Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Ba Baliak ka Pangka Jalan

Hendra Efison • Minggu, 17 Agustus 2025 | 14:06 WIB

Two Efly
Two Efly
Oleh: Two Efly, Wartawan Padang Ekspres

Ada pemandangan yang berbeda dalam HUT RI ke-80 tahun. Selama 10 tahun momentum sakral dan sarat nilai perjuangan itu berubah jadi "karnaval kebudayaan". Beralasan untuk mengangkat budaya lokal, pakaian adat dipakai di momentum tahunan tersebut.

Saya termasuk orang yang tak setuju dengan pemakaian pakaian adat ini. Di mata saya cara mengangkat dan menghargai kearifan lokal tidaklah dengan mencampur-baurkan seperti itu. Pidato kenegaraan, upacara HUT Kemerdekaan bukanlah wadah untuk itu fashion show. Ketiga momen itu adalah waktu yang tepat untuk merenung dan memikirkan nasib dan menetapkan arah perjalanan bangsa di masa depan.

Terus terang memasangkan pakaian adat dalam tiga momentum itu di mata saya telah mereduksi subtansi dari kegiatan. Fakta di lapangan lebih menunjukkan pikiran dan pandangan orang seperti apa. Bapak Presiden atau Menteri itu pakai pakaian adat mana? Ibu Menteri ini pakai pakaian adat suku apa. Maaf, fashion show-nya  lebih menonjol di pikiran publik dari pada kegiatan resmi kenegaraan.

Saya sangat senang Presiden Prabowo "ba baliak ka pangka jalan". Selama 10 tahun para pelaksana bangsa ini kita sudah "tersesat", parahnya tersesatnya juga sudah cukup jauh dan lama. Dalam "ketersesatan" itu tak ada yang mau mengkoreksi "ketersesatannya". Kita seakan-akan bangga dengan naturalisasi bungkusan pakaian adat. Maaf, menampilkan pakaian adat dalam momentum resmi kenegaraan seperti itu adalah tak ubahnya menempatkan sesuatu tidak sesuai dengan tempatnya.

Kini semua itu dikoreksi dengan sikap dan perbuatan oleh Presiden Prabowo Subianto. Prabowo tanpa banyak wacana lebih memilih menggunakan stelan resmi. Prabowo dalam pidato kenegaraannya menggunakan stelan jas dan terlihat sangat rapi serta berwibawa. Memang beginilah seharusnya bangsa ini menghargai perjuangan para pendiri bangsa.

Sejumlah tokoh seperti SBY, Jokowi, JK, Boediono, Try Sutrisno dan Ma'ruf Amin juga melakukan hal yang sama. Semua mantan Presiden dan mantan Wakil Presiden tadi menggunakan pakaian resmi (stelan jas). Bahkan warna Jas mereka pun nyaris sama.

No Gimmik, No Simbol

Saya sudah hampir 10 tahun tak menonton dan melihat detik-detik Proklamasi. Kenapa? Saya jenuh dan malas. Momen yang di mata saya adalah sakral dan monumental diubah menjadi "carnaval budaya".

Kemarin, saya mencoba menghidupkan televisi. Saya tunggu dan saya ikuti detik-detik Proklamasi. Saya ikuti rangkaian kegiatan itu mulai dari awal sampai selesai. Saya amati dengan detail satu-satu mata rantai acara.

Senang sekali kita melihat anak anak bangsa dengan gagah melangkah dan menaikkan bendera. Wajah wajah optimistis dari anak bangsa ini semakin membawa kita kian yakin visi Indonesia Emas di masa mendatang benar adanya. Mereka dengan tulus dan penuh tanggung jawab menjalankan tugasnya. Bangga dan haru kita melihatnya.

Di panggung utama Presiden Prabowo tampak bangga dan haru. Wajahnya, nyaris hampir menagis menahan haru terpancar jelas. Dengan membungkukkan badan beliau mencium bendera sebelum dikibarkan. Kreasi dari rasa nasionalisme ini menimbulkan kesan natural nasionalisme dari dalam diri Prabowo.

Terus terang saya merasa HUT Kemerdekaan ke 80 ini benar-benar terasa berbeda. Beda tampilan, beda kemasan beda tampilan. Ada kreativitas dari anak Paskibraka membuat simbol 80 sebagai penanda HUT ke 80. Walau terasa biasa namun, di mata saya rangkaian ini terasa sangat berbeda.

Dari serangkaian rasa bangga itu adalah diletakkannya kembali uniform (pakaian-red) di momemtum besar. Peringatan Kemerdekaan tidak lagi dijadikan ajang karnaval budaya. Setidaknya oleh para pelaksana negara. Prabowo telah mengembalikan sesuatu pada tempatnya, terima kasih untuk koreksiannya.

Jalan Tengah Masa Depan

Di hadapan MPR RI kemarin Presiden Prabowo menyampaikan pidato kenegaraan terkait arah APBN 2026. Banyak sekali hal menarik yang bisa menjadi alasan kita untuk optimistis menatap masa depan.

Selain gaya bicara dan pilihan kata yang bagus pada setiap lisan, Prabowo juga berbicara konfiden sehingga disadari atau tidak membawa aura optimisme.

Sejumlah indikator ditetapkan dalam nota pengantar APBN 2026. Selain menetap asumsi asumsi dasar yang logis juga mencerminkan optimisme jalannya pemerintahan masa depan.

Nilai tukar dipatok dengan asumsi Rp16.500 - Rp16.900. Harga minyak dunia dipatok US 60/barel - US 80/barel. Nilai APBN 2026 di usulkan menjadi Rp3.800 - Rp3.820 Triliun.  RAPBN 2026 ini naik signifikan dibandingkan APBN 2025 sebesar Rp3.527 Triliun.

Naiknya APBN tentukan cerminan sebuah sikap optimisme di tengah kondisi global yang tak menentu. Target pendapatan negara tahun 2026 Rp3.094 Triliun - Rp3.114 Triliun. Defisit juga dijaga diratio 2,5 persen.

Efisiensi dan pembenahan BUMN sebagai tangan kiri negara juga dengan lugas disampaikan. Fasilitas bejibun yang jadi rebutan  sejumlah orang ditiadakan. Intinya Prabowo mengajak kita semua menatap masa depan yang lebih baik. Semoga saja niat dan keinginan bersama ini bisa direalisasikan. "Indonesia 2045"  tidak berbalik arah menjadi "Indonesia Cemas". (***)

Editor : Hendra Efison
#pakaian adat #Presiden Prabowo #HUT RI Ke 80 #Ba Baliak ka Pangka Jalan