Oleh Shofwan Karim
(Wantim MUI dan Dosen Pascasrjana UM Sumbar)
Sepekan lalu optimisme dunia atas akan ditandatanganya MOU damai antara AS-Iran di Geneva,Swiss menggebu-gebu. Kini pudur dan layu. Padahal 14 Poin sudah ditanda tangani oleh Trumph di Paris. Tinggal eksekusi akhir di Jenewa.
Tiba-tiba terjadi pertempuan sengit antara Isreal dan Hizbollah di Lebanon tepat hari Jumat 19 Juni kemarin. Hal itu membuat dampak 14 poin perjanjian dipertanyakan. Maka perjanjian dibatalkan. Dunia global bereaksi negatif.
Resonansi global terhadap pembatalan mendadak perundingan lanjutan AS-Iran di Bürgenstock, Swiss setelah 19 Juni 2026 diwarnai oleh kepanikan pasar baru, skeptisisme geopolitik, dan meningkatnya alarm militer di Timur Tengah. Media internasional semua menayangkan perubahan oiptimisme semula kepada keraguan menyesakkan dada.
Meskipun Memorandum of Understanding (MoU) 14-poin untuk gencatan senjata berdurasi 60 hari telah ditandatangani di Prancis beberapa hari sebelumnya, eskalasi pertempuran berdarah antara Israel dan Hezbollah di Lebanon pada tanggal 19 Juni langsung meruntuhkan persiapan logistik di Swiss.
Wakil Presiden AS JD Vance membatalkan kunjungannya, dan Kementerian Luar Negeri Swiss resmi menunda pembicaraan teknis tersebut.
Beberapa resonansi dan reaksi dari berbagai aktor global serta sektor utama setelah dinamika 19 Juni melukiskan sketsa yang ragu dan wait and see (tunggu dan lihat) tetapi banyak pula yang langsung bergetar negative.
Swiss (Fasilitator), Kementerian Luar Negeri Swiss, memberi informasi penundaan tetapi menegaskan bahwa infrastruktur diplomatik di Bürgenstock tetap siaga. Swiss menyatakan kesiapan penuh untuk mempertemukan kembali delegasi AS, Iran, Qatar, dan Pakistan begitu situasi kondusif.
Sementara itu Timur Tengah (Poros Perlawanan & Israel) bersama Rezim Teheran menafsirkan klausul gencatan senjata "di semua lini" sebagai keharusan bagi Israel untuk menghentikan operasi di Lebanon. Namun, serangan Hezbollah yang menewaskan tentara Israel disusul serangan balasan masif Israel ke Lebanon Selatan menghancurkan ekspektasi tersebut. Beberapa kalangan menafsirkan hal itu memicu kekhawatiran dan tuduhan bahwa Iran sengaja mendesain klausul ambigu guna membatasi ruang gerak AS.
Tentu saja Negara Mediator (Pakistan & Qatar) menyesalkan penundaan ini setelah berbulan-bulan mengusahakan terobosan diplomatik. Mereka menyerukan penahanan diri agar kesepakatan awal tidak runtuh sepenuhnya.
IAEA (Badan Tenaga Atom Internasional) menyatakan kekhawatiran karena penundaan di Swiss menangguhkan pembicaraan teknis krusial mengenai inspeksi dan pembatasan program nuklir Iran yang menjadi syarat pelonggaran sanksi permanen berkelanjutan.
Reaksi dam resonansi pasar komoditas dan ekonomi Global menjadi fluktuatif. Harga minyak dunia pada sebelum pembatalan di Swiss, sempat turun ke level terendah sejak Maret karena AS mencabut blokade laut dan mengizinkan aliran minyak keluar dari Selat Hormuz. Namun, pasca-pembatalan 19 Juni, pasar kembali bergejolak dengan Brent merangkak naik ke US$80,57 per barel akibat kekhawatiran bahwa pembukaan Selat Hormuz tersebut bersifat rapuh dan bisa ditutup sewaktu-waktu oleh Iran.
Begitu pula terjadi ketidakpastian koridor logistik. Meskipun sebagian kapal tanker mulai berani melintasi Selat Hormuz, industri pelayaran internasional kini menahan diri dan menerapkan status high-alert (kewaspadaan-tinggi) menyusul kegagalan pertemuan Swiss.
Di AS sendiri muncul gejolak politik domestik. Menurut beberapa media muncul kritik internal pemerintahan Donald Trump. Mereka menganggap keputusan administrasi Trump untuk melonggarkan blokade energi secara dini demi mendapat "insentif perdamaian cepat" menuai kritik tajam di Washington.
Kubu oposisi dan sebagian sekutu Partai Republik menilai Gedung Putih terlalu banyak mengalah kepada Teheran tanpa komitmen denuklirisasi yang kuat, terlebih setelah Wapres JD Vance batal berangkat.
Lebih alit dan sublimatif lagi ada viralitas narasi kemenangan Iran. Media domestik Iran dan pengamat militer internasional (seperti Institute for the Study of War) melaporkan bahwa Teheran membingkai penundaan ini sebagai bukti ketidakberdayaan militer AS. Hal itu dapat mereka memanfaatkan momentum untuk mengonsolidasikan kekuatan finansial baru dari penjualan minyak awal guna memperkuat proksinya.
Secara umum para analis dunia, pakar dan ahli tentang geopolitik dan perang di kawasan Timur Tengah melihat bahwa arah perkembangan situasi ini sangat bergantung pada apakah AS dan Iran mampu memisahkan konflik internal Israel-Lebanon dari kesepakatan bilateral mereka. Allahu a’lam bi al-shawab. (*)
Editor : Tandri Eka Putra