Oleh: Shofwan Karim (Dosen Pascasarjana UM Sumbar Pengamat, dan Penulis Esai)
PADEK.JAWAPOS.COM-Dalam khazanah ekologi Nusantara purba, ada kosa kata klaras, kerisik, dan keresik dedaunan. Itu bukanlah simbol dari limbah nirguna. Keresik daun pisang secara tradisional difungsikan sebagai pemerah alami yang menghantarkan buah-buahan mentah menjadi matang.
Keresik daun kelapa kerap diikat menjadi suluh, menyebarkan pendar cahaya yang memandu langkah para tetua menembus gulita malam menuju surau untuk menunaikan salat Subuh.
Dua tamsil kosmologis ini laksana proklamasi eksistensial bahwa segala sesuatu yang tampaknya telah menua dan mengering di alam semesta sesungguhnya masih menyimpan daya guna yang transendental.
Baca Juga: Uji Balistik Peluru Nyasar UNP Digelar, Terungkap Ada 7 Dugaan Insiden dalam 16 Tahun
Di era kontemporer yang dihela oleh gelombang disrupsi digital, kecerdasan buatan, dan teknologi nirawak (drone), eksistensi aging society atau para warga senior (lanjut usia) kerap dipandang melalui kacamata utilitarianisme yang reduktif.
Lansia sering kali dikategorikan secara peyoratif sebagai beban demografis akibat penurunan fungsi fisik. Namun, secara filosofis dan teologis, fenomena penuaan merupakan fase krusial dalam siklus teologis manusia. Sebuah perjalanan kembali (al-ruju') menuju titik mula penciptaan dalam kondisi spiritual yang paripurna.
UHI, Perspektif Geososial dan Takdir Ilahiah
Berdasarkan data demografi global terkini, terdapat jurang variasi yang kontras pada usia harapan hidup (UHH/life expectancy). Monaco mencatatkan angka tertinggi di dunia dengan rata-rata 86,5 tahun, disusul San Marino (85,8 tahun), Hong Kong (85,6 tahun), Jepang (84,8 tahun), dan Taiwan (81,3 tahun).
Baca Juga: Bank Nagari Klarifikasi Temuan BPK: Tegaskan Operasional Sesuai Ketentuan Perbankan
Sebaliknya, negara-negara di kawasan Sub-Sahara, seperti Nigeria, mencatatkan angka terendah yakni 54,6 tahun, diikuti Chad (55,2 tahun) dan Somalia (59,0 tahun).
Di Indonesia, rata-rata nasional usia harapan hidup telah menunjukkan tren kenaikan positif hingga mencapai angka 74 tahun, meskipun fluktuasinya bervariasi antarprovinsi bergantung pada kualitas hidup masing-masing daerah.
Kini Indonesia, meski tanpa gembar-gembor, memiliki Hari Lanjut Usia Nasional (HLUN) yang diperingati setiap tanggal 29 Mei sebagai bentuk penghargaan atas jasa para orang tua kepada bangsa dan negara.
Baca Juga: BMKG Catat 17 Kali Gempa Bumi di Wilayah PGR VI Selama 29 Mei–4 Juni 2026
Di Taiwan, fenomena peningkatan usia harapan hidup, menurut Kementerian Dalam Negeri setempat, ditopang oleh standar medis yang tinggi, kesadaran nutrisi, serta budaya olahraga yang masif.
Setali dengan itu, terdapat dimensi teologis. Angka-angka statistik tersebut merupakan manifestasi dari determinasi takdir (qadar) Allah SWT yang bergerak di atas sunatullah, yakni hukum alam atau kausalitas material.
Islam memandang usia biologis sebagai ruang temporal yang diberikan oleh Sang Khaliq untuk menguji kualitas pengabdian manusia (QS Az-Zariyat: 56).
Baca Juga: Program Padat Karya Tanahdatar Dimulai, Rp700 Juta untuk 7 Nagari Terdampak Bencana
Usia harapan hidup tidak boleh sekadar dimaknai sebagai keberhasilan peradaban sekuler, melainkan harus dipahami sebagai perpanjangan kesempatan untuk menyempurnakan bekal ukhrawi.
Kelemahan Fisik sebagai Karunia
Al-Qur'an Surah Ar-Rum ayat 54 memetakan ontologi penuaan manusia sebagai keniscayaan sunatullah.
"Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa." (QS Ar-Rum: 54).
Ayat ini menegaskan bahwa fase lansia merupakan siklus sirkular ketika manusia dikembalikan pada titik kelemahan fisik menyerupai masa bayi.
Secara syar'i, penurunan fungsi jasmani dan rohani ini tidak menggugurkan harkat kemanusiaan mereka. Sebaliknya, Islam menempatkan para lansia pada kedudukan terhormat dalam struktur sosial-keagamaan.
Rasulullah SAW bersabda:
"Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak menyayangi generasi muda kami dan tidak mengerti hak-hak orang tua (lansia) kami." (HR At-Tirmidzi).
