Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Koperasi Merah Putih dan Industri Pakan Mikro, Sinergi Baru dari Peternak untuk Peternak

Adetio Purtama • Minggu, 18 Mei 2025 | 21:41 WIB

Rusmana Wijaya Setia Ningrat.
Rusmana Wijaya Setia Ningrat.
Penulis: Rusmana Wijaya Setia Ningrat

Fakultas Peternakan Unand

TULISAN ini merupakan kelanjutan dari artikel berjudul ”Peta Kebutuhan Industri Pakan Ruminansia: Pilar Utama Kemandirian Pangan Nasional", diterbitkan di Padang Ekspres dan jawapos.com edisi 10 Mei 2025.

Indonesia tengah menghadapi tantangan besar dalam menjaga ketahanan pangan berbasis protein hewani, terutama dari sektor peternakan ruminansia. Pakan, sebagai komponen terbesar dari biaya produksi ternak, menjadi titik krusial yang harus ditangani dengan strategi cerdas dan terintegrasi.

Salah satu terobosan kebijakan yang kini mencuat adalah inisiatif pendirian Koperasi Merah Putih oleh Presiden Prabowo Subianto. Koperasi ini dirancang untuk memperkuat ekonomi rakyat melalui sistem gotong royong dan swadaya nasional, termasuk di dalamnya sektor pertanian dan peternakan. Dalam konteks industri pakan ternak, Koperasi Merah Putih dapat menjadi tulang punggung dalam mendukung kemandirian peternak melalui pendirian pabrik pakan skala mikro berbasis komunitas.

Mengapa Pakan Mikro?

Mengapa Koperasi?

Mayoritas peternak ruminansia di Indonesia merupakan pelaku usaha kecil yang bergantung pada bahan pakan seadanya. Mereka rentan terhadap fluktuasi harga pakan komersial dan keterbatasan distribusi, terutama di daerah 3T (terdepan, terluar, tertinggal). Di sinilah pabrik pakan mikro berbasis koperasi menjadi jawaban strategis.

Pabrik pakan mini tidak membutuhkan modal besar, dapat memanfaatkan sumber daya lokal seperti limbah pertanian dan hijauan setempat, serta mudah dioperasikan oleh kelompok tani ternak. Dengan pengelolaan koperatif, keuntungan tidak hanya dinikmati segelintir pihak, tetapi diputar kembali untuk kesejahteraan anggota.

Koperasi Merah Putih, dengan jaringan nasional dan dukungan regulasi pemerintah, dapat menyediakan infrastruktur, pelatihan, hingga akses permodalan bagi peternak yang ingin mendirikan pabrik pakan lokal di desanya.

Model Bisnis: Dari Petani,

oleh Petani, untuk Petani

Koperasi bukan sekadar wadah formal, tetapi ekosistem bisnis berbasis nilai kebersamaan. Dalam konteks pakan ternak, koperasi dapat menjalankan sejumlah fungsi.

Pertama, produksi pakan dengan teknologi sederhana (fermentasi, silase, pellet) berbahan baku lokal. Kedua, distribusi internal ke anggota koperasi dengan harga lebih terjangkau dibanding pakan komersial. Ketiga, penjamin kualitas dan standar nutrisi, didampingi oleh tenaga teknis dari dinas atau kampus mitra. Keempat, pemasaran hasil ternak anggota koperasi secara kolektif dan lebih bernilai.

Dengan pendekatan ini, koperasi menjadi lokomotif ekonomi peternak yang terintegrasi dari hulu hingga hilir.

Peluang Akselerasi

Pembangunan Peternakan Desa

Presiden Prabowo Subianto dalam berbagai kesempatan menegaskan pentingnya kemandirian pangan nasional yang bertumpu pada penguatan koperasi rakyat. Salah satu wujud nyata dari visi tersebut adalah inisiatif pendirian Koperasi Merah Putih, yang dijadwalkan akan diluncurkan secara resmi pada 12 Juli 2025.

Hingga saat ini, sosialisasi baru menjangkau sekitar 6,3% dari total 83.750 desa sasaran, dan baru 0,3% koperasi yang telah terbentuk serta memperoleh status badan hukum. Meski masih dalam tahap awal, program ini menyimpan potensi besar untuk menjangkau wilayah-wilayah peternakan di desa-desa yang selama ini belum tersentuh teknologi dan akses pembiayaan yang memadai.

Apabila di setiap kecamatan terdapat koperasi peternak yang dilengkapi dengan fasilitas pabrik pakan skala mikro, maka distribusi pakan akan menjadi lebih merata, biaya produksi dapat ditekan secara signifikan, dan produktivitas ternak pun meningkat.

Konsekuensi positifnya tidak hanya dirasakan dalam bentuk peningkatan pendapatan peternak, tetapi juga memperkuat posisi Indonesia dalam menghadapi tantangan ketahanan pangan global secara lebih strategis dan berkelanjutan.

Kolaborasi Pentahelix

Keberhasilan program Koperasi Merah Putih dalam mengembangkan industri pakan mikro memerlukan pendekatan kolaboratif berbasis model Pentahelix. Sinergi antar unsur—akademisi, pelaku usaha, pemerintah, komunitas, dan media—harus dibangun secara sistematis dan berkelanjutan. Kalangan akademisi dan institusi pendidikan tinggi dapat mengambil peran strategis melalui riset terapan, pelatihan formulasi pakan, dan pendampingan teknis.

Dunia usaha berkontribusi melalui penyediaan peralatan produksi, teknologi tepat guna, serta membuka akses pasar. Pemerintah hadir sebagai fasilitator dengan memberikan insentif, regulasi yang mendukung, dan kebijakan afirmatif. Komunitas peternak menjadi ujung tombak implementasi di lapangan, sementara media massa dan digital berperan menyebarluaskan praktik-praktik baik (best practices) dan mengangkat narasi keberhasilan koperasi sebagai inspirasi bagi daerah lain. Melalui kolaborasi lintas sektor inilah, upaya membangun ketahanan pakan nasional berbasis desa dapat tumbuh kuat, inklusif, dan berkelanjutan.

Inisiatif pendirian Koperasi Merah Putih bukan sekadar simbol kebangkitan ekonomi berbasis rakyat, tetapi merupakan langkah strategis untuk membangun industri pakan mikro yang berpijak di desa-desa. Melalui pendekatan koperatif—dikelola oleh peternak, untuk peternak, dan demi ketahanan pangan nasional—tercermin kekuatan sejati bangsa ini: gotong royong dan kemandirian.

Baca Juga: UBH Wisuda 596 Mahasiswa Bertepatan Dies Natalis ke-44, Cetak Generasi Unggul Visi Bung Hatta

Apabila peternak dibekali dengan alat, pengetahuan, dan kelembagaan yang kokoh, maka swasembada pakan bukan lagi sekadar wacana, melainkan langkah pasti menuju kedaulatan produksi daging dan susu nasional. Di sinilah revolusi pakan dimulai—dari desa, oleh masyarakat, untuk masa depan pangan Indonesia yang berdaulat dan berkelanjutan. (*)

Editor : Adetio Purtama
#Industri Pakan Mikro #peternak #Koperasi Merah Putih