PADEK.JAWAPOS.COM-“Healing” menjadi mantra baru dalam istilah Gen Z saat ini. Dengan kata lain, istilah ini juga muncul dengan istilah short escape, sunset chasing, digital detox dan lainnya. Selain itu istilah healing sendiri diartikan sebagai proses penyembuhan kembali atau membebaskan diri dari penyakit dari kamus Oxford.
Healing juga sangat erat dengan kondisi kesehatan mental yang sering dikaitkan dengan Generasi Z, yang menurut data, generasi ini sering dikategorikan sebagai generasi yang paling rapuh dibandingkan generasi lainnya.
Kesehatan mental Gen Z ini sering dikaitkan dengan tingginya kebutuhan generasi ini untuk melakukan yang mereka sebut “healing”.
Healing antara lain disebut juga secara teoritis dengan istilah “coping mechanism”. Healing identik dengan berwisata, melakukan perjalanan pendek, dan aktivitas lain yang bertujuan untuk melakukan mekanisme coping atau perilaku kognitif untuk mengatasi tingkat stress pada seseorang.
Di media sosial, bertebaran unggahan tentang short escape ke pantai, mendaki gunung, atau sekadar duduk di kafe dengan pemandangan alam adalah bentuk mekanisme coping dalam mengurangi tingkat stress melalui tipe problem focus.
Namun di balik tren visual itu, tersimpan pesan yang lebih dalam: kebutuhan psikologis akan pemulihan diri di tengah tekanan hidup modern.
Mengapa Gen Z Butuh Healing?
Secara global, satu dari tujuh remaja mengalami gangguan mental menjadikan kesehatan mental remaja sebagai krisis publik sosial yang perlu menjadi perhatian bersama.
Dari 213 juta generasi muda dunia usia 15-34 tahun, dilaporkan 75% mengalami depresi dan gangguan mental dalam usia dibawah 24 tahun (The ASEAN, 2024). Laporan survei dari I-NAMHS di Indonesia (2022), 1 dari 3 remaja dilaporkan mengalami gangguan kesehatan mental (34.9%) atau setara dengan 15 juta remaja (10-17 tahun) di Indonesia. Gangguan kecemasan mendominasi bentuk kesehatan mental. Sebanyak 5,1% remaja mengalami depresi dan 9,8% menghadapi gangguan emosional.
Penerimaan sosial, bullying, tuntutan akademik, ekonomi keluarga, dan paparan digital yang tinggi menjadi sumber risiko .
Di tingkat Asia, Gen Z merupakan kelompok paling berisiko mengalami tantangan mental pada 2024.
Kondisi yang memprihatinkan ini seperti fenomena gunung es. Terlihat indah di atas namun didasar memiliki resiko dan ancaman tinggi. Salah satu bentuk coping mechanism atau mengatasi stress yang berfokus pada fokus permasalahan (problem focus) dengan berwisata. Pasca COVID-19 terkungkungnya keinginan untuk melakukan perjalanan wisata selama masa karantina diilustrasikan dengan membangun konten humor wisata palsu melalui kreativitas postingan di platform sosial media, sebagai pengalihan stress (Lenggogeni, Ashton, Scott, 2022).
Studi McKinsey menunjukkan, pada 2023 milenial dan Gen Z rata-rata mengambil hampir lima perjalanan, lebih banyak daripada Gen X dan baby boomer; mereka juga mengalokasikan porsi pendapatan lebih besar untuk perjalanan (sekitar 29%). Artinya, kelompok ini bukan hanya terdorong untuk bergerak, tetapi juga siap membayar pengalaman yang “bermakna”.
Tekanan Digital dan Wisata Sebagai Terapi Emosional
Generasi Z dikenal sebagai generasi paling terhubung secara digital, tetapi juga paling rentan terhadap stres, kecemasan, dan kelelahan mental.
