Banjir bandang dan longsor merupakan salah satu bencana alam yang paling sering terjadi di Indonesia, khususnya di Sumbar.
Faktor seperti curah hujan tinggi, kerusakan lingkungan, serta sistem drainase yang buruk menjadi penyebab utama terjadinya banjir.
Dalam situasi bencana, komunikasi memegang peranan yang sangat penting untuk menyampaikan informasi, mengkoordinasikan bantuan, dan mengurangi risiko korban jiwa.
Oleh karena itu, komunikasi bencana menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam sistem penanggulangan bencana banjir.
Komunikasi adalah proses penyampaian informasi dari seseorang atau pihak kepada pihak lain melalui suatu media tertentu dengan tujuan agar pesan dapat dipahami dengan baik.
Komunikasi bencana banjir merupakan elemen vital dalam penanggulangan bencana. Komunikasi yang efektif dapat mempercepat proses penyelamatan, distribusi bantuan, serta mengurangi risiko korban jiwa. Oleh karena itu, sistem komunikasi yang baik, terintegrasi, dan berkelanjutan sangat dibutuhkan.
Adapun kendala komunikasi yang ditemukan pasca banjir bandang dan longsor di Sumbar saat ini, di antaranya terputusnya jaringan seluler, listrik padam di lokasi bencana, informasi yang tidak valid atau hoaks, kurangnya sarana komunikasi darurat.
Koordinasi yang kurang efektif antar instansi serta bantuan banjir yang lambat dan tidak merata akibat lemahnya arus informasi dari lapangan, tumpang tindih data korban, serta buruknya koordinasi distribusi logistik.
Karena itu, diperlukan kerjasama yang kuat antara pemerintah, masyarakat, dan seluruh pemangku kepentingan untuk membangun sistem komunikasi bencana yang tangguh dan andal.
Adapun solusi komunikasi terkait hal ini, diantaranya menyediakan alat komunikasi darurat berbasis radio, membentuk pusat informasi terpadu, menggunakan satu sumber informasi resmi, serta menerapkan sistem pelaporan real-time berbasis digital dari lokasi terdampak agar distribusi bantuan lebih cepat dan merata.
Dari musibah banjir bandang dan longsor di Sumbar ini, kita perlu melek komunikasi kebencanaan. Komunikasi ini meliputi proses penyampaian, pertukaran, dan pengelolaan informasi yang dilakukan sebelum, saat, dan setelah bencana dengan tujuan untuk mengurangi risiko, menyelamatkan korban, mempercepat bantuan, serta memulihkan kondisi masyarakat.
Komunikasi ini melibatkan pemerintah, lembaga kebencanaan, relawan, media, dan masyarakat secara terkoordinasi dan terpusat.
Adapun tujuan utama komunikasi kebencanaan ini di antaranya memberikan peringatan dini bencana, menyampaikan informasi yang cepat, tepat, akurat, mengatur evakuasi dan penyelamatan, mengkoordinasikan distribusi bantuan, mengurangi kepanikan masyarakat, mencegah hoaks dan disinformasi serta mendukung rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana.
Pendek kata, komunikasi kebencanaan harus memenuhi prinsip: cepat, akurat, jelas (mudah dipahami masyarakat), terpadu, terbuka dan bertanggung jawab (tidak menimbulkan keresahan).
Ada empat (4) jenis komunikasi kebencanaan. Pertama; Komunikasi Peringatan Dini, digunakan sebelum bencana untuk memberi tanda bahaya (sirene, SMS warning, pengumuman).
Kedua; Komunikasi Tanggap Darurat, digunakan saat bencana untuk evakuasi, penyelamatan, dan distribusi bantuan. Ketiga; Komunikasi Pascabencana, digunakan untuk pendataan kerusakan, rehabilitasi, dan pemulihan masyarakat. Keempat; Komunikasi Edukasi Kebencanaan, digunakan untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat.
Sistem komunikasi
Sistem komunikasi bencana banjir melibatkan berbagai pihak seperti pemerintah, BNPB, BPBD, TNI, Polri, tenaga medis, relawan, dan masyarakat. Sistem ini bekerja dalam tiga fase Utama.
Pertama; Pra-Bencana, penyampaian informasi peringatan dini banjir, edukasi masyarakat, dan simulasi evakuasi. Kedua; Saat Bencana, koordinasi evakuasi, pelaporan kondisi korban, distribusi bantuan, dan pengamanan.
Ketiga; Pasca Bencana, pendataan kerusakan, bantuan lanjutan, rehabilitasi, dan rekonstruksi. Komunikasi berlangsung secara vertikal (atas ke bawah) dan horizontal (antar instansi) melalui posko utama bencana.
Komunikasi memiliki lima (5) peran penting dalam berbagai aspek penanggulangan bencana banjir dan longor. Pertama; Sebagai sarana peringatan dini; memberikan informasi awal tentang potensi terjadinya banjir. Kedua; Sebagai penghubung antar instansi, mempermudah koordinasi antara pemerintah, tim SAR, dan relawan.
Ketiga; Sebagai media informasi publik, menyampaikan perkembangan kondisi bencana kepada masyarakat. Keempat; Sebagai sarana edukasi, memberikan edukasi tentang kesiapsiagaan bencana. Kelima; Sebagai sarana evaluasi, digunakan untuk pelaporan dan perbaikan sistem penanggulangan bencana.
Salah satu aspek penting dalam pascabencana adalah komunikasi trauma healing yang berfungsi memulihkan kondisi psikologis korban bencana agar dapat kembali menjalani kehidupan dengan normal.
Komunikasi trauma healing sangat penting karena dapat membantu korban pulih secara mental, mencegah gangguan psikologis jangka panjang seperti depresi dan memperkuat ketahanan sosial masyarakat pascabencana.
Untuk itu, diperlukan kerja sama yang erat antara pemerintah, tenaga profesional, relawan, dan masyarakat dalam pelaksanaan komunikasi trauma healing agar pemulihan korban bencana dapat berjalan optimal.
Komunikasi trauma healing pasca bencana banjir adalah proses komunikasi terapeutik yang dilakukan untuk membantu korban bencana mengurangi dampak trauma psikologis, seperti kecemasan, ketakutan, kesedihan, dan stres berkepanjangan akibat peristiwa banjir yang dialami.
Komunikasi ini bertujuan memulihkan kondisi psikologis korban agar dapat kembali menjalani kehidupan secara normal. Adapun tujuan utama komunikasi trauma healing antara lain: menenangkan kondisi psikologis korban bencana, mengurangi rasa takut, cemas, dan stres, membangun kembali rasa aman dan percaya diri, membantu korban menerima kondisi pascabencana serta mempercepat proses pemulihan mental dan sosial.
Komunikasi trauma healing harus dilakukan dengan prinsip: empati dan kepedulian, kesabaran dan ketenangan, tidak menghakimi korban, bahasa yang lembut dan menenangkan, kejujuran dan keterbukaan serta menghargai perasaan korban.
Beberapa bentuk kegiatan trauma healing yang bisa dilakukan yakni konseling individu dan kelompok, kegiatan bermain dan belajar untuk anak-anak, pendampingan keluarga, kegiatan keagamaan dan social serta terapi seni, musik, dan cerita. Semoga musibah ini menjadi trigger bagi Sumbar, untuk bisa lebih tangguh dan maju. (*)
Editor : Hendra Efison