Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Pedalaman Sumatera Barat sebagai “Indisch Zwitserland” (Swiss-nya Hindia Belanda)

Ego Arianto • Minggu, 25 Mei 2025 | 07:48 WIB
Lembah Harau sekitar tahun 1890-an. (Dok. KITLV-Leiden University Libraries).
Lembah Harau sekitar tahun 1890-an. (Dok. KITLV-Leiden University Libraries).

Oleh: Ego Arianto (Analis Sumber Sejarah, Disdikbud Padang)

 “Daerah pedalaman Sumatera Barat dulu dijuluki sebagai Swiss-nya Hindia Belanda (Indisch Zwitserland). Begitu memandang Lembah Harau, Lembah Anai, Danau Maninjau, atau Alahan Panjang, seolah-olah Anda sedang berada di Swiss.”

 Keindahan alam daerah pedalaman Sumatera Barat tak pernah gagal bikin takjub wisatawan. Pasalnya, sejumlah objek wisata di kawasan yang dulu dinamai ‘Padangsche Bovenlanden’ itu, menawarkan pesona yang tak kalah memikat dibandingkan dengan objek wisata di Jawa maupun di luar negeri. Bahkan, saking indahnya, beberapa wisatawan dan pengelana dulu menjuluki daerah itu dengan ‘Indisch Zwitserland’ (Swiss-nya Hindia) atau ‘Oost-Indisch Zwitserland’ (Swiss-nya Hindia Timur).

 “Julukan ‘Indisch Zwitserland’ yang disematkan pada dataran tinggi ini, memang sangat tepat,” tulis Wingen dalam Paardenfokkerij en Wedrennen in de Padangsche Bovenlanden (1903).

Baca Juga: 8 Kebiasaan Unik di Tempat Kerja yang Diam-diam Dilakukan Banyak Orang

Wingen menyebut, rangkaian pegunungan, perbukitan, dan lembah-lembah di pedalaman Sumatra Barat ini sebagai salah satu yang terindah di dunia. Di sini, perpaduan antara perbukitan dengan lereng-lereng curam, serta beberapa danau besar–yang sulit ditemukan di tempat lain di Hindia–menjadikannya amat mirip dengan yang ada di Swiss.

Lalu, objek-objek wisata mana saja yang memancarkan nuansa alam khas Swiss itu? Bagaimana para pelancong dan orang Belanda dulu melukiskan perbandingan antara objek wisata di pedalaman Sumatra Barat dengan yang ada di Swiss?

Sedikitnya, ada empat objek wisata di pedalaman Sumatra Barat yang disebut-sebut identik, atau bahkan mampu menandingi keindahan alam Swiss. Keempat objek wisata itu adalah Lembah Harau, Lembah Anai, Danau Maninjau, dan Alahan Panjang.

Pertama, Lembah Harau (Arau-kloof)

Lembah Harau merupakan objek wisata yang paling sering disebut sebagai Swiss-nya Hindia Belanda, atau paling tidak Swiss-nya Sumatra Barat. Mengutip “Encyclopaedie van Nederlandsch-Indie” (1917), Lembah Harau terletak sekitar 16 km arah timur laut Payakumbuh. Karakter khas lembah ini ditandai dengan keberadaan tebing-tebing lembah yang tegak lurus, dengan tinggi rata-rata 125 meter.

Di beberapa titik, jarak antar tebing menyempit hingga 20 meter saja; tetapi, di bagian lain melebar kembali hingga ratusan meter. Tebing-tebing ini memiliki alur (retakan) yang dalam–seperti halnya Gunung Batu Pasir Elbe di perbatasan Jerman dan Ceko, dan juga mirip dengan Saxon Switzerland di Jerman karena strukturnya yang mudah ditembus air.

Kemiripan Lembah Harau dan Swiss mula-mula diungkap oleh P.J. Veth, ahli geografi dan etnologi Belanda, ketika mengunjungi Lembah Harau pada 1877. Dalam bukunya “Midden-Sumatra” (1881), Veth menulis, “Lembah ini, secara keseluruhan, mengingatkan Anda pada Lembah Lauterbrunnen di Swiss, seakan-akan Anda benar-benar berada di sana.”

