Penulis: Indah Maya Sari, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Andalas.
PADEK.JAWAPOS.COM-Bagi siapa saja yang baru pertama kali menapakkan kaki di kota-kota besar Taiwan seperti Taipei atau Kaohsiung, kenyamanan transportasi publiknya memang patut diacungi jempol. Namun, begitu Anda melangkah masuk ke dalam bus kota, bersiaplah untuk mengalami kejutan budaya yang mendalam.
Di negara yang masyarakatnya terkenal sangat menjaga kesopanan ini, perilaku sebagian sopir bus umumnya justru terasa berbanding terbalik: mengemudi dengan agresif, menikung tajam, hingga hobi menginjak rem secara mendadak.
Fenomena ini sering kali memicu keluhan, baik dari warga lokal maupun ekspatriat, yang dengan nada gurauan menjuluki bus umum di Taiwan sebagai “roller coaster jalan raya”. Sungguh sebuah pemandangan yang paradoks. Mengapa para sopir bus di negara dengan sistem tata kota yang modern ini bisa mengemudi se-ekstrem itu?
Jika dibedah menggunakan kacamata manajemen transportasi dan psikologi industri, fenomena ini bukanlah masalah temperamen personal sang sopir semata. Ini adalah dampak sistemis dari ketatnya perang waktu dan dinamika jalanan yang mereka hadapi setiap hari.
Distorsi Target dan Sanksi Menit yang Berharga
Akar masalah dari gaya mengemudi yang agresif ini bermula dari papan penilaian performa perusahaan. Sistem transportasi bus di wilayah metropolitan Taiwan sebagian besar dikelola oleh perusahaan swasta yang dikontrak oleh pemerintah daerah.
Perusahaan-perusahaan ini menerapkan Key Performance Indicator (KPI) yang sangat saklek terkait ketepatan waktu operasional.
Setiap armada bus telah dilengkapi dengan sistem GPS canggih yang terintegrasi langsung dengan aplikasi pemantau rute real-time milik warga.
Jika seorang sopir terlambat tiba di halte tertentu melebihi batas menit yang ditoleransi akibat terjebak kemacetan, sistem akan mencatatnya sebagai pelanggaran. Sanksinya tidak main-main, mulai dari teguran manajemen hingga pemotongan bonus bulanan.
Di sinilah tekanan itu muncul. Demi mengejar menit-menit berharga yang hilang di lampu merah atau kemacetan, para sopir terpaksa memacu bus dengan sangat agresif begitu roda kendaraan menemukan celah jalan yang agak lengang.
Lelah Mental di Tengah Lautan Skuter
Faktor internal lain yang memperparah kondisi ini adalah krisis kekurangan tenaga kerja (labor shortage) yang sedang melanda industri transportasi Taiwan.
Pekerjaan sebagai sopir bus kurang diminati oleh generasi muda karena tingkat stresnya yang tinggi namun kompensasinya dianggap kurang sepadan dengan risiko.
Dampaknya, para sopir yang bertahan saat ini sering kali harus mengambil sif yang panjang atau lembur demi menutupi kekosongan rute kota.
Mengemudikan kendaraan besar berukuran belasan ton di tengah koridor beton yang padat selama sepuluh hingga dua belas jam sehari jelas menguras habis energi fisik dan mental. Kelelahan kronis inilah yang secara psikologis menurunkan tingkat kesabaran para sopir di aspal raya.
Kondisi psikologis yang lelah tersebut kemudian harus berhadapan dengan musuh alami mereka di jalanan Taiwan: lautan sepeda motor. Sebagai salah satu negara dengan kepadatan skuter tertinggi di dunia, jalanan kota Taiwan di jam sibuk adalah arena pertempuran ruang yang sengit.
Bagi seorang sopir bus, bermanuver masuk dan keluar dari kantong halte adalah tantangan yang menegangkan karena ratusan motor siap menyelip di titik buta (blind spot) mereka.
Untuk menjaga wilayahnya di aspal dan memastikan bus bisa menepi tepat waktu tanpa terhalang gerombolan motor yang enggan mengalah, sopir bus dituntut untuk mengambil keputusan mengemudi yang defensif namun sangat tegas, yang sering kali terlihat ugal-ugalan di mata orang awam.
Asumsi Keselamatan yang Dibebankan pada Penumpang
Ada satu aspek sosiologis unik yang ikut melegitimasi gaya mengemudi "gas-rem" instan ini di dalam kabin bus Taiwan.
Di setiap sudut bus, Anda akan dengan mudah menemukan papan peringatan besar dan pengumuman suara otomatis yang terus-menerus mengingatkan: "Demi keselamatan Anda, harap segera duduk atau berpegangan erat pada handstrap saat bus bergerak."
Secara tidak tertulis, regulasi keselamatan di Taiwan melimpahkan sebagian tanggung jawab keselamatan di dalam kabin kepada penumpang itu sendiri. Para sopir beroperasi dengan asumsi dasar bahwa begitu pintu otomatis ditutup, seluruh penumpang sudah mematuhi prosedur dengan mencengkeram tiang atau duduk manis.
Oleh karena itu, mereka tidak akan ragu untuk langsung menginjak pedal gas secara spontan tak lama setelah pintu mengatup, tanpa perlu menunggu atau memastikan apakah penumpang lansia yang baru naik sudah mendapatkan kursi kosongnya.
Pemerintah Taiwan sebenarnya tidak tinggal diam melihat fenomena ini. Melalui pemasangan kamera pengawas internal, sistem denda berkala, hingga pembukaan jalur aduan publik lewat hotline warga, ruang gerak sopir yang membahayakan terus dipersempit.