Warna bisa saja berbeda, partai yang membesarkanyapun tidak sama. Namun, apa yang dipertontonkan dua Jendral Purnawirawan TNI AD dalam memimpin bangsa ini jelaslah membuat kita bangga. Disini terlihat ada adab dan etika tinggi yang terjaga demi kemajuan bangsa.
Sejarah pernah mencatat bagaimana "kompetisi" antara Prabowo Subianto dengan Soesilo Bambang Yudhoyono. Baik di saat mereka masih Taruna Akmil hingga dalam penugasan militer.
Kompetisi dibingkai dalam persaingan sehat mengantarkan mereka ke puncak karir walaupun sama-sama tak mampu menyentuh bintang empat aktif. Keduanya sama-sama finish di pangkat Letnan Jendral dan sama-sama pula menyandang Jendral Purnawirawan.
Dalam dunia politik pun begitu. Kalau hari ini dua Jendral angkatan 1973 terlihat seiring sejalan maka jelaslah berbeda dimasa lalunya. Gerindra yang dinahkodai Prabowo Subianto pernah berhadap hadapan dengan Demokrat yang membesarkan SBY. Pilpres 2009-2014 Gerindra berkoalisi dengan PDI P dan mengusung Megawati-Prabowo. Sementara Demokrat mengusung SBY-Boediono.
Di kancah politik lokal juga tak jarang bersimpang jalan. Pada Pikada Gubernur DKI, Gerindra mengusung Anies Baswedan-Sandiaga Uno sedangkan Demokrat mengusung Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni. Bisa jadi pada Pilkada lain antara Demokrat dan Gerindra ada persimpangan dan sebaliknya juga sejalan.
Kini semuanya berubah, Pasca tak lagi menjadi pucuk pimpinan nasional, Demokrat secara politik terkesan lebih banyak dan mendukung Gerindra khususnya perjuangan individu Prabowo Subianto. Mulai dari Pilpres 2014-2019, 2019-2024 dan teranyarnya Pilpres 2024-2029. Tiga kali beruntun Demokrat mendukung Prabowo. Memang di Pilpres 2024-2029 Demokrat sempat membangun koalisi dengan Nasdem dan PKS, namun manuver politik PKB membuat "tersinggung" Demokrat dan kembali bergabung ke koalisi Prabowo Subianto.
Dari rentetan diatas kita melihat secara implisit kompetisi personal antara SBY dan Prabowo sebagai nahkoda partai benar benar sudah usai. Sebagai kompetitor dalam berkarir, SBY terkesan ingin memperjuangkan teman satu angkatanya di Akmil Magelang. Pintu politik Demokrat dibukakan dengan lebar. Sumbangsih pemikiran dan gagasan diberikan agar SBY agar Presiden Prabowo bisa memimpin negeri ini lebih baik.
Adab dan Saling Membesarkan
Ada dinamika menarik hari ini dikancah nasional. Prabowo sebagai pemimpin bangsa memilih merangkul dan berjabat tangan dengan para mantan. Ada adap dan etika yang dijaga Prabowo dengan baik. Di depan publik luas Prabowo secara kesatria juga memperlihat sikap dan adab menghargai para sepuh dan tokoh bangsa termasuk ke pak SBY. Masukan masukan SBY selalu menjadi pertimbangan.
Contohnya, dihadapan mahasiswa Universitas Pertahanan Presiden Prabowo mengulas bagaimana konpetisinya dengan pak SBY dimasa lalu. Diujung kalimat Prabowopun dengan kesan berkelakar, "tiru lah pak SBY". Lisan Prabowo tidaklah parsial, sebelumnya dalam Pidato singkat SBY mengungkapkan, "Saya 20 menit yang lalu di dapuk pak Prabowo untuk menyampaikan satu, dua patah kata. Karena ini adalah perintah dari Panglima Tertinggi TNI maka jawaban saya hanya satu SAYA SIAP".
Begitu juga terkait gaduhnya empat pulau di Aceh dan Sumut. SBY mengambarkan latar belakang bagaimana perjanjian damai Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan NKRI dibingkai. Jalan panjang dan berliku bersama tim perdamaian dipaparkan dengan detail. Pesan akhirnya dari ucapan SBY NKRI harus di rawat.
Sama halnya dengan Pak Jusuf Kalla selaku pelaku sejarah letak Geografis tak otomatis jadi penentu wilayah administrasi sebuah pulau. Pesan, Presiden SBY dan Wapres Jusuf Kalla ini ditangkap jernih. Dalam hitungan hari melalui diskresinya ke empat pulau yang memicu ketegangan pasca dialihkan ke Sumatera Utara di kembalikan ke Provinsi Aceh.