Oleh karena itu, instrumen pendukung pengasuhan lansia seperti caregiver, care worker, maupun pramurukti menjadi kewajiban kolektif (fardu kifayah) dalam rangka menegakkan pilar kemanusiaan berbasis syariat. Inilah bentuk aktualisasi nilai-nilai profetik.
Landasan teologis dari pengasuhan ini tercermin dalam firman Allah SWT ketika menceritakan penjagaan-Nya terhadap Nabi Musa AS:
"...Aku telah melimpahkan kepadamu kasih sayang yang datang dari-Ku; dan agar engkau diasuh di bawah pengawasan-Ku." (QS Taha: 39).
Baca Juga: Program Padat Karya Tanahdatar Dimulai, Rp700 Juta untuk 7 Nagari Terdampak Bencana
Ketika fungsi fisik para lansia melemah, Allah menggerakkan hati sesama manusia melalui kasih sayang-Nya untuk menjadi perpanjangan tangan-Nya dalam menjaga mereka.
Keresik Spiritual Mencerahkan
Lensa tasawuf memandang masa lansia sebagai masa keemasan spiritual. Uban yang tumbuh dan kulit yang keriput bukanlah tanda pembusukan biologis, melainkan cahaya transendental (nur) yang mengingatkan kedekatan hamba dengan Sang Pencipta.
Rasulullah SAW bersabda:
"Janganlah kalian mencabut uban, karena uban itu adalah cahaya bagi seorang muslim pada hari kiamat." (HR Abu Dawud).
Baca Juga: UNIQLO Luncurkan 5 Desain Baru PEACE FOR ALL, Donasi Global Tembus 3 Miliar Yen
Proses penuaan merupakan tajalli (penyataan diri) Tuhan dalam asma-Nya Yang Maha Akhir (Al-Akhir). Ketika dunia mulai lepas dari genggaman jemari fisik seorang lansia, batinnya justru diajak untuk menggenggam hakikat keilahian.
Lansia yang berjalan kaki memenuhi target langkah di gawai mereka atau mengayuh sepeda berkilometer-kilometer menyusuri jalan kota dan desa merepresentasikan determinasi manusia yang tidak mau takluk pada pembusukan biologis.
Mereka bergerak bukan sekadar demi kebugaran kardiovaskular, melainkan sebagai bentuk zikir rijal al-ghaib, sebuah tarian eksistensial yang mensyukuri setiap helaan napas yang tersisa.
Baca Juga: ASAS 2026 Kota Padang: SMP Semen Padang Tembus 10 Besar, Tiga Siswa Raih Nilai Sempurna
Lansia yang produktif, yang memilih menjadi relawan di ruang publik atau tetap berkarya sesuai keahliannya, adalah wujud nyata dari konsep khairunnas (manusia terbaik). Mereka bertransformasi menjadi keresik daun kelapa yang beralih rupa menjadi suluh.
Fisik mereka mungkin kering laksana daun tua, tetapi mereka memancarkan kebijaksanaan spiritual (hikmah) yang menerangi jalan bagi generasi muda yang sering kali tersesat di tengah rimba modernitas yang gelap.
Menuju Husnul Khatimah
Menghadapi realitas penuaan global, Islam menawarkan solusi holistik agar para lansia mampu hidup mandiri, sehat, dan tetap produktif hingga ajal menjemput. Solusi ini memadukan kesadaran normatif-syar'i dengan tindakan praktis-empiris.
Baca Juga: UNIQLO Luncurkan 5 Desain Baru PEACE FOR ALL, Donasi Global Tembus 3 Miliar Yen
Pertama, transformasi mindset kewargaan senior. Lansia tidak boleh memandang diri mereka sebagai objek pasif yang menanti akhir hayat dalam keputusasaan.
Mereka adalah subjek spiritual yang produktif, yang mendasarkan aktivitasnya pada motif ibadah, sebagaimana dicontohkan melalui kebiasaan berjalan kaki dan keterlibatan sosial di berbagai kota dan negara.
Kedua, pelembagaan sistem pramurukti berbasis ihsan. Negara dan masyarakat wajib menyediakan ekosistem pendukung yang memanusiakan lansia. Pengasuhan profesional (caregiving) harus dijiwai oleh nilai ihsan, bukan sekadar transaksi materialistik semata.
Baca Juga: Kehadiran Pancasila di Denyut Nadi Rakyat
Ketiga, harmonisasi gerak jasmani dan ruhani. Kemandirian lansia dicapai dengan menjaga ritme metabolisme tubuh melalui olahraga ringan, seperti berjalan kaki, yang dibarengi dengan intensitas zikir kognitif yang konstan.
Dengan orientasi kehidupan yang demikian, fase lansia akan menjelma menjadi muara spiritual yang tenang.
Mereka bertahan bukan karena takut akan kematian, melainkan karena ingin memastikan bahwa ketika Allah SWT memanggil mereka pulang, mereka kembali dalam keadaan jiwa yang tenang (nafs al-muthma'innah), rida dan diridai, laksana keresik yang kering di bumi namun abadi dan harum di sisi-Nya. (*)
Editor : Novitri Selvia