Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Meniru Tiongkok, Menjaga Minangkabau

Novitri Selvia • Senin, 17 November 2025 | 13:20 WIB

Krismadinata, Rektor UNP. (dok. pribadi)
Krismadinata, Rektor UNP. (dok. pribadi)

Oleh: Krismadinata, Rektor UNP

PADEK.JAWAPOS.COM-ADA satu kenyataan yang tak bisa kita abaikan. Tiongkok melaju kencang. Terlalu kencang hingga dunia dipaksa menoleh.

Dalam dua puluh tahun, negeri itu berubah dari negara yang sibuk mengejar ketertinggalan menjadi salah satu pusat teknologi, industri, dan pendidikan tinggi paling disegani. Mereka tidak sekadar tumbuh. Mereka melompat jauh.

Lihatlah perguruan tingginya. Tsinghua University dan Peking University kini menetap nyaman di posisi 20 besar dunia. Kampus-kampus yang dulu hanya diperbincangkan di Asia kini bersanding dengan MIT, Stanford, dan Oxford.

Sementara Fudan, Zhejiang, dan Shanghai Jiao Tong menempatkan diri di Top 50–100—posisi yang dulu tampak mustahil bagi kampus Asia Timur di luar Jepang.

Fakta ini menunjukkan satu hal. Keberhasilan pendidikan tidak lahir dari mimpi, tetapi dari strategi yang dipegang teguh.

Di Sumatera Barat, khususnya di Universitas Negeri Padang (UNP), kisah Tiongkok ini seharusnya tak hanya lewat sebagai kabar luar negeri.

Ia adalah bahan belajar. Ia adalah petunjuk arah. Ia adalah pengalaman yang bisa kita sesuaikan dengan konteks budaya dan nilai Minangkabau.

Apa yang membuat Tiongkok melesat? Salah satunya visi jangka panjang yang tidak gampang goyah. Program Double First Class University Plan bukan proyek instan, tetapi peta jalan puluhan tahun yang konsisten.

Kita sangat jarang melihat model seperti itu di Indonesia—kebijakan sering berubah mengikuti suasana politik. Di sini UNP bisa mengambil teladan.

Kampus harus berani merancang agenda dua dekade, dengan fokus yang tidak meloncat-loncat. Bidang energi, kebencanaan, pendidikan digital, budaya, atau ekonomi kreatif bisa menjadi “lapangan bermain” Sumbar di masa depan.

Namun strategi saja tidak cukup. Etos kerja menjadi pembeda besar. Dalam masyarakat akademik Tiongkok, disiplin bukan kata yang diulang-ulang dalam seminar.

Ia menjadi kebiasaan: hadir tepat waktu, menyelesaikan tugas sebelum tenggat, bekerja dalam ritme yang terencana. Kita memang bukan Tiongkok, dan tidak perlu meniru semuanya. Tapi kita punya warisan Minangkabau: duduak basamo balapang-lapang.

Semangat kolektif ini bisa menjadi bahan bakar budaya kerja kampus—kolaborasi lintas fakultas, dosen yang bergerak cepat mengambil keputusan, dan mahasiswa yang terlatih menyelesaikan sesuatu dengan tuntas.

Lompatan Tiongkok juga kuat karena riset mereka hidup. Laboratorium dibangun besar-besaran. Mahasiswa tidak hanya membaca jurnal, tetapi ikut membuat temuan.

Robotika, energi terbarukan, kecerdasan buatan—semuanya berkembang karena ada ruang bergerak. UNP sebenarnya punya peluang besar untuk meniru pendekatan ini, tentu dengan fokus lokal.

Kita hidup di daerah rawan gempa dan tsunami. Sumbar punya warisan budaya besar. Kita punya wilayah pesisir dan dataran pegunungan. Semua ini adalah laboratorium alam. Riset yang lahir dari sini bukan saja relevan, tetapi juga sangat berarti.

Di saat yang sama, Tiongkok membuka diri ke dunia dengan agresif. Kerja sama dengan universitas internasional bukan hal langka; mereka melakukannya ribuan kali dalam setahun.

UNP sesungguhnya sudah memegang satu kartu penting: Confucius Institute. Di tangan yang tepat, ini bukan hanya pusat belajar Mandarin. Ini jembatan. Ini pintu dunia.

Melalui CI, mahasiswa bisa mendapat beasiswa, dosen bisa membuka jejaring riset, dan kampus bisa memperluas kerja sama akademik. Tradisi merantau yang melekat pada masyarakat Minang semakin membuat peluang global ini terasa sangat alami.

Namun, modernisasi tidak boleh menghapus warna lokal. Prinsip adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah adalah jangkar moral kita.

Apa pun bentuk kerja sama atau adaptasi dari Tiongkok, identitas bangsa dan budaya Minangkabau tetap harus berdiri sebagai penopang.

Yang menarik, banyak nilai yang membuat Tiongkok berhasil sebenarnya sudah lama menjadi bagian dari kehidupan orang Minang.

Disiplin belajar, hormat kepada guru, kerja keras, pandangan jauh ke depan—semua itu bukan hal asing. Justru kesamaan nilai ini membuat adaptasi Tiongkok–Minang lebih mudah, lebih cair, lebih alami.

Kisah Tiongkok bukan cerita tentang negara yang jauh. Ia adalah pengingat bahwa dunia berubah cepat, dan yang bergerak lebih cepat akan berada di depan.

Bagi UNP dan kampus-kampus kita, menggabungkan inspirasi global dari Tiongkok dengan kearifan Minang adalah pilihan yang masuk akal—bahkan mendesak.

Alam takambang jadi guru. Kini alam itu bukan hanya alam Minangkabau, tetapi alam dunia. Tugas kita hanya satu. Berani belajar dari siapa pun, tanpa kehilangan siapa diri kita. (*)

Editor : Novitri Selvia
#Krismadinata #Meniru Tiongkok #Menjaga Minangkabau