Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

In Memoriam Iyut Fitra: Penyair yang Pergi Menjelang Hari Puisi

M Fajar Rillah Vesky • Senin, 27 April 2026 | 18:25 WIB
Penyair asal Sumatera Barat, Iyut Fitra.
Penyair asal Sumatera Barat, Iyut Fitra.

Sehari menjelang peringatan Hari Puisi Nasional 2026, penyair asal Payakumbuh, Sumbar,  Iyut Fitra, dipanggil Sang Khalik. Menurut istrinya, Zarni Jamila, Iyut Fitra yang bernama asli Zulfitra, meninggal di RSUP.M Djamil Padang, Senin (27/10/2026) sekitar pukul 15.00 WIB. Kepergian lelaki yang menyala dengan puisi ini menyisakan begitu banyak kenangan.

Catatan: Fajar Rillah Vesky

"Ke sana, ke stasiun
berulang-ulang suara tiada jemu memanggil
namun kita hanya terpana
selalu bertanya-tanya
tentang kenangan
tapi lupa akan Tuhan"

Itulah puisi yang ditulis penyair Iyut Fitra di dinding rumahnya, kawasan Padangtongah, Nagari Koto Nan Ompek, Kota Payakumbuh. Setiap orang yang pernah singgah ke rumah Iyut, pasti membaca puisi berjudul "Stasiun Kenangan" itu. Sebab, selain ditulis dengan huruf ber-font besar, warna tulisannya juga mencolok di mata.

Ya, Iyut sengaja menulis puisi itu dengan cat minyak berwarna ungu. Kata Ilham Yusardi, alumni Fakultas Sastra Unand, Iyut menulis puisi itu bukan untuk dirinya saja. Bukan pula untuk dibaca-baca Zarni Jamila,  pegawai Disdikbud Limapuluh Kota yang dinikahi Iyut bertahun silam.

Lebih dari itu, Iyut ingin mengingatkan setiap insan, betapa pentingnya mengingat Tuhan, ketimbang sekedar mencatat kenangan. 
Ah, entahlah. Iyut Fitra semasa hidupnya, hanya  tersenyum ketika ditanya soal "Stasiun Kenangan". "Wah, itu puisi lama, dibuat Februari 1999," ucapnya.

Iyut Fitra lahir di Payakumbuh, 16 Februari 1968. Ia merupakan ungsu dari tujuh bersaudara. Hasil pernikahan pasangan suami-istri Safri dan Jawani. Sebagai penyair, Iyut  telah menyalami dalamnya lautan sastra nusantara. Ia  juga telah menjelajahi berbagai belahan bumi. Mulai dari Malaysia, Singapura, sampai Australia.

Di Austria,  Iyut Fitra pada 13 sampai 16 Mei 2010 silam, mewakili Indonesia dalam The Festival Of Australian Writing WordStorm 2010.  Ini semacam festifal yang mempertemukan penulis dari Asia Pasifik dan Australia. Saat itu, Iyut Fitra mewakili Indonesia bersama penulis "Laskar Pelangi" Andrea Hirata, editor Jurnal Perempuan MGuntur Romli, dan cerpenis Yulianti Farid.

Iyut Fitra adalah potret nyata penyair dan penulis daerah yang bisa go-nasional dan internasional.

Pria berambut gondrong ini lebih banyak melewati karier kepenulisan di daerah. Seperti cerpenis Gus tf Sakai  dan sastrawan Adri Sandra yang tinggal sekota dengannya, Iyut memilih tidak "merantaukan" fisik. Dia lebih senang menetap di Payakumbuh, Sumbar.

Di kota itu pula, Iyut pada tanggal 2 Mei 1990 mendirikan komunitas seni Intro bersama sejumlah pelaku seni. Diantaranya, Yusril Katil, Ijot Goblin, Cibot Irsa, Petra, Rudi Cirut, YM Dallu Awartha. dan Sigit A Yazid. Belakangan, Yusril menjadi dosen di ISI Padangpanjang. Sedangkan Sigit dan Ijot sudah lama berpulang.

Kehadiran komunitas Intro yang ikut didirikan Iyut Fitra, sebagaimana diakui mantan Wali Kota Payakumbuh Josrizal Zain dan Riza Falepi, cukup banyak membawa pengaruh positif untuk anak muda. Bahkan, hampir 70 persen kegiatan seni-budaya di Payakumbuh, diwarnai anak-anak Intro.

Komunitas Intro juga pernah menjadi "es batu" yang menyejukkan Payakumbuh. Seperti diketahui, antara tahun 2000 sampai 2001, Payakumbuh dilanda kecamuk perang eksekutif dengan legislatif. Salah satu penyebabnya adalah pembangunan jenjang di depan pusat pertokoaan.

Menurut Darlis Ilyas, walikota yang berkuasa saat itu, jenjang di depan pertokoan bertingkat memang diperlukan. Tapi DPRD di bawah pimpinan Chin Star kurang setuju. Alhasil, ketika jenjang selesai dibangun, terjadi desakan agar jenjang dibongkar kembali.

Di tengah prahara berkepanjangan, Iyut Fitra bersama anggota komunitas Intro dan sejumlah wartawan, menggagas pertunjukan seni di tangga tersebut. "Awal pertunjukkan digelar, kita sempat dianggap gila. Tapi lambat laun masyarakat menikmati," kenang Iyut.

Sebelum menjadi seorang lelaki yang menyala dengan puisi, Iyut Fitra melewati banyak onak dan duri. Jenjang pendidikannya sempat tersendat-sendat. Sehingga jangan heran, jika Iyut tergolong penyair yang paling sering pindah sekolah.

