Gurita Membawa Berkah merupakan kisah perjuangan yang saya alami selama menjadi guru di UPTD SDN 04 Galugua.
Kisah perjuangan mengajar di daerah terpencil, jauh dari pusat ibu kota kabupaten, memberi inspirasi bagi saya untuk mengikuti Lomba Apresiasi GTK Tahun 2025.
Terlebih setelah mengetahui adanya pembinaan bagi guru-guru jenjang TK, SD, dan SMP yang diadakan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Limapuluh Kota, semangat saya semakin tumbuh.
Pembinaan yang berlangsung pada 9–11 Oktober 2025 lalu benar-benar saya manfaatkan sebaik mungkin.
Tiga orang narasumber hebat yang mendampingi kami saat itu memberikan inspirasi besar untuk terus mantap berkarya.
Kehadiran Ibu Harnieti, S.Pd., M.Pd., selaku Kabid Pembinaan Ketenagaan Disdikbud Limapuluh Kota, juga menjadi motivasi tersendiri bagi saya dan peserta lain.
Beliau tidak hanya hadir, tetapi juga memberikan kata-kata semangat dan turut mengoreksi naskah peserta lomba.
Kabid yang dikenal sebagai tokoh penggerak literasi di Limapuluh Kota tersebut bahkan memberikan testimoni yang menguatkan karya saya sebagai salah satu yang terbaik.
Alhamdulillah, berkat dukungan beliau dan jajaran Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Limapuluh Kota, nama saya muncul sebagai kandidat pemenang lomba melalui surat yang dikeluarkan oleh BGTK Provinsi Sumatera Barat pada 5 November 2025 lalu.
Harapan untuk mengharumkan nama Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Limapuluh Kota, khususnya UPTD SDN 04 Galugua, membuat saya tak sabar menantikan pengumuman para juara.
Dalam acara pleno penetapan GTK Terbaik Sumbar yang digelar pada Jumat, 8 November 2025 di Hotel Rocky Padang, saya ditetapkan sebagai Peserta Terbaik I Guru Dedikatif dan berhak mewakili Provinsi Sumatera Barat di tingkat nasional.
Selain itu, nama Ibu Silfia Febriani, S.Pd., guru UPTD SMPN 4 Kecamatan Kapur IX, juga ditetapkan sebagai Terbaik III Guru Dedikatif Provinsi Sumatera Barat.
Semoga ke depan semakin banyak prestasi yang diraih oleh guru-guru di bawah binaan Ibu Kabid.
Hal ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi saya, karena mampu mengukir prestasi meskipun bertugas di daerah terpencil dengan segala keterbatasan.
Kisah perjuangan tersebut saya tuangkan dalam sebuah naskah berjudul Gurita, singkatan dari Guru Rimba Taklukkan Asa.
Selama bertugas di UPTD SDN 04 Galugua, saya menghadapi berbagai tantangan besar dalam menjalankan proses pendidikan di daerah terpencil.
Pertama, lokasi sekolah yang terisolasi dari pusat kecamatan dan kabupaten menjadikan aksesibilitas sebagai kendala utama.
Jalan menuju Jorong Tanjung Jajaran sering sulit dilalui, terutama saat musim hujan ketika tanah longsor menghalangi perjalanan.
Sekolah juga sering kebanjiran karena letaknya dekat Sungai Kampar. Kami harus bergotong royong berhari-hari untuk membersihkan sekolah pascabanjir.
Dalam kondisi ini, para guru tetap berjuang penuh semangat untuk hadir di sekolah demi memberikan pendidikan kepada anak-anak.
Kedua, sarana dan prasarana yang terbatas menjadi kendala dalam menciptakan lingkungan belajar yang optimal.
Fasilitas pendidikan dan alat peraga sangat minim, sehingga proses pembelajaran kurang maksimal. Minimnya akses internet dan sumber daya teknologi juga menghambat penerapan metode pembelajaran berbasis digital.
Ketiga, rendahnya motivasi orang tua dan murid terhadap pentingnya pendidikan. Banyak masyarakat yang masih beranggapan mencari uang melalui kebun gambir lebih mudah.
Mengubah pola pikir ini tidak mudah karena keterbatasan akses dan jarak yang jauh dari pusat kegiatan masyarakat.
Keempat, jumlah murid yang sedikit memang memungkinkan pendekatan personal, namun juga menjadi tantangan dalam pengembangan kegiatan ekstrakurikuler dan penggalangan sumber daya.
Meski begitu, UPTD SDN 04 Galugua terus berupaya menghadapi tantangan tersebut dengan semangat dan dedikasi tinggi demi mencerdaskan generasi muda di Jorong Tanjung Jajaran.
Di tengah keterbatasan itu, seluruh guru menunjukkan dedikasi luar biasa dalam menjalankan tugas. Mereka tidak hanya berkomitmen memberikan pendidikan berkualitas, tetapi juga menginspirasi murid dengan semangat juang yang tinggi.
Meskipun harus menempuh jalan sulit dan ekstrem, semangat para guru tetap menyala. Mereka memahami bahwa pendidikan adalah fondasi masa depan.
Setiap langkah yang diambil oleh para guru merupakan langkah menuju masa depan yang lebih baik—bagi diri mereka dan anak-anak yang mereka didik.
Mereka adalah contoh nyata dedikasi terhadap pendidikan, dan akan terus berjuang demi masa depan yang lebih cerah bagi seluruh murid di Tanjung Jajaran.
Adapun langkah-langkah yang kami lakukan antara lain:
- Menyesuaikan perlengkapan dengan kondisi lingkungan dan geografis daerah.
- Menggunakan media pembelajaran konkret untuk mengatasi keterbatasan sarana.
- Berkolaborasi dengan stakeholder terkait guna mengubah pola pikir masyarakat terhadap pendidikan.
- Meningkatkan kompetensi guru melalui kegiatan KKG, komunitas belajar sekolah (Ritaja), Program Guru Penggerak, dan Pengajar Praktik.
Berkat kerja keras seluruh pihak di sekolah, UPTD SDN 04 Galugua dua tahun terakhir berhasil memperoleh dana BOS Kinerja berkat hasil ANBK dan Sunglinjar.
Masyarakat mulai sadar akan pentingnya pendidikan bagi anak-anak mereka. Tidak ada lagi murid yang berhenti sekolah karena ikut bekerja di ladang gambir.
Demikianlah sekelumit kisah perjuangan saya dalam mencerdaskan anak negeri. Perjuangan penuh tantangan ini telah mengantarkan saya meraih prestasi.
Ini adalah berkah dan buah dari keikhlasan dalam menjalankan tugas. Semoga perjuangan ini membawa dampak positif bagi peningkatan mutu pendidikan, serta menjadi inspirasi bagi sesama pendidik di daerah terpencil.(***)
Editor : Hendra Efison