Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Dialektika Seni: Kritik, Kebebasan, dan Pembangunan

Tandri Eka Putra • Selasa, 12 Mei 2026 | 11:14 WIB
Shofwan Karim, Pengamat, Penulis Esai dan Dosen Pascasarjana UM Sumbar
Shofwan Karim, Pengamat, Penulis Esai dan Dosen Pascasarjana UM Sumbar

 

Oleh: Shofwan Karim, Pengamat, Penulis Esai dan Dosen Pascasarjana UM Sumbar


PADEK.JAWAPOS.COM-Pada beberapa hari lalu heboh. Film “Pesta Babi” dibubarkan saat acara nonton bareng di Tangerang. Beberapa media merilis bahwa tragedi pembubaran itu berasal dari  sebuah karya seni yang menyoroti isu sosial dan kebebasan kreatifitas, daya cipta dan berekspresi.

Film itu mencerminkan budaya, lingkungan hidup dan tradisi yang terancam di salah satu lokus-wilayah benua mini, “Burung Cendrawasih”.  Sebagai karya seni ada pembelaan bahwa pembubaran itu adalah melumpuhkan kreativitas.

Sebaliknya karya seni yang kontra produktif untuk Pembangunan harus ditolak. Kebebasan ada batasnya. Dan bagi memori orang dan tokoh tertentu yang  rajin mengulik masa lalu, kasus ini sebenarnya pengulangan dari tangga sejarah pada setiap rezim.

Baca Juga: Pariwisata Sumbar Menawan, Namun Belum Ramah

Sejak dari masa penjajahan, masa demokrasi liberal, demokrasi terpimpin, orde baru, orde reformasi dan kini pascareformasi. Esai ini ingin mendadah-tayang singkat beberapa aliran pemikiran dalam narasi renungan. 

Sejak awal peradaban, seni selalu hadir sebagai bahasa yang melampaui kata-kata. Ia bukan sekadar hiasan, melainkan medium refleksi, protes, dan harapan. Pertanyaan mendasar muncul: bagaimana suatu karya seni dapat dianggap sebagai kritik?

Apakah seni harus berdiri untuk dirinya sendiri, ataukah ia mesti mengabdi pada pembangunan sosial? Pertanyaan ini menuntun kita pada dialektika antara estetika, etika, dan praksis.

Baca Juga: Pemkab Solok Resmi Luncurkan Tahapan Pilwana Serentak 2026, Pemungutan Suara Digelar 9 September

Seni sebagai Kritik

Sebuah karya seni dianggap kritik ketika ia berani menyingkap lapisan kenyataan yang sering disembunyikan. Kritik bukan sekadar komentar, melainkan tindakan estetis yang mengguncang kesadaran.

Dalam filsafat Yunani, seni yang kritis adalah bentuk parrhesia—keberanian berkata benar meski berisiko. Taufik Ismail dalam dunia sastra.

WS Rendra dalam duania teater, Buya Hamka,  dalam Novel, Mochtar Lubis wartawan dan pemikir kebudayaan  dan sebutlah contoh-contah para pujangga, penulis, wartawan, pemikir di masa lalu dan kini yang masih hidup. 

Baca Juga: Satreskrim Polres Dharmasraya Tangkap Pelaku Pencurian Motor dan Ponsel di Sitiung

Puisi yang menyoal ketidakadilan, film yang membongkar represi, atau lukisan yang menyingkap luka sejarah, semuanya adalah kritik.

Seni menjadi “mata ketiga” yang mengingatkan masyarakat bahwa keindahan sejati tidak steril dari penderitaan manusia. Kritik dalam seni bukanlah destruksi, melainkan upaya membuka ruang dialog. Ia mengajarkan bahwa estetika tidak bisa dipisahkan dari etika.

Seni untuk Seni (L’art pour l’art)

Konsep “seni untuk seni” lahir dari romantisisme Eropa abad ke-19. Seni dipandang sebagai dunia otonom, bebas dari fungsi sosial, politik, atau ekonomi. Ia berdiri sebagai keindahan murni, sebagai permainan imajinasi yang tidak tunduk pada utilitas.

