Menanam Masa Depan di Pesisir Belitung: Mangrove, Ekonomi Hijau, dan Jejak Net Zero Elnusa Petrofin

Hendra Efison • Dipublikasikan Selasa, 2 Juni 2026 | 10:15 WIB
Program Hutan Petrofin dalam mendukung target Net Zero Emission 2060 melalui penanaman bibit mangrove sebagai bagian dari upaya pelestarian ekosistem pesisir di Indonesia. (dok. elnusa petrofin)
Program Hutan Petrofin dalam mendukung target Net Zero Emission 2060 melalui penanaman bibit mangrove sebagai bagian dari upaya pelestarian ekosistem pesisir di Indonesia. (dok. elnusa petrofin)

PADEK.JAWAPOS.COM—Di pesisir Belitung, pagi tidak hanya ditandai cahaya matahari yang perlahan naik dari garis laut. Ada pula langkah-langkah kecil yang menembus lumpur, membawa bibit mangrove yang rapuh namun penuh harapan.

Sejumlah warga berdiri di tepian pesisir tanpa panggung, tanpa pengeras suara. Hanya tanah basah, angin laut, dan kesadaran bahwa garis pantai yang mereka pijak tidak selalu akan tetap di tempat yang sama.

Di titik-titik seperti inilah masa depan Indonesia sedang ditanam.

Indonesia sebagai negara kepulauan menghadapi ancaman nyata perubahan iklim: abrasi, kenaikan muka air laut, hingga cuaca ekstrem. Namun di tengah risiko itu, muncul berbagai upaya adaptasi berbasis alam, salah satunya melalui rehabilitasi mangrove yang kini menjadi bagian penting dari strategi karbon biru (blue carbon).

Di Belitung, aktivitas penanaman mangrove bukan sekadar program penghijauan. Ia menjadi bagian dari arsitektur besar transisi energi dan keberlanjutan yang kini juga digerakkan sektor swasta, termasuk melalui Program Hutan Petrofin.

Jejak 13.023 Pohon dan 127,6 Ton CO2

PT Elnusa Petrofin (EPN), perusahaan yang bergerak di sektor distribusi energi, membangun pendekatan keberlanjutan melalui Program Hutan Petrofin yang mulai diinisiasi sejak 2022 dan ditetapkan sebagai program CSR flagship pada 2025.

Hingga kini, program tersebut telah menanam total 13.023 pohon yang terdiri dari trembesi, mangrove, bambu, dan berbagai tanaman produktif lainnya.

Dari keseluruhan penanaman tersebut, perusahaan mencatat estimasi penyerapan emisi sebesar 127,6 ton CO2 equivalent. Meski relatif kecil dibandingkan skala emisi industri energi, angka ini menjadi penanda awal komitmen berbasis pengukuran (measurable commitment) dalam agenda dekarbonisasi.

Distribusi penanaman juga menunjukkan konsistensi:

Jenis pohon yang dipilih tidak bersifat simbolik semata. Trembesi dikenal sebagai salah satu penyerap karbon tinggi, bambu efektif menahan erosi sekaligus menyerap CO2, sementara mangrove memiliki peran strategis dalam ekosistem karbon biru sekaligus perlindungan pesisir.

Mangrove dan Benteng Alam yang Tergerus

Di banyak wilayah pesisir Indonesia, hilangnya mangrove berarti hilangnya garis pertahanan alami. Ombak yang sebelumnya diredam akar kini langsung menghantam daratan. Perlahan, garis pantai mundur tanpa perlawanan.

Mangrove bukan hanya vegetasi. Ia adalah infrastruktur ekologis. Akar-akarnya menahan sedimen, meredam gelombang, sekaligus menjadi habitat penting bagi biota laut.

Dalam konteks target Net Zero Emission 2060, mangrove memiliki posisi strategis karena kemampuannya menyimpan karbon dalam jumlah besar, bahkan melebihi banyak hutan daratan.

Di titik inilah program rehabilitasi pesisir seperti di Belitung menemukan relevansinya: bukan sekadar konservasi, tetapi bagian dari strategi iklim nasional.

Ketika Limbah Menjadi Solusi: Ekonomi Sirkular Appostraps

Pendekatan keberlanjutan Elnusa Petrofin tidak berhenti pada penghijauan. Perusahaan juga mengembangkan inovasi berbasis ekonomi sirkular melalui program Appostraps (Alat Pemecah, Peredam Ombak, dan Sedimen Traps).

Program ini lahir dari pertanyaan sederhana: apa yang bisa dilakukan dengan limbah ban kendaraan operasional yang sudah tidak layak pakai?

Jawabannya tidak konvensional. Ban bekas tersebut justru diubah menjadi struktur penahan abrasi di wilayah pesisir.

Implementasinya telah dilakukan di beberapa lokasi:

Struktur tersebut berfungsi meredam energi gelombang laut sekaligus menjebak sedimen, memperlambat abrasi secara alami dengan biaya relatif rendah.

Secara konseptual, pendekatan ini mencerminkan prinsip ekonomi sirkular: limbah tidak berakhir sebagai beban, tetapi menjadi bagian dari solusi ekologis baru.

CSR yang Bergerak ke Arah Sistem

Di luar program lingkungan, pendekatan keberlanjutan perusahaan juga tampak dalam berbagai inisiatif sosial. Salah satunya program Petrofin Berkurban yang menyalurkan 44 ekor sapi dan 105 ekor kambing kepada 17.520 penerima manfaat di 125 titik di Indonesia.

Program ini tidak hanya berorientasi distribusi, tetapi juga mulai mengadopsi prinsip pengurangan limbah plastik melalui penggunaan wadah distribusi yang dapat digunakan kembali.

Dalam skala lain, perusahaan juga terlibat dalam Gerakan Wisata Bersih bersama Kementerian Pariwisata di Manado, serta pengembangan sistem pengelolaan sampah berbasis desa melalui program ASIAP di Sulawesi Utara.

Rangkaian inisiatif ini menunjukkan pergeseran pendekatan CSR dari aktivitas terpisah menuju ekosistem keberlanjutan yang saling terhubung.

Dari Belitung ke Agenda Iklim Nasional

Kembali ke pesisir Belitung, bibit mangrove yang ditanam hari ini mungkin belum menunjukkan perubahan besar dalam waktu dekat. Namun akar yang tumbuh perlahan itu menyimpan fungsi ekologis jangka panjang.

Di masa depan, kawasan ini bukan hanya menjadi benteng alami pesisir, tetapi juga berpotensi berkembang sebagai ruang ekowisata berbasis masyarakat, di mana konservasi dan ekonomi lokal berjalan beriringan.

Di sinilah makna keberlanjutan menjadi nyata: ketika perlindungan lingkungan tidak berdiri sendiri, tetapi terhubung dengan kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat.

Target Net Zero Emission 2060 mungkin terdengar jauh. Namun ia sesungguhnya dibangun dari langkah-langkah kecil seperti ini—dari bibit mangrove yang ditanam di lumpur pesisir, dari limbah yang diubah menjadi pelindung pantai, hingga kolaborasi antara masyarakat, pemerintah, dan dunia usaha.

Perubahan besar tidak pernah terjadi dalam satu musim. Ia tumbuh perlahan, seperti mangrove yang menguatkan akar di tengah arus.

Dan di Belitung, proses itu sedang berlangsung. (hendra efison)

Editor : Hendra Efison
mangrove Belitung net zero emission 2060 Ekonomi Hijau Program Hutan Petrofin Elnusa Petrofin