Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Video Viral Pramuka Memotong Bendera, Ujian Nasionalisme yang Tak Perlu Viral

Heri Sugiarto • Minggu, 17 Agustus 2025 | 09:18 WIB

Wahyudi Agus (Kak Yud), Pembina/Anggota Gerakan Pramuka Sumatera Barat.(Foto: DOK.PRI)
Wahyudi Agus (Kak Yud), Pembina/Anggota Gerakan Pramuka Sumatera Barat.(Foto: DOK.PRI)
Oleh: Wahyudi Agus (Kak Yud), Pembina/Anggota Gerakan Pramuka Sumatera Barat.

PADEK.JAWAPOS.COM-Salam Pramuka. Sebuah video pemotongan bendera di salah satu Gugus Depan atau Gudep di Padang, Sumatera Barat, oleh peserta didik Gerakan Pramuka viral di jagad maya.

Sebagian menilai hilangnya rasa nasionalisme, dan sebagian memahami bahwa itu merupakan sebuah proses ujian atau menguji peserta didik tingkat Penegak yang hendak naik golongan dari Bantara ke Laksana, sejauh mana jiwa nasionalismenya.

Secara kasat mata yang terlihat memang bendera tersebut digunting atau dipotong-potong. Namun di balik itu ada makna yang dalam terhadap peserta didik saat menjalani prosesi kenaikan golongan.

Namun, saya menilai ada teknis yang kurang tepat dalam menjalankan prosesi tersebut. Karena pemotongan bendera dilakukan secara terbuka. Secara umum, beberapa Gugus Depan (pangkalan pramuka), melakukan prosesi ini dengan dua metode.

Pertama, di hadapan pembina penguji (berdua saja). Ketika perintah tersebut dikeluarkan, maka si peserta didik akan berpikir dalam-dalam. “Bolehkah bendera merah putih simbol negara ini saya potong..?”.

Maka sebagai Pramuka tingkatan Penegak, peserta didik ini biasanya akan merenungi perintah tersebut secara mendalam. Tak jarang di antara mereka meneteskan air mata ketika gunting yang mereka pegang didekatkan ke bendera.

Bahkan banyak juga di antara mereka yang menangis terisak dan tak sanggup memotong simbol negara tersebut.

Di sisi lain, ini adalah perintah yang harus dilaksanakan karena mereka akan menaiki golongan Laksana. Artinya harus melaksanakan setiap tugas atau pekerjaan yang diberikan.

Perintah memotong bendera ini sebenarnya bukan perintah secara harfiah. Namun, perintah penuh makna menguji kedewasaan berpikir dan jiwa nasionalisme peserta didik itu sendiri.

Bagaimana jika mereka memang memotongnya? Maka sebagian pembina memutuskan peserta didik tersebut gagal dan kembali diajarkan sikap nasionalisme secara lebih mendalam.

Namun prosesi ini dilakukan secara empat mata: antara si pembina dan si peserta didik saja. Tidak boleh dilihat siapapun.

Metode kedua, prosesi ini dilakukan secara tertutup dengan perintah tidak boleh diketahui oleh siapapun. Termasuk oleh pembina yang menugaskan.

Si peserta didik golongan Penegak Bantara yang akan naik ke golongan Laksana ini diberi sehelai bendera dan sebuah gunting. Dengan perintah, potong bendera dan tidak boleh dilihat atau diketahui siapapun.

Setelah menerima tugas tersebut, peserta didik tadi dipersilahkan mencari tempat dimana saja yg tidak diketahui siapapun. Dalam durasi tertentu, bisa satu jam atau dua jam Penegak yg naik golongan dipanggil satu persatu.

Dalam sebuah ruangan yang tidak dilihat peserta lain, bendera yang harus kembali dilipat tersebut, diperiksa. Apakah benar-benar dipotong atau tidak.

Bagi yan memotong, maka peserta didik tersebut gagal, dan kembali diberi pemahaman tentang nasionalisme dan cara berpikir. Salah satunya, perintah tidak boleh dilihat siapapun adalah ‘clue’ penting bagi peserta kenaikan golongan.

Jika mereka berpikir dewasa, maka yang teringat adalah dimanapun tugas potong bendera ini dilakukan tetap tidak bisa, karena jika tidak dilihat oleh manusia maka Tuhan pasti melihat setiap gerak gerik manusia. Sehingga si peserta didik senantiasa selalu ingat dengan Tuhan-nya. Begitu maknanya.

Saya selaku anggota Gerakan Pramuka dari tingkatan Penggalang, Penegak, Pandega dan Pembina (saat ini), memahami ini karena prosesi tersebut pernah saya jalankan ketika naik dari golongan Penegak Bantara ke Laksana.

Apakah bendera tersebut dulu saya potong?

Maka jawabannya tidak akan saya buka di sini karena prosesi waktu itu sangat rahasia dan tidak boleh diceritakan ke siapapun.

Kala itu, pembina penguji dan peserta didik terikat janji tidak dibolehkan menceritakan hasil dari prosesi kenaikan, khususnya saat ujian potong bendera ke siapapun dan sampai kapanpun.

Maka dengan ini saya simpulkan, proses yang berlangsung di video di.atas bukan kesalahan teknis, namun merupakan teknis yang tak lazim. Dan tak perlu didokumentasikan hingga viral.

Tak ada niat memotong bendera karena tidak mencintai NKRI. Tujuannya memang menguji nasionalisme dan patriotisme. Hanya saja kali ini dilakukan di depan umum, dan diera apa saja bisa viral melalui gadget di tangan.(*)

Editor : Heri Sugiarto
#kenaikan golongan Laksana #Wahyudi Agus #patriotisme Pramuka #video viral pramuka #ujian nasionalisme Pramuka #Penegak Bantara #memotong bendera