Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Mimpi Dorong Syariah Institute  

Eri Mardinal • Jumat, 7 November 2025 | 12:58 WIB

 

Elfindri, Guru Besar FEB Unand.
Elfindri, Guru Besar FEB Unand.
Oleh: Elfindri, Guru Besar FEB Unand

PADEK.JAWAPOS.COM-Selama ini kita berupaya meningkatkan share pelaksanaan bisnis dan ekonomi syariah. Cara-cara lebih memcuat ke permukaan setidaknya pada dua hal utama. Pertama, bagaimana perbankan menyediakan transaksi jual beli lewat sistem syariah. Kedua, bagaimana upaya menyediakan label halal untuk berbagai produk barang dan jasa.

Kedua isu itu sering dihadapkan pada masalah "literacy" syariah. Mengingat, proses pembiasaan untuk melakukan proses jual beli syariah, di dalamnya ada pembiayaan. Namun, terhalang masalah literacy tahap awal, kurang mengetahui, dan tahap kedua kurang mengakui.

Sesungguhnya program untuk memperluas dari pangsa praktik bisnis barang dan jasa secara Islami, sangat tergantung kepada bagaimana institusi pendidikan berupaya sedemikian rupa bisa mengembangkan diskusi dan literatur tentang fiqih menurut Al Quran dan hadis, serta kontemporer.

Mengingat perkembangan kajian, metoda dan praktik ekonomi dan syariah sangat tergantung kepada bagaimana institusi pendidikan memperkuat proses pendidikan. Sehingga dalam jangka panjang muncul inovasi baru, praktik syariah yang tidak bertentangan dengan fiqih baik secara klasik maupun kontemporer.

Syariah Intitute

Ke mana kita bisa belajar bagaimana praktik bisnis, keuangan dan ekonomi syariah yang mudah dan dapat diterapkan? Ini sebuah pertanyaan tidak mudah untuk dijawab.

Kenapa? Karena, institusi penyelenggara pendidikan dan riset di perguruan tinggi, bisa kuat di bidang, ilmu. Namun, masih terbatas dalam metode, pelaksanaan maupun praktik lapangan.

Pengajarnya bisa mendalami secara keilmuan, namun ketika menghadapi kenyataan di lapangan, maka jauh antara kenyataan dengan text book yang diajarkan itu. Hal ini dapat dilihat dari perkembangan bisnis syariah yang lamban selama ini.

Hal ini bisa jadi disebabkan atas berbagai hal. Pertama, perlunya keterlibatan lebih banyak tenaga pengajar dalam melihat realitas lapangan. Bisa juga kesulitan selama ini kecepatan dan talenta mereka yang mendalami syariah dari sekolah keagamaan, bisa kalah cepat dibandingkan dengan mereka berlatar belakang umum.

Fenomena yang juga ditemui, di mana pengajar sains jauh lebih berkembang dibanding pengajar berlatar belakang keguruan. Kedua, diperlukan laboratorium yang dibangun terus menerus yang bisa melibatkan pengajar dan mahasiswa.

Laboratorium Bisnis Syariah

Laboratorium bisnis, keuangan syariah, bisnis dan ekonomi syariah ini tidak saja sebuah pojok mini yang tidak terlihat aktivitas praktik bisnis syariah. Namun memiliki "mock up", contoh pelasanaan baik di institusi pendidikan tinggi maupun melekat ke dalam bussiness syariah sendiri. Kita memerlukan labor yang maju ini, saya perkirakan belum tersedia di Indonesia. Dalam institut ada labor praktik bisnis dan ekonomi syariah. Di mana,  dosennya benar-benar full time dan expert mumpuni.

Selama ini dukungan untuk menghasilkan bisnis dan ekonomi syariah masih jauh kalah dibandingkan dukungan untuk keilmuan umum. Saya belum mendengar ada dana CSR Bank Indonesia atau bank himbara untuk beasiswa. Seharusnya dana-dana yang berguna untuk memajukan bisnis syariah, justru dilibas oknum anggota Komisi 11 DPR RI yang buat miris kita. Termasuk, menyediakan pembiayaan untuk labor, bisnis mock up, penulisan, seminar dan sejenisnya. (*)

Editor : Eri Mardinal
#literasi keuangan syariah #ekonomi syariah #universitas andalas