Baca Juga: Bukan Gaji Tinggi! Ini 8 Kebiasaan Orang yang Sudah Mencapai Kemandirian Finansial

Di beberapa tempat, dinding-dinding (tebing) Harau dihiasi oleh tumbuhan dan pakis, sehingga menghadirkan kesan megah dan khas pada keseluruhan lanskap lembah itu.

Kedua lembah ini juga sama-sama dipuji karena keindahan air terjunnya. Seperti Lembah Lauterbrunnen dengan air terjun Staubbach yang terkenal, Lembah Harau juga dipenuhi oleh air terjun. Meski air terjun di Lembah Harau lebih kecil, kata Veth, tetapi di sini jumlahnya lebih banyak dibanding Lembah Lauterbrunnen.

Veth juga membandingkan Sungai Batang Harau dan Sungai Weisse Lutschine di Lauterbrunnen. Kedua sungai ini sama-sama mengalir deras di antara tebing-tebing yang curam. Batang Harau mengalir menelusuri lembah sempit dengan hamparan batu besar, serupa dengan Weisse Lutschine yang dikenal sebagai sungai pegunungan Swiss–juga berarus kuat dan berada di lembah yang curam.

Kesan-kesan Veth di atas kemudian dikutip ulang dalam berbagai buku panduan wisata, misalnya dalam buku L.C. Westenenk, “Acht Dagen in de Padangsche Bovenlanden” (1909).

Kedua, Lembah Anai (Anei-kloof)

Objek wisata lain yang juga dikenal sebagai Swiss-nya Hindia adalah Lembah Anai. Dalam “Encyclopaedie van Nederlandsch-Indie” (1917) disebut bahwa, Lembah Anai terbentuk akibat aliran Sungai (Batang) Anai yang dalam waktu sangat lama mengikis dan menggerus batuan Pegunungan Bukit Barisan–sehingga menghasilkan sebuah jalur lembah yang sangat dalam dan sempit.

Bagian tersempit dan terindah dari lembah ini panjangnya 6 km. Tetapi, jika dilihat secara lebih luas, Lembah Anai mencakup keseluruhan jalur lembah dan celah Pegunungan Bukit Barisan, yang membentang dari Kayu Tanam (140 mdpl) hingga Padangpanjang (773 mdpl). Di lembah ini terdapat air terjun, tingginya 25 meter, dan dianggap sebagai salah satu pemandangan paling menawan.

Ada tiga rupa Lembah Anai yang digambarkan mirip dengan Swiss: lanskap lembah, jalan, dan jembatan. J.F. van Bemmelen dan G.B. Hooyer, dalam buku panduan wisata “Reisgids voor Nederlandsch-Indie” (1896), membandingkan persamaan dan perbedaan antara Lembah Anai dan Lembah Reuss di Swiss.

Baik Lembah Anai maupun Lembah Reuss sama-sama sangat dalam dan curam. Akan tetapi, Lembah Reuss yang terkenal karena tebing-tebing batu yang tinggi dan gersang–memberikan kesan keras dan kering; berbanding terbalik dengan Lembah Anai yang ditutupi oleh vegetasi tropis yang lebat, hijau, dan subur.

Bemmelen dan Hooyer juga memuji pemandangan dan jalan dari Kayu Tanam ke Padangpanjang yang melintasi Lembah Anai. “Kami belum pernah melihat ‘tandingan’ yang begitu indah untuk Jalan Gotthard (Gotthard-Strasse) yang terkenal dari Göschenen ke Andermatt, seperti jalan sepanjang 15 km yang melalui lembah Sungai Anai,” tulis mereka.

