relawan kesehatan.

Dalam konteks dunia modern, dokter dan tenaga kesehatan sering disebut sebagai pekerja di garis depan (frontliners). Mereka berjaga di rumah sakit, puskesmas, posyandu, dan klinik-klinik kecil di daerah terpencil.

Ketika masyarakat terlelap, para dokter jaga di IGD tetap terjaga. Ketika wabah menyebar, mereka yang pertama kali menghadapinya, bahkan dengan risiko tinggi.

Di masa pandemi Covid-19, masyarakat mulai menyadari betapa vitalnya peran mereka. Banyak tenaga kesehatan yang meninggal dunia saat bertugas. Namun, penghargaan dan perlindungan terhadap mereka sering kali masih minim—baik dari sisi insentif, jaminan kerja, maupun hak-hak dasar sebagai pekerja.

Pakaian putih para tenaga kesehatan bukan sekadar simbol sterilitas, bukan sekadar warna seragam. Ia adalah pakaian kerja, pakaian pengabdian. Putih itu menyerap keringat, darah, air mata, dan kadang nyawa.

Tak sedikit tenaga medis yang gugur saat pandemi Covid-19 menerjang. Mereka bekerja tanpa cukup perlindungan, tanpa jaminan pasti, dan kadang dengan gaji yang terlambat turun.
Tapi mereka tetap bertugas. Karena bagi sebagian dari mereka, kerja adalah panggilan hati.

Namun, panggilan hati tak boleh terus dimanfaatkan tanpa keadilan. Tak sedikit dari mereka yang masih berstatus honorer meski telah mengabdi bertahun-tahun. Tak sedikit yang bekerja di pelosok tanpa listrik memadai, membawa sendiri alat kesehatan dari rumah, dan tetap menyalakan harapan bagi masyarakat sekitar.

Buruh dalam pandangan Al Quran. Islam memuliakan kerja dan para pekerja. Dalam Surah At-Taubah ayat 105, Allah berfirman: “Bekerjalah kamu, maka Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu.

Artinya, kerja bukan sekadar aktivitas fisik, tapi manifestasi keimanan dan kontribusi sosial. Bahkan Rasulullah SAW bersabda: Berikanlah upah kepada pekerja sebelum keringatnya kering.
(HR. Ibnu Majah).

Pesan ini jelas, keadilan bagi pekerja adalah amanah agama. Maka siapapun yang mengambil manfaat dari kerja orang lain, wajib memberi hak mereka tanpa ditunda-tunda.

Hadis ini menegaskan pentingnya kecepatan dan keadilan dalam pemberian hak-hak pekerja, termasuk tenaga kesehatan. Mereka berhak mendapatkan gaji tepat waktu, insentif kerja malam, jaminan kesehatan, dan lingkungan kerja yang aman.

Dalam konteks ini, tenaga kesehatan adalah buruh dalam arti paling luhur, bekerja menyelamatkan kehidupan, menyembuhkan luka, dan menjaga generasi bangsa tetap sehat. Mereka tak minta disanjung, hanya ingin diakui.

Para dokter muda yang berjaga di puskesmas perbatasan tak minta pujian. Para bidan desa yang berjalan kaki ke rumah pasien tak berharap masuk TV. Tapi mereka ingin haknya, gaji yang layak, status kerja yang jelas, perlindungan hukum saat menjalankan tugas.

Dalam diam, banyak dari mereka mengalami tekanan mental, beban kerja berlebih, hingga kelelahan akut. Tapi karena sumpah profesi dan dedikasi, mereka tetap melayani.

Di Hari Buruh ini, mari perluas lensa kita. Jangan hanya bicara soal upah minimum atau kontrak kerja pabrik. Mari kita angkat suara bagi buruh kemanusiaan di dunia medis. Membangun negara sehat dimulai dari menghargai mereka.

Indonesia sedang berjuang menurunkan angka stunting, meningkatkan akses kesehatan, dan menggenjot kualitas layanan publik. Semua ini tak akan terjadi tanpa tenaga kesehatan yang kuat dan itu hanya mungkin jika mereka dihargai dan dilindungi.

Pemerintah perlu bergerak lebih progresif. Anggaran kesehatan harus benar-benar menyentuh para petugas lapangan. Kebijakan harus berpihak pada mereka yang selama ini menjaga kita diam-diam.

Bagi masyarakat, sudah saatnya kita berhenti memandang profesi medis sebagai pelayan pribadi. Mereka bukan pesuruh, tapi mitra kita menjaga hidup. Sapaan ramah, kesadaran untuk mengantre, dan apresiasi sederhana bisa menjadi bentuk penghormatan.

Hari Buruh untuk semua yang bekerja dengan cinta, mari rayakan Hari Buruh dengan lebih inklusif. Mari buka ruang bagi suara-suara dari rumah sakit kecil, klinik desa, dan ruang isolasi yang pengap. Mari akui mereka sebagai buruh kemanusiaan.

Islam menempatkan pekerja pada posisi yang mulia. Dalam Surat Al-Baqarah ayat 286, Allah berfirman: Laa yukallifullahu nafsan illa wus’aha. Artinya Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.

Ayat ini mengandung makna bahwa setiap pekerjaan memiliki batas kemampuan, dan pemberi kerja seharusnya tidak menuntut melebihi batas itu.

Ini sangat relevan dengan kondisi tenaga kesehatan yang sering kelelahan akibat jam kerja panjang atau sistem kerja tidak manusiawi. Dalam Surat At-Taubah ayat 105, Allah berfirman: Dan katakanlah: Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu pula Rasul-Nya dan orang-orang mukmin.

Ini menjadi penguat bahwa setiap kerja yang dilakukan dengan niat baik dan profesional adalah ibadah, dan akan dinilai oleh Allah SWT. Maka, kerja dokter yang menolong nyawa, kerja perawat yang menyeka keringat pasien, atau bidan yang menyambut kehidupan baru, semuanya memiliki nilai spiritual.

Kerja tenaga kesehatan adalah bentuk amal jariyah yang pahalanya terus mengalir. Ketika seorang dokter berhasil menyelamatkan pasien, atau seorang bidan membantu kelahiran yang sehat, maka manfaat itu terus tumbuh dalam kehidupan orang lain. Allah SWT memuliakan pekerjaan yang dilakukan dengan niat ikhlas dan keahlian.

Maka, dokter yang bekerja profesional dan tulus, sejatinya sedang melakukan jihad kemanusiaan. Dan seperti kata pepatah Arab, man jadda wa jada, barang siapa yang bersungguh-sungguh, ia akan berhasil. Maka untuk semua tenaga kesehatan yang bersungguh-sungguh dalam tugasnya, kami ucapkan terima kasih dan selamat Hari Buruh. (*)

Editor : Novitri Selvia
#Refleksi Hari Buruh #Perjuangan Tenaga Kesehatan #Dwi Yulia