Baca Juga: TKA Tumbukan Nalar, Kuatkan Karakter

Secara filosofis, seni untuk seni adalah perayaan kebebasan kreatif. Ia adalah ruang kontemplasi di mana manusia dapat mengalami transendensi estetis. Dalam bahasa sastrawi, seni untuk seni adalah “nyanyian sunyi” yang tidak meminta legitimasi selain dirinya sendiri.

Namun, kritik terhadap gagasan ini muncul. Apakah seni yang menutup mata dari realitas sosial masih dapat disebut seni yang hidup?

Apakah keindahan yang steril dari penderitaan manusia tidak berubah menjadi sekadar ornamen kosong? Pertanyaan ini menegaskan bahwa seni untuk seni, meski luhur, tetap menghadapi dilema eksistensial.

Baca Juga: Kurikulum Merdeka Dan Ujian Bersama: Menyatukan Standar, Memahami Perbedaan Sekolah

Seni untuk Pembangunan

Sebaliknya, seni untuk pembangunan menempatkan karya sebagai instrumen perubahan sosial. Ia menjadi bahasa kolektif untuk membangun kesadaran, solidaritas, dan arah peradaban. Dalam perspektif filosofis, seni untuk pembangunan adalah dialektika antara estetika dan praksis.

Seni tidak kehilangan keindahan, tetapi keindahan itu diarahkan untuk menumbuhkan harapan, memperkuat identitas, dan menggerakkan masyarakat. Dalam bahasa sastrawi, seni untuk pembangunan adalah “api yang menyalakan obor di tengah gelap,” sebuah energi yang menghubungkan imajinasi dengan tindakan nyata.

Contoh nyata dapat ditemukan dalam seni pergerakan: mural yang menghidupkan semangat rakyat, teater yang membangkitkan kesadaran politik, atau musik yang menyatukan komunitas dalam perjuangan. Seni untuk pembangunan adalah seni yang berakar pada kehidupan, bukan sekadar pada estetika.

Baca Juga: Menjaga Semangat Gotong Royong di Era Digital

Pada suatu zaman tak terlalu jauh, seni untuk pembangunan menjadi idola sebagai bahasa propaganda atau benar-benar murni untuk kesejahteraan manusia di masanya. Maka kalau ada lirik lagu yang mengiba-iba, disebut “ngak-ngik-ngok”.

Kalau ada dramatisiasi “critical-ponits” yang ditampilkan dunia teater, maka teater itu tak bisa tampil di publik. Baik karena self-critic  atau “external-critic” yang mengatakan itu karya tidak produktif dan tak sesuai pembangunan semesta. 

Dialektika Seni dan Kritik

Pertentangan antara seni untuk seni dan seni untuk pembangunan bukanlah oposisi mutlak. Ia lebih tepat dipahami sebagai dialektika. Seni untuk seni menegaskan kebebasan kreatif, sementara seni untuk pembangunan menekankan tanggung jawab sosial.

Baca Juga: Prakiraan Cuaca Sumbar Hari Ini 12 Mei 2026, Padang Panjang Berpotensi Hujan Petir

Filsafat mengajarkan bahwa kebebasan tanpa tanggung jawab adalah nihil, dan tanggung jawab tanpa kebebasan adalah represi. Maka, seni sejati adalah pertemuan keduanya: kebebasan yang bertanggung jawab, keindahan yang berani, dan kritik yang membangun.

Dalam bahasa sastrawi, seni adalah “jembatan antara ada dan harus ada.” Ia menghubungkan dunia imajinasi dengan dunia nyata, dunia estetika dengan dunia etika.

Seni adalah medan pertemuan antara kebebasan dan tanggung jawab. Ia bisa menjadi kritik yang mengguncang, bisa pula menjadi nyanyian murni yang bebas dari beban sosial, atau menjadi instrumen pembangunan yang menyalakan harapan.

Baca Juga: Tambang Ilegal, PR Kapolda Baru

Ujungnya seni adalah dialektika antara ada dan harus ada.  Secara etis, estetis dan filosofis, seni adalah jembatan antara keindahan dan keberanian. Pada akhirnya, seni tidak pernah netral: ia selalu berbicara, entah kepada diri sendiri, kepada masyarakat, atau kepada sejarah. (*)

Editor : Novitri Selvia
#Pesta Babi #Burung Cendrawasih #tanah papua #Dialektika Seni #nonton film