Akan tetapi, Bemmelen dan Hooyer tidak melulu bicara perihal keindahan. Mereka juga menyinggung soal bencana alam yang pernah melanda kedua lembah itu beberapa tahun sebelumnya. Di Lembah Reuss, pada 1888, bencana longsor salju (dari lereng gunung) mengakibatkan air sungai meluap dan menghancurkan sebuah jembatan tua terkenal, Teufelsbrücke. Hal serupa tapi tak sama juga dialami Lembah Anai. Pada 1892, hujan lebat yang turun sepanjang malam 23-24 Desember, menyebabkan Sungai Anai meluap dan mendatangkan bencana banjir bandang. Bencana itu berakibat pada rusaknya jembatan kereta api.

Ketiga, Danau Maninjau

Selain Lembah (Harau dan Anai), rupa bumi pedalaman Sumatra Barat lain yang disandingkan dengan Swiss adalah Danau Maninjau. “Encyclopaedie van Nederlandsch-Indie” (1918) menyebut, Danau Maninjau merupakan sebuah danau vulkanik yang terletak di barat laut Dataran Tinggi Agam–terbentuk akibat letusan dahsyat gunung berapi purba (Gunung Maninjau). Letusan ini menghancurkan puncak dan kawah-kawahnya, dan membentuk sebuah kaldera berbentuk elips seluas sekitar 100 km2. Kaldera ini kemudian terisi air dan menjadi Danau Maninjau.

Permukaan Danau Maninjau berada pada ketinggian 459 mdpl, dengan panjang sekitar 16,6 km dan lebar maksimum 8 km. Di sini terdapat Sungai (Batang) Antokan, yang mengalirkan air dari danau itu ke arah pesisir barat Sumatera. Selain itu, Danau Maninjau dikelilingi oleh lereng-lereng yang curam, terutama di bagian timur dengan ketinggian mencapai 700 meter.

“Tepat di depan tempat kami berdiri, ada sebuah padang rumput yang mengingatkan kami pada (pemandangan) Swiss. Kami melihat sebuah lembah yang dilalui oleh Sungai Antokan, yang menjaga permukaan air agar tetap berada pada ketinggian saat ini,” tulis Bemmelen dan Hooyer dalam “Reisgids voor Nederlandsch-Indie”.

Bemmelen dan Hooyer juga menyanjung, bahkan menganggap Danau Maninjau lebih mengesankan dibandingkan Vierwaldstatter (Danau Luzern) di Swiss. “Pemandangan tebing-tebing di sisi utara Gunung Burgenstock, yang menjulang hingga 700 meter dari perairan hijau kebiruan Vierwaldstätter, terasa kalah megah bila dibandingkan panorama yang satu ini,” tulis mereka memuji keindahan Maninjau.

Keempat, Alahan Panjang

Last but not least, objek wisata yang juga sebanding dengan Swiss adalah Alahan Panjang. Ketika berkunjung ke daerah itu pada 1877, Veth, dalam “Midden-Sumatra” (1881) menulis, danau-danau di sekitar Alahan Panjang layak untuk disebut dalam buku panduan perjalanan. Veth menekankan keberadaan danau-danau itu memiliki nilai keindahan dan daya tarik visual. Ia membandingkan danau-danau di sana [mungkin maksudnya Danau Diatas dan Danau Dibawah] dengan danau-danau di Swiss, yang terkenal karena pemandangan dan pegunungan sekitarnya yang indah.

“Meski danau-danau itu memberikan kesan yang lebih ‘muram’ dibandingkan danau-danau di Swiss, namun mereka tetap memperindah lanskap dengan cara yang mempesona dan memikat pandangan dengan tak tertahankan, karena di daerah ini jarang ditemukan perairan tenang yang begitu luas,” tulis Veth.

Catatan Veth, bahwa danau-danau di Alahan Panjang sudah sepatutnya dimasukkan dalam buku panduan wisata, akhirnya terwujud lewat buku “Reisgids voor Nederlandsch-Indie” (1896)–buku panduan perjalanan pertama ke Hindia-Belanda.

Demikianlah sedikit catatan sejarah perihal “Indisch Zwitserland” (Swiss-nya Hindia Belanda), sebuah julukan yang lahir dari kekaguman para pelancong dan penulis kolonial terhadap keindahan alam pedalaman Sumatera Barat. (*)

Editor : Eri Mardinal
#sumatera barat #hindia belanda #swiss