Penulis : Dasrul SS, M.Si - Penggiat budaya di Sumatera Barat
POLITIK ala Minangkabau punya satu prinsip inti: meletakkan sesuatu pada tempatnya. Nan ameh tatap dipakai, nan buruk dibuang. Sebelum melangkah, orang Minang menanamkan budaya perencanaan matang. Ada istilah tungkek nan ampek, tungku nan tigo sajarang - semua diukur, ditimbang, dimusyawarahkan dulu.
Tapi Minangkabau juga realistis. Kalau dalam pelaksanaan ada yang melenceng, kami punya pepatah: sasek di ujung jalan baliak ka pangkal, biduak takalang karang nakhodo babaliak arah. Artinya: salah di ujung jalan, kembali ke pangkal. Perahu kandas karang, nakhoda putar haluan. Mengakui salah dan koreksi bukan aib, itu wibawa.
Kalau pepatah itu kita jadikan kacamata untuk melihat kepemimpinan Prabowo Subianto, ada 3 catatan penting.
1. "Meletakkan Sesuatu pada Tempatnya" vs Pembagian Tugas Kabinet
Minang menuntut penempatan orang sesuai kapasitas. Pangulu bukan tukang dagang, imam bukan pandai besi. Setiap kaum punya sako, setiap sako punya fungsi.
Gaya Prabowo terlihat jelas di sini: pembagian tugas kabinet berdasarkan kompetensi dan rekam jejak. Mantan jenderal di pertahanan, ekonom di keuangan, teknokrat di hilirisasi. Lawan politik yang dulu berseberangan dirangkul dan diberi peran sesuai kapasitasnya. Logikanya sama dengan Minang: semua kaum dapat tempat, tidak ada yang nganggur.
Ini bentuk "meletakkan sesuatu pada tempatnya" versi modern. Tujuannya satu: mesin pemerintahan jalan cepat karena setiap orang main di posisi yang dia kuasai. Tantangan ke depan: memastikan "tempat" itu bukan hanya karena balas budi politik, tapi benar-benar sesuai ukuran ameh dan buruk yang objektif. Karena kalau salah tempat, mesin cepat tapi arahnya bisa oleng.
2. "Perencanaan Matang" vs Eksekusi Cepat Program Strategis
Orang Minang bilang: alam takambang jadi guru. Sebelum menebang pohon, diukur dulu. Sebelum buat rumah gadang, tiang dan bubung dihitung dulu. Perencanaan adalah harga mati.
Prabowo mewarisi dan melanjutkan banyak program strategis: hilirisasi, ketahanan pangan, IKN, pertahanan. Ciri eksekusinya: cepat, satu komando, target jelas. Itu sisi "nakhoda tegas" yang dibutuhkan saat kapal negara menghadapi gelombang global.
Dalam kacamata Minang, kecepatan itu bagus, asalkan tiang rumah gadang sudah ditanam dalam. Artinya: data, kajian, dan musyawarah dengan daerah jangan tergerus kecepatan. Contoh kecil: program pangan butuh tanah, air, dan petani. Kalau perencanaan di Jakarta cepat tapi tidak "baselo" dengan nagari di Agam atau Bukittinggi, bisa-bisa biduak takalang karang. Program jalan, tapi kandas di lapangan.
Jadi ujiannya bukan "cepat atau lambat", tapi "cepat karena matang, atau cepat karena terburu". Minang akan lebih hormat pada pemimpin yang 3 bulan merencana, 9 bulan mengeksekusi dengan mulus, daripada yang 1 bulan merencana lalu 11 bulan sibuk memperbaiki.
3. "Sasek di Ujung Jalan Baliak ka Pangkal" - Uji Wibawa Sejati
Ini inti politik Minangkabau. Tidak ada pemimpin yang luput dari salah. Bedanya di sikap setelah salah. Nakhodo babaliak arah itu bukan tanda lemah. Justru tanda nakhoda jujur dan sayang pada penumpang.
Pemerintahan Prabowo baru berjalan. Setiap kebijakan besar pasti ada uji coba, ada yang pas, ada yang perlu koreksi. Di titik inilah pepatah Minang jadi relevan.
Rakyat Minang tidak menuntut pemerintah anti-salah. Kami menuntut pemerintah yang kalau kebijakannya sasek di ujung jalan, berani bilang "kita baliak ka pangkal". Berani evaluasi, berani putar haluan, berani dengar jeritan pedagang di Pasar Atas Bukittinggi atau petani di Tilatang Kamang.
Ketegasan Prabowo selama ini adalah modal. Tapi wibawa sejati diukur saat beliau mampu memadukan ketegasan dengan keluwesan Minang: tegas saat mutuskan, luwes saat mengkoreksi.
Penutup: Antara "Batang Tarandam" dan "Tahu Malu"
Minangkabau butuh pemimpin batang tarandam - kokoh, jadi sandaran. Tapi kami juga butuh pemimpin tahu malu - tahu kapan harus berhenti, minta maaf, dan mulai lagi dari pangkal.
Kepemimpinan Prabowo punya modal batang tarandam: tegas, berpengalaman, berani ambil risiko. Sekarang tantangannya adalah menumbuhkan "tahu malu" ala Minang: menaruh sesuatu pada tempatnya dengan jujur, merencana dengan dalam, dan berani babaliak arah kalau biduk negara kandas karang.
Kalau itu terjadi, maka kepemimpinan Prabowo tidak hanya akan dikenang sebagai era "Indonesia berani". Tapi juga era "Indonesia yang arif" - kuat seperti raja, tapi tetap beradat seperti nagari.
Karena rumus Minang sudah jelas sejak dulu: _barek samo di pikua, ringan samo di jinjing. biduak lalu kiambang batawik. Sasek di ujuang jalan baliak ka pangka. (*)
Editor : Adriyanto Syafril