Hidup dalam ritme cepat, kompetitif, dan penuh ekspektasi sosial membuat banyak anak muda mencari “tempat aman” untuk menenangkan pikiran.
Wisata menjadi ruang alternatif untuk disconnect to reconnect—memutus sejenak dari dunia digital untuk kembali terkoneksi dengan diri sendiri dan alam. Maka tak heran, healing menjadi salah satu bentuk mekanisme bertahan yang paling populer di kalangan muda.
Destinasi wisata yang menawarkan suasana tenang seperti pantai, pegunungan, dan desa wisata mulai dipandang bukan sekadar tempat liburan, tapi ruang terapi emosional disebut dengan Attention Restorative.
Berjalan di tepi laut sambil menatap matahari terbenam, atau merasakan udara segar di perbukitan, secara psikologis terbukti dapat menurunkan hormon stres dan meningkatkan suasana hati. Bahkan, kini banyak negara dan daerah mulai mengembangkan konsep wellness tourism atau wisata kebugaran mental—sebuah perpaduan antara rekreasi, kesehatan, dan kebahagiaan batin.
Indonesia dengan kekayaan alam dan budaya yang mendalam, memiliki potensi besar untuk menjadi destinasi healing unggulan Asia.
Walaupun tergolong bukan baru, namun pengembangan wellness tourism memiliki potensi besaran senilai 830 Milliar USD tahun 2023 dengan proyeksi menembus 2.1 Trilliun USD tahun 2030 dengan CAGR 12.4% (2025).
Pariwisata Biru dan Potensi Healing Gen Z
Riset lintas disiplin kian solid menunjukkan paparan ruang biru (perairan: laut, pantai, danau) dan ruang hijau (hutan, taman) berkorelasi positif dengan penurunan distres psikologis serta peningkatan kesejahteraan mental.
Penelitian menunjukkan kedekatan dengan laut terkait manfaat mental umum dan distres psikologis yang lebih rendah; bahkan paparan air darat pedalaman (danau/sungai) juga memperlihatkan efek serupa (Geary et al, 2023; Lenggogeni, 2024).
Secara khusus pada ruang biru pesisir, kunjungan ke kawasan pantai berasosiasi dengan kesejahteraan mental yang lebih baik dan penurunan distres, memperkuat argumen pengembangan produk blue wellness (McDougal et al, 2022).
Penelitian eksperimental baru dari Universitas Exeter mengkuantifikasi efek momen alam yang singkat—seperti matahari terbit dan terbenam—terhadap emosi positif.
Rasa takjub (awe) saat menyaksikan fenomena ini terbukti dapat mengangkat suasana hati dan menggeser fokus dari stres pribadi ke keterhubungan dengan sesuatu yang lebih besar. Ini menjelaskan mengapa “berburu sunset” menjadi ritual pemulihan cepat yang populer di kalangan Gen Z.
Penelitian dengan teknologi eye-tracking Lenggogeni et al (2024) juga menunjukkan kekuatan sunset dan sunrise menjadi temuan terbesar yang menjadikan pantai sebagai daya tarik utama Gen Z mengurangi stres. Namun perlu pengembangan ekosistem yang berkualitas serta pengembagnan produk baru pada ekositem pariwisata biru.
Temuan epidemiologis terkait paparan cahaya matahari pun menunjukkan asosiasi dengan risiko depresi yang lebih rendah dalam jangka panjang—tentu dengan memperhatikan aspek keselamatan paparan UV (Wang et al 2023).
Pesan kuncinya jelas: penyembuhan kesehatan mental Gen Z salah satunya dapat dilaukan sederhanan dengan diversifikasi produk dan kualitas ekosistem pariwisata biru melalui wellness and health tourism sebagai bentuk menyelamatkan Generasi Emas 2045.