Menulis Sejak Sekolah

Mula-mula, Iyut menimba ilmu di SD 01 Klumpang, Nagari Koto Nan Ompek. Kini SD tersebut berganti nama menjadi SD 02 Payakumbuh. Letaknya masuk dalam Kelurahan Balai Nan Duo, Payakumbuh Barat.

Setamat dari SD 01 Klumpang, Iyut  melanjutkan pendidikan ke SMP 1 Payakumbuh. Tapi hanya satu semester. Setelah itu, pindah ke SMP Standar (kini bernama SMP 4 Payakumbuh). "Di SMP Standar saya juga tidak bisa bertahan lama, karena tinggal kelas," ujar Iyut semasa hidupnya.

Begitu  tinggal kelas, Iyut Fitra kembali memilih pindah sekolah. Dia pindah ke SMP 3 Nan Kodok, Kecamatan Payakumbuh Utara. Di sekolah inilah, Iyut berkenalan dengan dunia tulis-menulis.

"Waktu itu, saya sering datang ke tamaan bacaan di pusat kota Payakumbuh. Saya masih ingat, salah satu nama tamaan bacaan itu adalah Favorit. Di tempat itu, saya banyak membaca novel-novel Indonesia. Saya  berfikir, kalau menulis begini, saya juga bisa," ujar Iyut.

Sejak itulah Iyut mulai belajar menulis cerita pendek dan puisi. Tapi tidak pernah dikirim ke surat kabar. Baru ketika masuk SMA, Iyut berani mengirim karya-karyanya ke Singgalang, Haluan, Anita, dan Aneka Yes. Karya-karya Iyut pun mulai dikenal luas. 

Namun, Iyut lupa membagi waktu belajar dengan menulis. Guru di sekolah juga belum memberi support untuk siswa yang gandrung sastra. Akibatnya, Iyut kembali mengulang sejarah: melewati dua sekolah sekaligus. Mulai dari SMPP 25 Bukitsitabuah (kini SMA 2 Payakumbuh) sampai akhirnya tamat di SMA PGRI.

Waktu duduk di bangku SMA, Iyut punya kisah yang tak terlupakan. Dulu, kata Iyut, setiap pulang sekolah, dia selalu singgah di pasar Payakumbuh. Kebetulan, pasar adalah tempat berkumpul siswa-siswi dari berbagi sekolah.

"Kalau ketemu siswi-siswi manis, saya selalu memberi puisi. Saya bilang ada orang berkirim puisi. Makanya, puisi-puisi saya sewaktu SMA, lebih banyak di tangan teman seangkatan. Kalau tidak ada sama mereka, berarti puisi saya disita guru sewaktu belajar," cerita Iyut Fitra.

Selepas menamatkan pendidikannya di SMA Payakumbuh, Iyut Fitra tidak melanjutkan ke bangku kuliah. "Saya memilih belajar autodidak dan berkesenian dari kota ke kota," ujarnya.

Pola autodidak yang diterapkan Iyut Fitra ternyata membuahkan hasil. Pada tahun 1992, Iyut Fitra menggebrak dunia sastra tanah air dengan memenangkan Lomba Cipta Puisi Sanggar Minum Kopi Bali. Sejak itulah, Iyut mulai tertarik dengan puisi. Hingga akhirnya, menjadi lelaki yang menyala dengan puisi.

Proses Kreatif

Bicara soal proses kreatifnya dalam menulis puisi, Iyut sambil menghela nafas mengatakan, proses kreatif masing-masing penyair sudah pasti tidak sama. Dia sendiri melihat proses kreatifnya dari keseimbangan membaca dan menulis.

"Dalam proses itulah, rentetan pembelajaran terjadi. Tapi saya sendiri, masih ragu menyebut sebagai penyair. Sebab untuk menyebut penyair, oranglah yang menilai, bukan kita," ucap Iyut sambil mengibas rambutnya.

Soal proses pencarian kata-kata  dalam menulis puisi. Iyut mengaku selalu berupaya menghindari pemakaian kata-kata yang sudah verbal. "Tapi, kalau boleh jujur, pencarian kata-kata yang saya lakukan, lebih banyak dimotivasi kultur Minangkabau," imbuhnya.

Menyinggung tentang dunia kepenyairan Sumbar hari ini, Iyut menilai, sangat memuaskan. Penyair-penyair qualifed banyak yang lahir. Ini tentu tidak terlepas dari kondusifnya situasi Sumbar. Tidak ada blok, gap, dan batasan antar sastrawan atau penyair. Kalaupun ada, suasana lebih cair dibanding daerah lain.

Lantaran itupula, Iyut tidak khawatir bersaing dengan penyair-penyair muda. Dia juga tidak gamang dengapenyair dadakan yang lahir lewat media instan, seperti facebook, tweeter, ataupun blog. 'Sebab pada akhirnya, semua karya-karya penyair, akan tetap kembali kepada kualitas," ujar Iyut Fitra.

Kini, penyair berkualitas itu sudah pergi.  Kepergiannya, menyisakan duka mendalam bagi dunia kepenyairan. Dua sastrawan dari Payakumbuh, Gus tf Sakai dan Adri Sandra, saat dihubungi kemarin sore, cukup terpukul dengan kepergian Iyut  Fltra. Begitu pula sejawat Iyut di komunitas seni Intro. Selamat jalan Kuyut. Doa kami menyertai. Setiap yang bernyawa, pasti akan kembali. (***)

*Fajar Rillah Vesky, wartawan non-aktif Padang Ekspres.

Editor : Hendra Efison
#penyair Sumbar wafat #Hari Puisi Nasional 2026 #payakumbuh #Iyut Fitra #rsup m djamil padang