Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Naik atau Turun, Mengapa Dompet Kita Ikut Terpengaruh?

Redaksi • Selasa, 16 Juni 2026 | 18:05 WIB
Fira Aulia Wahyudika
Fira Aulia Wahyudika

Oleh Fira Aulia Wahyudika, Mahasiswa Ekonomi

Di kala memanasnya perekonomian global dikarenakan banyaknya konflik di negara besar, Bank Indonesia mengambil action dengan mengumumkan perubahan pada BI Rate. Adanya pengumuman mengenai suku bunga acuan yang diterbitkan oleh Bank Indonesia hampir selalu memunculkan reaksi yang berbeda dari masyarakat luas. Sebagian menyetujui dan sebagian lain mengerutkan dahi. Kebijakan suku bunga acuan ini menyentuh kehidupan setiap orang dan juga menyebar ke berbagai lapisan, mulai dari lapisan atas seperti pengusaha besar hingga ke ibu rumah tangga yang mencicil rumah dan lapisan terbawah.

BI Rate atau yang sekarang lebih dikenal sebagai BI 7-Day Reverse Repo Rate adalah suku bunga acuan yang ditetapkan oleh Bank Indonesia sebagai sinyal arah kebijakan moneter nasional. Angka ini adalah salah satu kompas utama yang menentukan seberapa murah atau mahal uang yang beredar di seluruh sistem keuangan Indonesia. Ketika BI menaikkan BI Rate, bank komersial biasanya juga ikut menaikkan suku bunga dan deposito mereka. Dari sini akan tercipta efek yang bisa merambat ke mana-mana. Mulai dari harga-harga di pasar, nilai tukar, cicilan KPR, dan pinjaman usaha.

Salah satu alasan paling penting mengapa BI Rate dinaikkan adalah untuk mengendalikan inflasi. Inflasi adalah musuh negara yang diam-diam bisa menggerogoti daya beli masyarakat. Di saat harga-harga terbang tidak terkendali dan yang paling merasakan dampaknya adalah kalangan terbawah, hal ini dikarenakan mereka tidak punya aset untuk berlindung, hanya mengandalkan upah harian yang nilainya kian hari kian tergerus. Ketika harga beras, minyak goreng, transportasi, dan kebutuhan pokok lainnya mengalami kenaikan yang membuat beban hidup masyarakat kecil menjadi semakin berat. Adanya risiko yang tinggi itu mendorong BI untuk mengambil aksi agar bisa mendinginkan ekonomi yang terlalu panas ini.

Menaikkan BI Rate membuat uang menjadi lebih mahal untuk dipinjamkan, konsumsi melambat karena masyarakat lebih memilih untuk menabung serta berhati-hati dalam menggunakan uang dan membuat tekanan inflasi akan berkurang. Di sisi lain, kenaikan suku bunga ini juga membuat negara kita lebih menarik di mata investor asing karena instrumen investasi yang membuat investor asing ingin berinvestasi di negara kita. Investasi asing sangat menguntungkan negara karena membuat aliran modal masuk mengalami peningkatan, nilai tukar rupiah menguat kembali, dan cadangan devisa negara terjaga. Salah satu fondasi terpenting dari seluruh aktivitas ekonomi nasional adalah stabilitas pada nilai tukar.

Tetapi tidak semua pihak merasakan keuntungan dari kenaikan pada BI Rate. Bagi jutaan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang bergantung pada kredit modal kerja, adanya kenaikan pada BI Rate adalah kabar buruk yang datang di waktu yang buruk. Kenaikan BI Rate ini menyebabkan bunga pinjaman ikut naik, margin keuntungan menyempit, dan banyak yang memangkas jumlah karyawan. Investasi menjadi lambat karena biaya modal semakin mahal, daya beli masyarakat menurun, dan sektor properti serta manufaktur yang sangat sensitif terhadap pertumbuhan bunga dapat mengalami kontraksi yang serius. Dalam waktu yang lama, ini akan menimbulkan peningkatan pada pengangguran yang lebih sulit untuk diatasi dibandingkan dengan terjadinya inflasi.

Bank Indonesia mengalami dilema yang besar dalam menghadapi masalah ini. Bank Sentral harus berjalan di atas tali yang memiliki risiko masing-masing. Jika Bank Indonesia terlalu agresif dalam menaikkan suku bunga, maka pertumbuhan ekonomi akan terancam. Jika Bank Indonesia terlalu lambat mengambil tindakan atas kebijakan, maka inflasi bisa menjadi tidak terkendali dan menyebabkan pelemahan pada rupiah. Tantangan juga bisa datang dari luar. Ketika Bank Sentral Amerika Serikat yakni The Fed melakukan peningkatan pada suku bunga, hal ini akan memberikan pengaruh juga pada Indonesia.

Keputusan BI Rate juga mencerminkan dua hal penting yaitu stabilitas makroekonomi yang akan dirasakan dalam jangka panjang dan kesejahteraan langsung yang akan dirasakan masyarakat. Kedua hal ini saling bertarik. Dua hal ini juga mencerminkan pertanyaan yang lebih penting yakni, “Untuk siapakah ekonomi ini dibangun?”

Para pembuat kebijakan di Gedung Bank Indonesia tahu bahwa di setiap kenaikan atau penurunan pada BI Rate, akan membawa pemenang dan juga korban. Namun di luar dari tembok gedung, ada jutaan orang yang merasakan bahwa keputusan yang diambil akan mempunyai konsekuensi yang jauh lebih konkret seperti usaha yang sulit berkembang, naiknya suku bunga yang akan menyebabkan pembengkakan pada cicilan, dan ada pula tabungan yang telah lama disisihkan memberikan hasil.

Jadi hal yang perlu kita tuntut bukan hanya kebenaran dalam pengambilan keputusan secara teknis, tapi keputusan tersebut juga harus berdasarkan komunikasi yang jujur, transparan, dan disertai dengan kebijakan penyangga bagi mereka yang paling rentan terkena dampak. Karena itu kebijakan moneter yang “baik” bukan hanya menjaga angka inflasi tetap rendah tetapi juga menjaga kestabilan agar bisa dirasakan oleh berbagai lapisan masyarakat, bukan hanya untuk mereka yang sudah lama berdiri di tempat yang aman.(***)

Editor : Hendra Efison
#suku bunga Bank Indonesia #inflasi Indonesia #dampak BI Rate #bi rate #kebijakan moneter