Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Triple Helix Koperasi Syariah: Secercah Cahaya Baru Perekonomian Tanahdatar

Eri Mardinal • Jumat, 28 November 2025 | 23:11 WIB

Mohammad Aliman Shahmi, Dosen UIN Mahmud Yunus Batusangkar/Peneliti Heezba Networks
Mohammad Aliman Shahmi, Dosen UIN Mahmud Yunus Batusangkar/Peneliti Heezba Networks
Oleh: Mohammad Aliman Shahmi—Dosen UIN Mahmud Yunus Batusangkar/Peneliti Heezba Networks

PADEK.JAWAPOS.COM-Di lereng-lereng hijau Tanahdatar, kehidupan selalu menemukan caranya untuk bertahan. Para petani yang memeluk harapan pada musim tanam berikutnya, para pedagang kecil yang setiap fajar menata dagangan dengan senyum yang tak pernah benar-benar pudar, serta para perajin dan ibu-ibu pelaku UMKM yang tekun menjaga warisan rasa—semuanya adalah denyut nadi perekonomian nagari. Namun, di balik ketangguhan itu, terselip cerita-cerita tentang perjuangan: mahalnya bahan baku, terbatasnya modal, pasar yang sering tak pasti, dan pendampingan yang jarang menyentuh akar persoalan.

Dalam lanskap ekonomi rakyat yang penuh keterbatasan itulah, sebuah cahaya kecil mulai menyala. Tidak kurang dari 35 Koperasi Desa Merah Putih Syariah (KDMPS) kini merasakan pendampingan awal dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Mahmud Yunus Batusangkar. Pendampingan ini bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi sebuah sentuhan pengetahuan yang membuka pintu bagi perubahan. Lalu hadir pula sebuah gagasan yang merajut tiga kekuatan: koperasi sebagai motor sektor riil, kampus sebagai sumber pengetahuan, dan pemerintah sebagai penjaga arah pembangunan. Gagasan itu dikenal sebagai Triple Helix.

Triple Helix bukan sekadar kolaborasi; ia adalah simfoni. Sebuah irama yang memainkan peran masing-masing aktor dengan harmoni: koperasi yang hidup dari denyut usaha rakyat, kampus yang bergerak dengan kecemerlangan intelektual, serta pemerintah yang memberi ruang dan kebijakan agar semuanya berjalan selaras. Dari sinergi inilah harapan baru Tanahdatar mulai tumbuh, perlahan namun pasti.

Mengapa Koperasi Harus Fokus

Koperasi dilahirkan dari kebutuhan manusia untuk bertahan secara kolektif. Undang-undang menegaskannya sebagai badan usaha sektor riil, bukan lembaga keuangan yang sekadar menyalurkan pinjaman. Dalam jati dirinya, koperasi seharusnya hadir di ladang-ladang petani, di ruang produksi UMKM, di warung-warung kecil, dan di sentra-sentra kerajinan—tempat nilai tambah benar-benar tercipta.

Ketika koperasi terjebak hanya pada simpan-pinjam, ia kehilangan ruhnya. Modal memang penting, tetapi modal tanpa penguatan usaha riil bagaikan benih yang ditabur tanpa tanah. Tidak akan tumbuh. Fokus sektor riil memungkinkan koperasi menurunkan biaya produksi anggotanya, memperkuat rantai pasok, menghubungkan ke pasar yang lebih luas, dan memberi ruang bagi inovasi yang berbasis kebutuhan nyata.

Di Tanahdatar, pendekatan ini menemukan relevansinya. Para anggota KDMPS—petani, pedagang, perajin, dan pelaku kuliner—bukanlah pengusaha besar. Mereka adalah tulang punggung perekonomian nagari yang membutuhkan pendampingan yang membumi dan produk pembiayaan syariah yang benar-benar berpihak pada usaha mereka. Di sinilah koperasi menemukan panggilan sejatinya: menjadi rumah bagi ekonomi riil rakyat.

Peran Triple Helix

Model Triple Helix menghadirkan tiga peran yang saling mengisi, seakan tiga helai benang yang dijalin menjadi satu tenunan kuat. Koperasi hadir sebagai wajah nyata kehidupan ekonomi rakyat—tempat masalah ditemukan sekaligus tempat solusi diuji. Ia membawa cerita, data, dan realitas sehari-hari.

FEBI UIN Mahmud Yunus Batusangkar menjadi mata air pengetahuan. Di sana, para akademisi menelisik rantai nilai, mengembangkan model bisnis syariah, mengurai persoalan manajerial, dan merumuskan strategi yang tidak hanya indah di atas kertas, tetapi juga tajam dalam aplikasinya. Kampus menjadi jembatan antara ilmu dan kehidupan.

Pemerintah Kabupaten Tanah Datar berperan sebagai pengarah jalan. Dengan kebijakan yang berpihak, fasilitasi infrastruktur, sertifikasi, hingga program pemberdayaan, pemerintah memastikan langkah koperasi dan kampus tidak berjalan sendirian. Mereka memberi legitimasi dan daya dorong agar perubahan terjadi pada skala yang lebih luas.

Ketika ketiganya bergerak sebagai satu kesatuan, sesuatu yang unik lahir: pengetahuan tidak lagi mengambang, kebijakan tidak lagi buta data, dan koperasi tidak lagi berjuang sendirian. Inilah kekuatan Triple Helix—ia menyatukan ide, kebijakan, dan realitas dalam satu lingkaran inovasi.

Manfaat Triple Helix

Manfaat Triple Helix bagi Tanahdatar tidak hanya terletak pada peningkatan kapasitas koperasi atau kemampuan anggota untuk mengakses pembiayaan. Dampaknya jauh lebih luas, bahkan sistemik. Pertama, UMKM dan pelaku sektor riil memperoleh skema pembiayaan syariah yang benar-benar sesuai kebutuhan produksi. Tidak ada lagi pembiayaan yang berakhir sebagai beban. Semua didesain berdasarkan konteks usaha, musim tanam, siklus perdagangan, dan risiko lapangan.

Kedua, rantai nilai lokal menjadi lebih terhubung. Melalui koperasi, bahan baku bisa diperoleh lebih murah, pemasaran lebih terkoordinasi, dan distribusi lebih efisien. Ini berarti daya tawar meningkat, pendapatan lebih stabil, dan risiko usaha menurun. Ketiga, pemerintah memiliki landasan data yang kuat untuk merumuskan kebijakan. Program sertifikasi halal, bantuan peralatan, pengembangan klaster usaha, serta pelatihan UMKM kini dapat disusun dengan presisi—karena berbasis penelitian kampus dan data lapangan dari koperasi.

Keempat, muncul inovasi sosial-ekonomi yang sebelumnya tak terbayangkan. Dari model kemitraan produksi, klaster rendang syariah, hingga pilot project hortikultura terpadu—semua membuka jalan bagi Tanahdatar untuk menjadi pusat pertumbuhan ekonomi riil berbasis kolaborasi.

Dengan segala pencapaiannya, Triple Helix bukan lagi sekadar konsep akademik. Ia telah menjadi gerakan senyap namun pasti—mengalir melalui koperasi, menguat dalam riset kampus, dan terwujud melalui kebijakan. Sebuah gerakan yang menyalakan kembali asa: bahwa ekonomi rakyat bisa bangkit, bahwa nagari dapat mandiri, dan bahwa Tanahdatar mampu melangkah ke masa depan dengan kepalanya tegak, membawa kearifan lokal dan kekuatan kolektif sebagai bekal utama. (*)

Editor : Eri Mardinal
#Ekonomi Riil #Triple Helix #koperasi syariah