Kesenian tradisi saluang dendang Minangkabau tengah menghadapi tantangan serius berupa rendahnya literasi digital pelaku seni, menurunnya minat generasi muda, serta keterbatasan ruang pertunjukan konvensional.
Kondisi ini menghambat regenerasi seniman dan mengurangi daya tarik saluang dendang di tengah arus hiburan digital. Padahal, peluang pemanfaatan teknologi digital untuk memperluas jangkauan audiens, termasuk masyarakat Minangkabau di perantauan, sangat besar dan belum tergarap secara optimal.
Program ini dirancang untuk menjawab permasalahan tersebut melalui pengembangan panggung digital berbasis live streaming multi-kamera. Mitra sasaran adalah Perkumpulan Pelaku dan Penggiat Seni Tradisi Minangkabau (PPST) di Kota Payakumbuh yang selama ini aktif melestarikan saluang dendang namun menghadapi keterbatasan sarana, strategi promosi, dan keterampilan teknis.
Intervensi utama meliputi pelatihan literasi digital, penguatan pemahaman musik tradisi, etika penggunaan media digital, serta pelatihan teknis audio-visual dan live streaming. Dengan kombinasi ini, mitra diharapkan mampu mengelola pertunjukan digital secara mandiri.
Luaran yang ditargetkan mencakup terbentuknya prototipe panggung digital, produksi konten pertunjukan, model saweran digital, serta peningkatan kapasitas literasi digital dan teknis peserta.
Tujuan program adalah pengembangan saluang dendang melalui teknologi digital atau live streaming untuk mencapai keseimbangan antara pelestarian nilai budaya, perluasan jangkauan audiens, pemberdayaan ekonomi kreatif, serta inovasi seni tradisi yang berkelanjutan melalui teknologi digital.
Program ini menawarkan pelatihan non formal yang bertujuan untuk regenerasi dan pelestarian kesenian tradisi. Pengembangan panggung digital yang menunjang terbukanya peluang lapangan kerja informal dan memiliki proyeksi peningkatan pendapatan bagi pelaku.
Dampak program diharapkan tidak hanya menjaga keberlangsungan saluang dendang, tetapi juga memperluas akses audiens global, membuka peluang ekonomi kreatif, dan menghadirkan model pemberdayaan seni tradisi berbasis inovasi digital yang dapat direplikasi oleh komunitas lain.
Pelaksana Program
Program ini berdasarkan progam Pengabdian Pada Masyarakat Kemristekdikti dengan skema Program Inovasi Seni Nusantara tahun 2025 yang dilaksanakan atas kerjasama ISI Padangpanjang dengan Komunitas Pelaku dan Pegiat Seni Tradisi Minangkabau Kota Payakumbuh.
Pelaksana program ini adalah Ketua: Dr. Rustim, S.Pd., MA, Anggota: Wahyu Nova Riski, S,Sn., MGMC, Hamzaini, S.Sn., M.Sn, Irham, S.Sn., M.Sn, Aqil Dermawan, Meysi Fadli dan Nurul Hayati sebagai dosen dan mahasiswa ISI Padangpanjang.
Mitra Sasaran
Nama komunitas adalah Pelaku dan Penggiat Seni Tradisi Minangkabau (PPST) sebagai Ketua Ibu Ernawati, berlokasi di Jalan Balik Papan No. 29 RW 01 RT 05 Kelurahan Padang Tongah Balai Nan Duo Kota Payakumbuh Sumatera Barat.
Komunitas ini didirikan tahun 2017 berbadan hukum berdasarkan Keputusan Menteri Hukum dan Hak Azasi Manusia Republik Indonedia Nomor: AHU-0014389.AH.01.07 tahun 2017 tentang Pengesahan Pendirian Badan Hukum Perkumpulan Pelaku Penggiat Seni Tradisi tertanggal 09 Oktober 2017.
