Catatan: Two Efly, Wartawan Padang Ekspres
Tahun 2025 benar-benar menjadi tahun ujian dan tahun berat bagi Sumatera Barat. Selain bencana yang datang silih berganti, kondisi makroekonomi Sumbar pun terbilang berat dan terperosok dalam.
Pertumbuhan ekonomi melorot ke peringkat bawah, perputaran uang kian sulit. Tidak itu saja, sejumlah badan usaha dan pelaku usaha juga mulai bertumbangan.
Begitu juga dengan gejolak alam. Musibah datang silih berganti. Belum tuntas penanganan bekas bencana Mei 2024, di penghujung tahun 2025 datang lagi bencana yang tak kalah besar.
Jika dikomparasikan, bencana hidrometeorologi yang terjadi di ujung tahun Ular Kayu (2025) ini jauh lebih berat dan berdampak dibandingkan gempa besar 30 September 2009 yang lampau, mulai dari korban jiwa hingga wilayah terdampak. Kerugian material sementara tercatat melampaui Rp5 triliun.
Apa saja? Korban jiwa tercatat 261 orang dan 72 orang belum ditemukan. Kerusakan tempat hunian warga mencapai Rp700 miliar, unit pelayanan publik mendekati Rp250 miliar, sumber ekonomi warga mendekati Rp1 triliun, sarana dan prasarana jalan dan jembatan serta irigasi mendekati Rp3,5 triliun, dan hewan ternak warga mendekati Rp7 miliar. Data ini akan terus bertambah seiring berjalannya waktu.
Itu dampak langsung. Dampak tidak langsung juga tak kalah besar. Terputusnya jalan Lembah Anai dan Sicincin–Malalak tak hanya membuat Kota Padang nyaris terisolasi.
Penumpukan dan kemacetan parah di jalur Sitinjau Lauik menimbulkan masalah baru dalam distribusi barang dan manusia. Perlahan tetapi pasti, harga sembako melambung.
Pasokan barang dari dan ke Kota Padang terhambat. Kelangkaan demi kelangkaan mulai terjadi, termasuk kebutuhan utama seperti sembako dan BBM.
Tak ada yang bisa disalahkan dari peristiwa kelangkaan ini. Alam murka dan memporak-porandakannya. Kapasitas jalan dengan luapan kendaraan sangat tidak sebanding.
Kendaraan yang selama ini terbagi tiga jalur menuju Padang dari Bukittinggi beralih menjadi satu. Macet, krodit, dan melelahkan sudah pasti.
Dua Kali Tanggap Darurat
Layaknya bencana, tanggap darurat sebagai upaya penyelamatan warga terdampak langsung menjadi prioritas utama. Bencana yang terjadi pada 27 November 2025 memaksa pemerintah memberlakukan tanggap darurat untuk penyelamatan korban.
Empat belas hari pertama, fokus utama diarahkan pada penyelamatan dan pencarian korban dampak bencana. Satu per satu kerja itu membuahkan hasil.
Seluruh daya dan upaya dikerahkan. Dukungan dan bantuan dari berbagai pihak datang silih berganti, mulai dari organisasi hingga personal, dari bantuan barang dan finansial hingga dukungan peralatan.
Bahkan helikopter pun disiagakan dalam jumlah cukup banyak untuk menjangkau daerah terisolasi. Dukungan seperti ini sebelumnya belum pernah terjadi.
Dalam konteks dan operasional lapangan, Wakil Gubernur Vasko Ruseimy lebih banyak muncul dan memainkan peran komando. Selaku kader partai the Winner Party dan sangat dekat dengan tampuk kekuasaan, Vasco memainkan peran dengan baik.
Jika sebelumnya konten media sosialnya lebih diwarnai branding personal, saat bencana hal itu berubah drastis. Sentuhan kemanusiaannya terlihat dan terasa. Nyaris setiap hari Vasco keluar “sarang” dan lebih banyak mengoordinasikan tim di lapangan.
Sambungan telepon dilakukan berulang untuk berkoordinasi dan meminta bala bantuan, mulai dari sesama pemerintah daerah di Sumatera Barat, tingkat nasional, hingga berkomunikasi dengan para menteri.
Secara bergantian, pejabat penting negara datang. Berulang kali para menteri dan menko meninjau lokasi bencana. Ada yang benar-benar datang untuk melihat langsung dan menyiapkan langkah jangka panjang, ada pula yang turun “menyelam sambil minum air”.
Itulah politik. Kita tak bisa terlalu lugu dan polos melihatnya. Kita bukan hidup di negeri ideal; ini ranah yang segalanya bisa saja tak terkirakan. “Udang di balik batu” sudah menjadi asupan sehari-hari. “Wisata bencana” pun menjadi gambaran nyata saat musibah datang. Itulah realitas negeri ini.
Memasuki tanggap darurat kedua, penanganan dampak bencana mulai bergeser. Selain distribusi bantuan, validasi data dilakukan bertahap. Lonjakan data mengagetkan. Korban jiwa dan kerugian material melambung.
Daerah terdampak mulai melakukan upaya pemulihan dan menatap masa depan. Sarana transportasi dibenahi. Jalur Lembah Anai yang terputus mulai bisa diakses terbatas. Kemacetan di Sitinjau Lauik tetap terjadi. Hunian sementara satu per satu mulai disiapkan.