Peluang Ekonomi: Wellness Tourism Tumbuh Pesat
Di sisi industri, wellness tourism melesat pascapandemi COVID-19. Global Wellness Institute melaporkan belanja wisata kebugaran mencapai sekitar $868 miliar pada 2023 dan diproyeksikan menembus $1 triliun pada 2024, dengan porsi pengeluaran yang tidak proporsional besar dibanding porsi jumlah trip (hanya 7,8% dari perjalanan, tetapi hampir 1/5 dari total belanja wisata pada 2022).
Arah jangka menengahnya: lebih dari dua kali lipat dari 2022 ke 2027. Ini sinyal kuat bahwa pasar tidak hanya pulih—ia berevolusi ke pengalaman yang memadukan rekreasi dan kesehatan (Global Wellness Institute, 2023).
Sebagai negara dengan 17.380 pulau, dan garis pantai terpanjang kedua di dunia, lanskap pegunungan, dan desa wisata yang tumbuh potensi pengembangan pariwista biru mesti dikelola sebagai kebijakan strategis nasional di destinasi pesisir pantai.
Ditambah, roadtrip atai perjalanan domestik dapat menjadi rute healing lintas provinsi berbasis pola pergerakan aktual wisatawan nusantara.
Apa yang dapat dilakukan dari short escape menjadi healing yang berkelanjutan?
Dari healing sejenak sebagai pelarian sementara: datang, foto, unggah, pulang tanpa desain pengalaman dapat dikembangkan lebih berkualitas dengan pemulihan jangka panjang. Seperti, mendesain konsep blue tourism memorable tourism experience berfokus pada aktivitas ringan: mindful walking, journaling, guided breathing, silent hour, hingga ritual sunset.
Selain itu program “Digital detox” memutus koneksi dengan turbulensi informasi sejenak dapat dilakukan pengelola destinasi melalui “ jam hening” Pengelola destinasi dapat menyiapkan lockers gawai, jam “hening”, dan social prompts yang mengajak pengunjung hadir penuh.
Rekomendasi Pengambil Kebikakan
Pertama, diperlukan pengembangan blue wellness corridor. Pemerintah daerah bersama pelaku usaha dapat memetakan koridor pantai-desa-hutan (misal: rute “mindful sunset”) yang menggabungkan akses estetik , aktivitas restorasi alam dan storytelling kesehatan.
Kedua, sertifikasi wellness micro-experience. Buat standar ringan untuk operator lokal (desa wisata, komunitas selancar, penggiat yoga) agar paket dua–tiga jam punya komponen pemulihan yang nyata: check-in mental singkat, aktivitas utama, dan debrief reflektif. Komponen ini menyeimbangkan “jual pemandangan” dengan “ubah perilaku”.
Ketiga, social prescribing berbasis destinasi. Klinik kampus/komunitas dapat merujuk klien muda yang berisiko ringan-sedang ke program wisata sehat di area hijau/biru. Penelitan menunjukkan keterkaitan konektivitas alam dan kesehatan, sementara pariwisata lokal memperoleh demand baru yang bermakna.
Keempat, ekonomi kreatif pendukung. Dorong UMKM lokal menyediakan produk sopan-sadar (journal, aromatherapy roll-on, sun safety kit, hydration pack, calming tea). Pengembagan ekonomi kreatif wellness ini memperkuat pengalaman dan menambah nilai ekonomi tanpa menambah jejak ekologis berlebih.
Pemerintah daerah, pelaku pariwisata, dan akademisi perlu bersinergi untuk membangun produk wisata berbasis kesejahteraan mental. Misalnya, program slow tourism di pantai, sunset wellness di pantai, atau eco-healing trail di kawasan hutan tropis. Aktivitas seperti yoga, meditasi, journaling, hingga digital detox camp dapat menjadi bentuk inovasi wisata masa depan.
Dengan pendekatan ini, wisata bukan hanya menjadi mesin ekonomi, tetapi juga mesin kebahagiaan sosial yang memperkuat kesehatan mental masyarakat terutama generasi muda.(*)
Editor : Heri Sugiarto