Karakteritik perkumpulan ini bergerak dalam peningkatan sumberdaya pelaku dan penggiat Seni Tradisi untuk membina dan mengembangkan generasi penerus terutama Pertunjukan Kesenian Saluang Dendang Minangkabau Di Sumatera Barat.
Aktivistas pertunjukan saluang dengang ini secara tradisional sudah berkembang puluhan tahun yang lalu secara turun temurun dan tercatat sebagai warisan tak benda UNESCO.
Bentuk pertunjukan ini hampir berkembang di seluruh perkampungan yang ada di Sumatera Barat terutama di Kabupaten Agam, Kabupaten Limapuluh Kota, Kabupaten Tanahdatar, Kabupaten Solok dan sebagian kecil juga berkembang di Kabupaten Pasaman, Kabupaten Padangpariaman dan Kabupaten Pesisir Selatan.
Pertunjukan yang pernah diikuti pendiri komunitas ini sudah ditampil di berbagai daerah di Sumatera Barat dan beberapa propinsi di Sumatera, Jakarta, Bandung, Surakarta, Batam, Yogyakarta, Balik Papan, Magelang (G20), dan Jerman Festival.
Di Sumatera Barat sendiri pertunjukan ini dilaksanakan untuk berbagai undangan dalam rangka resepsi pernikahan, festival, perta rakyat, acara adat dan undangan komunitas- komunitas pagurau yang ada di Sumatera Barat.
Kontribusi yang dihasilkan terutama bermunculannya puluhan pendendang-pendendang usia muda yang mengembangkan warisan ini dengan penampilan pertunjukan yang lebih modern terutama saluang dendang dikolaborasikan dengan orgen tunggal dengan materi lagu yang lebih variatif sesuai permintaan dari para pagurau atau penonton pertunjukan.
Kontribusi lainnya sudah banyak materi-materi klasik dari saluang dendang ini yang diproduksi menjadi lagu pop minang klasik dan modern oleh para penyanyi dan produser lagu pop minang dan juga berkembang di berbagai platform media digital di Indonesia.
Kegiatan
Kegiatan ini berlangsung selama bulan Oktober sampai November 2025 dan diakhiri dengan pertunjukan saluang dendang berbasis live streaming pada tanggal 21 November 2025 pukul 20.00-23.30 di Uda Expresso Coffee & Resto Kota Payakumbuh.
Kegiatan yang sudah berjalan sebelumnya antara lain:
- Pelatihan literasi digital yang terstruktur untuk anggota komunitas, mencakuppenguasaan perangkat dasar, pengelolaan konten, serta strategi interaksi dengan audiens daring.
- Pendampingan digitalisasi seni yang berkelanjutan, agar transformasi dari panggung konvensional ke panggung digital dapat berjalan efektif.
- Integrasi program regenerasi seniman dengan platform digital, misalnya melibatkan generasi muda dalam dokumentasi, promosi, maupun produksi pertunjukan daring.
- Penyediaan ruang kreasi kolaboratif antara seniman senior dan generasi muda, sehingga terjadi transfer pengetahuan sekaligus inovasi yang menjaga relevansi saluang dendang di era digital.
Dengan kegiatan ini diharapkan pemberdayaan ekonomi pendukung pertunjukan saluang dendang dapat dikembangkan secara signifikan melalui pemanfaatan teknologi media digital dan platform live streaming.
Jika dahulu saluang dendang hanya dapat dinikmati dalam ruang terbatas, sekarang pertunjukan bisa disiarkan secara langsung melalui Live YouTube, Facebook, Instagram, atau TikTok, sehingga audiensnya menjangkau masyarakat Minangkabau di perantauan maupun penikmat seni tradisi di dunia maya.
Hal ini membuka peluang ekonomi digital berupa monetisasi dari iklan, donasi daring (superchat atau virtual gift), hingga sistem langganan (subscription). (***)
Editor : Hendra Efison