Terlepas dari apakah pelaksanaan tanggap darurat berjalan mulus atau tidak, satu hal pasti: di awal bencana kita bingung dan kelimpungan. Kita gagap, koordinasi tak berjalan baik.
Banyak pihak seperti kehilangan kendali. Tak jelas siapa bertanggung jawab atas apa dan langkah apa yang dilakukan. Memasuki hari kedua dan seterusnya, perlahan koordinasi mulai terarah dan terkendali.
Kita ini memang ranah yang tak pernah belajar dari peristiwa berulang. Alam takambang manjadi guru hanya indah di forum diskusi. Ke depan, belajarlah dan berbenahlah.
Hati yang Mendua
Selain kegagapan tanggap bencana, banjir bandang dan galodo yang melanda tiga provinsi meninggalkan kesan hati yang mendua. Fakta lapangan menunjukkan banyak korban jiwa dan wilayah terdampak.
Dari berbagai sudut pandang, penetapan Bencana Nasional sangat patut dilekatkan pada peristiwa ini.
Namun, ada sikap mendua. Pemerintah, baik daerah maupun pusat, seolah enggan melekatkan label tersebut. Mungkin takut dianggap lemah, atau khawatir citra bangsa menurun di mata dunia.
Sejumlah pernyataan pejabat pun terdengar offside. Bencana disebut hanya mencekam di media sosial, perbandingan tiga provinsi dengan 38 provinsi, hingga penolakan bantuan asing.
Kita lupa bahwa bantuan bukan sekadar angka. Di baliknya ada empati sesama makhluk bumi. Mengapa kita terlalu kaku dan angkuh menyikapinya?
Kini tanggap darurat berakhir. Fokus tak lagi pada status bencana. Memang status penting untuk jaminan dana rehabilitasi dan rekonstruksi.
APBD seluruh Sumbar tak akan mampu memulihkan keadaan dalam satu atau dua tahun. Semoga janji pejabat dapat menjadi pegangan. Status boleh daerah, tetapi dukungan APBN maksimal. Soal kamus kebencanaan, terserahlah.
Ramah Bencana
Apa yang terjadi di penghujung tahun Ular Kayu (2025) adalah pelajaran penting, jika kita mau belajar. Kita terlalu lama membiarkan perusakan alam atas nama ekonomi. Regulasi dilanggar, pembiaran terjadi, apatisme menguat.
Alam murka karena kita menginvasi wilayahnya. Jalur sungai dan lembah dijadikan hunian. Daerah aliran sungai dirampas atas nama keterbatasan ekonomi.
Berbenahlah. Tegakkan aturan. Zona merah tetap zona merah. Jangan pernah memperlakukannya seperti zona hijau. Sekali dinyatakan tak layak huni, jangan bertoleransi.
Pembangunan pun harus berorientasi ramah bencana. Sarana jalan dan jembatan wajib didesain berwawasan mitigasi. Lembah Anai membutuhkan teknologi konstruksi terbaru dan penghijauan hulu. Sumbar memerlukan akses jalan baru demi masa depan yang lebih baik.
Pemangkasan TKD
Kebijakan fiskal Prabowo–Gibran tahun 2025 membuat daerah panik. Efisiensi anggaran memukul pemerintah daerah yang lama berada di zona nyaman. Pembangunan nyaris stagnan. Infrastruktur terbengkalai.
Pemangkasan Transfer Keuangan Daerah (TKD) membuat daerah terjepit. Untuk belanja rutin saja kewalahan. Tanpa pemangkasan saja berat, apalagi dipangkas. “Puasa” pembangunan di 2026 hampir pasti.
Namun, bencana juga membuka peluang. Pemangkasan TKD 2026 dievaluasi ulang. Ada relaksasi fiskal bagi tiga provinsi terdampak. Semoga bukan sekadar kabar pengantar tidur. Dukungan dana sekitar Rp15 triliun benar-benar direalisasikan.
Ekonomi yang Anjlok
Secara makro, ekonomi Sumbar 2024 adalah terberat sepanjang sejarah. Tahun 2025 masuk klaster lima pertumbuhan terendah, sementara inflasi termasuk lima tertinggi. Lengkap sudah kesulitan hidup.
Penurunan BI Rate tak menggerakkan moneter. Dana pihak ketiga stagnan, kredit menurun. Teori moneter tak berlaku. Anomali terjadi akibat rendahnya kepercayaan dunia usaha. VUCA masih menghantui. Dunia usaha memilih bertahan.
Menjelang akhir tahun Ular Kayu, kondisi makin nyata. Upaya pemulihan terbatas oleh waktu. Q4/2025 dipastikan lebih berat. Ekonomi terpuruk, inflasi meninggi. Alam menyeleksi. Daerah kreatif bangkit, yang nyaman terbenam.
2026 Tahunnya Harimau
Dalam astrologi Tiongkok, 2026 dilambangkan Shio Harimau: kekuatan, keberanian, kepemimpinan. Ini relevan bagi Sumbar.
Bencana dan kejatuhan ekonomi 2025 harus menjadi titik loncatan. Bangkit dari keterpurukan. Ubah mindset. Bekerjalah strategis dan bertanggung jawab. Ranah Minang membutuhkan pembenahan menyeluruh.
Bangkit dan berbenahlah. ***
Editor : Hendra Efison