PADEK.JAWAPOS.COM-"Komandan saya sebentar lagi mutasi. Tetap jadi komandan namun daerahnya 'kering'. Ia sepertinya tidak bisa menerima kondisi itu sehingga kecewa. Bawaannya sensi terus," ujar seorang teman lewat WhatsApp Call ke saya.
Jumat pagi (9/1/2026) teman itu sengaja telepon saya. Ia butuh penyaluran untuk menyampaikan curahan hatinya. Apalagi sejak kemarin telah menjadi "sasaran tembak" komandannya. Puncaknya tadi pagi.
Teman itu melanjutkan, komandannya yang sedang sensi minta agar beberapa tradisi saat serah terima jabatan (sertijab) dihilangkan. Padahal itu sudah rutin dilaksanakan selama puluhan setiap acara pergantian komandan.
Tujuan pelaksanaan tradisi itu untuk memberikan kesan positif kepada komandan baru dan lama. Sekaligus menunjukkan penghormatan seluruh anggota kepada para komandannya.
Sensinya komandan membuat panitia acara jadi serba salah. Mereka harus loyal, meski melaksanakannya tidak sesuai hati nurani.
Selain ini, selama pergantian komandan di satuan itu, baru kali ini komandannya sensi yang minta kebiasaan yang telah turun-temurun ditiadakan.
Permintaannya itu menimbulkan rumor di jajarannya terutama panitia acara perpisahan.
Saya menyimak semua yang disampaikan teman itu. Sambil menunjukkan empati. Sengaja membiarkan untuk mengungkapkan semua isi hatinya hingga tuntas.
Setelah teman itu menuntaskan curahan hatinya, giliran saya menyampaikan pandangan.
Saya mengawali dengan menyarankan supaya sabar menyikapi komandannya itu. Jangan menghadapinya secara emosional karena akan rugi sendiri.
Saya katakan salah satu konsekuensi jadi anak buah adalah punya atasan yang tidak selalu ideal dan menyenangkan. Karakternya beragam. Suka tidak suka, itu harus dihadapi.
Dari beragam karakter orang termasuk komandan atau atasan, kita bisa banyak belajar. Hal yang menyenangkan diteladani, sedangkan yang tidak baik jangan sekali-kali dilakukan kepada orang lain.
Saya menyarankan agar teman itu mencari momentum untuk bicara dari hati ke komandannya.
Dalam suasana yang menyenangkan, menyampaikan berbagai masukan terkait hal-hal yang diperintahkan untuk tidak dilaksanakan saat sertijab.
Sampaikan plus minusnya dan konsekuensi buat komandan itu dan penggantinya serta jajarannya.
Setelah semuanya disampaikan, keputusan diserahkan ke komandannya. Apa pun yang diputuskan harus loyal. Anak buah sebaiknya bersikap seperti itu.
Berkah Rezeki Lebih Penting daripada Banyaknya Materi
Menyimak tentang daerah "kering" seperti yang di awal disampaikan teman itu, saya sangat prihatin. Jika perubahan sikap komandannya karena hal tersebut, menyedihkan sekali. Apalagi itu terjadi pada level pejabat tertinggi di suatu institusi.
Ironisnya sampai sekarang masih banyak pimpinan yang menilai rezeki hanya dari materi saja. Mengenai sumbernya halal atau haram, tidak dipermasalahkan. Terpenting jumlahnya banyak.
Padahal kalau rezeki materi, paling utama bukanlah besar kecilnya. Itu relatif. Terpenting adalah keberkahannya. Untuk apa jumlahnya banyak tapi tidak berkah.
Telah banyak contoh mereka yang pendapatannya tidak berkah, muncul dampak negatifnya. Sering terjadi masalah pada keluarga yang biasanya menikmati langsung materi itu.
Rezeki Pertama: Kesehatan sebagai Nikmat yang Tak Ternilai
Di sisi lain materi bukanlah rezeki yang utama. Bagi saya itu berada di urutan terakhir. Paling bawah.
Rezeki yang pertama adalah kesehatan. Ini nilainya melebihi materi berapa pun juga. Sumber utama untuk sehat adalah hati yang selalu bersih dan pikirannya positif.
Dengan kondisi yang sehat, bisa melakukan aktivitas apa pun termasuk mendapatkan materi. Sebaliknya kalau sakit bisa mengeluarkan banyak materi.
Makanya selalu diingatkan agar hatinya bersih dan pikirannya positif. Hal ini bermanfaat tidak hanya buat diri sendiri tetapi juga untuk banyak orang.
Rezeki Kedua: Persahabatan yang Membawa Kemudahan
Rezeki yang kedua banyak teman. Seluruh teman adalah aset yang nilainya melebihi materi.
Mereka yang temannya banyak, hidupnya tenang dan mudah. Jika butuh pertolongan, setiap saat ada yang membantu meski tidak diminta.
Agar temannya banyak maka harus rajin melaksanakan silaturahim dengan ikhlas. Meniatkan sepenuhnya ibadah, karena Tuhan.
Perlu merawatnya agar persahabatannya langgeng dan jangka panjang. Caranya selalu meniatkan dan konsisten mempraktikkan untuk menolong teman yang membutuhkan tanpa pamrih. Bukan sebaliknya malah merepotkan.
Rezeki Ketiga: Amanah yang Harus Dipertanggungjawabkan
Rezeki yang ketiga adalah mendapatkan amanah. Nilainya melebihi materi. Jangan pernah sekali pun menyalahgunakannya.
Tidak semua orang mendapatkan amanah. Itu hanya diberikan kepada mereka yang dapat dipercaya. Jadi istimewa sekali.
Setiap amanah yang diperoleh harus dipertanggungjawabkan. Tidak hanya di dunia. Paling utama di akhirat.
Jadi, bersyukur dan berbahagialah mereka yang mendapatkan amanah. Laksanakan kepercayaan itu secara optimal agar orang yang memberikannya tidak kecewa.
Rezeki keempat adalah materi. Jumlahnya relatif. Mereka yang berpikiran positif, selalu bersyukur setiap mendapatkan materi.
Semoga Tuhan segera menyadarkan komandan yang sensi itu, sehingga saat meninggalkan jajarannya, semua kesan tentang dia kembali positif. Aamiin ya robbal aalamiin.(*)
Editor : Heri Sugiarto