Apa yang dapat dipetik dari uraian ini. Sebagai pemegang kuasa, Prabowo tidak mau bertindak gegabah. Masukan demi masukan dari kompetitor dan mantan wajib juga didengar. Kesan yang bisa ditangkap adalah Prabowo tidak ingin berjalan sendiri, para tokoh dan para pendahulu pemimpin bangsa sangat patut didengar dan dijadikan rujukan dalam mengambil keputusan. Sungguh ini sebuah sikap yang sangat patut ditauladani. Semoga saja harmonisasi dan saling membahu ini terus berlanjut.
Menko Rasa Wapres
Tulisan ini agak terkesan berlebihan. Secara fakta dan data Menko adalah "anak buah" Presiden/Wakil Presiden. Menko tidaklah lebih tinggi dan lebih hebat dibandingkan Wakil Presiden. Menko hanya pesuruh, orang yang ditunjuk dan disuruh bekerja untuk menterjemahkan visi Presiden/Wakil Presiden khususnya untuk bidang yang di amanahkan.
Dalam ruang publik dan canal medsos serta media meanstreem belakangan ini kita melihat sesuatu yang berbeda. Dalam berbagai kesempatan Presiden Prabowo lebih banyak menugaskan AHY ketimbang Menko dan Mentri lainnya. Dalam tulisan ini saya mencoba berpikir positif. Bisa jadi Presiden menghargai Wapresnya sehingga "sungkan" untuk menugaskan.
Jamak dan dalam banyak moment kita melihat AHY lebih banyak ditugaskan. Kesempatan menonjol ini terlihat jelas pada diplomasi dan ivent internasional. Pertemuan serta ivent internasional kita lebih banyak melihat AHY mewakili Indonesia dibanding Wapres Gibran ataupun Menlu Sugiono. Baik di level Asia, Eropa hingga ke Perserikatan Bangsa Bangsa. Kalaulah alasan bahasa dan kemampuan serta publik speaking rasanya Mentri Luar Negeri Sugiono juga mengusai banyak bahasa. Apakah sebenarnya terjadi hanya Prabowolah yang tau pasti.
Membingkai 2029-2034
Terlalu dini memang ini dimunculkan. Dalam kontek politik semuanya bisa berkelebat dengan sekejap. Politik itu dinamis, semuanya cair dan bisa saja berubah sesuai dengan kondisi dan kepentingan politik masing masing.
Kalau kita lihat catatan, Demokrat bukanlah "sekutu" utama dalam koalisi Prabowo di Pilpres 2024-2029. Manuver PKB lah yang membuat Demokrat "Hijrah" ke Prabowo yang kemudian mengusung Prabowo - Gibran. Ada sejumlah partai besar yang sedari awal jelas dan terang mengusung Prabowo. Diantara partai itu adalah Golkar dan PAN. Tapi mengapa tidak kader partai partai itu yang didorong dan diberi ruang di panggung lokal dan internasional.
Kenapa hari ini harmonisasi itu terjadi begitu kental antara Gerindra dengan Demokrat. Apakah kedua partai ini sama sama melihat bangsa ini membutuhkan soliditas dan keberlanjutan. Atau antara Demokrat dan Gerindra benar benar sudah terpatri dalam bingkai visi yang sama.
Satu hal yang tampak berkasat mata adalah sikap menahan dan tau dirinya SBY. Pasca lepas dari Presiden, SBY tak mau melibatkan diri terlalu jauh dalam pemerintahan. Kalau tak diminta dan diajak untuk sumbang ide serta pemikiran SBY lebih memilih diam.
SBY melarutkan diri dalam hobinya yang terlupakan. SBY lebih memilih menulis, melukis, bermain volly serta berbaur bersama keluarga. SBY baru memperlihatkan reaksi dalam dua hal saja. Pertama partainya diganggu dan kedua ada sesuatu hal mendesak untuk disikapi demi stabilitas bangsa. Di luar dua hal itu kita melihat SBY lebih memilih berdiam diri.
Apa ada kaitannya dengan Pilpres 2029-2034? Bisa saja Gerindra-Demokrat akan melanjutkan koalisi yang sudah dimulai semenjak 15 tahun yang lalu. Sikap tak "cawe cawe" SBY dalam pemerintahan dan melindungi "putra mahkotanya" membuat Prabowo yakin dan percaya tidak ada "matahari kembar" dalam pemerintahan.
Selain sikap kenegarawanan SBY, Prabowopun seperti yakin dan terkesima dengan Juniornya bernama Agus Harimurti Yudhoyono. Intelegtualitas, integritas dan loyalitas AHY sebagai seorang prajurit muda Peraih Adimakayaksa membuat Prabowo nyaman dan percaya. Bisa saja kepercayaan demi kepercayaan, kesempatan demi kesempatan meneguhkan pilihan Prabowo Subianto untuk bergandengan tangan pada Pilpres 2029-2034. Mari kita tunggu saja perjalanan waktu. (***)
Editor : Hendra Efison