Penulis: Ares Albirru Amsal, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Andalas.
PADEK.JAWAPOS.COM-Menyaksikan tim kesayangan tumbang di piala dunia adalah momen yang sangat menyakitkan bagi seorang penggemar sepak bola. Air mata penonton, jersi yang tertunduk lesu, dan selebrasi tim lawan yang harus disaksikan di layar kaca menciptakan kombinasi kekecewaan yang mendalam.
Banyak yang mengira bahwa ketika tim jagoan kalah, gairah kita untuk melakukan apa pun akan runtuh, termasuk keinginan untuk membelanjakan uang. Namun, riset dalam bidang psikologi konsumen justru menunjukkan hal yang sebaliknya. Rasa patah hati nasional akibat kekalahan sepak bola sering kali menjadi pemicu utama di balik gelombang belanja impulsif yang tidak terkendali di keesokan harinya.
Terapi Belanja sebagai Pelipur Lara Pemulih Stres
Secara psikologis, kondisi emosional kita setelah melihat tim jagoan kalah berada dalam tingkat stres dan kekecewaan yang sangat tinggi. Otak manusia pada dasarnya membenci perasaan negatif yang berlarut-lagut.
Ketika kita mengalami penurunan suasana hati yang drastis, sistem penghargaan di dalam otak secara instan akan mencari cara alternatif untuk memulihkan keseimbangan emosional tersebut. Fenomena inilah yang memicu munculnya perilaku terapi belanja atau retail therapy.
Di hari kerja setelah malam kekalahan tragis itu, konsumen cenderung melakukan pengeluaran balas dendam sebagai bentuk kompensasi atas kebahagiaan yang hilang.
Belanja bukan lagi dilakukan karena fungsi atau kebutuhan, melainkan sebagai obat penenang instan. Kita menjadi sangat royal membeli makanan manis yang mahal, memesan menu makan siang premium lewat aplikasi digital, atau mendadak membeli barang elektronik yang sudah lama ada di daftar keinginan.
Otak kita menggunakan aktivitas transaksi tersebut untuk mendapatkan suntikan dopamin cepat demi mengusir rasa sesak akibat kegagalan tim kesayangan mengangkat trofi.
Penurunan Kontrol Diri Akibat Lelah dan Kecewa
Kombinasi antara rasa kantuk yang berat setelah begadang dan rasa kecewa karena kalah menciptakan badai sempurna yang meruntuhkan kontrol diri konsumen.
Ketika korteks prefrontal, yaitu area otak yang berfungsi sebagai manajer keuangan pribadi kita, mengalami kelelahan akibat kurang tidur, kemampuan kita untuk menimbang harga dan kegunaan barang akan menurun drastis. Ditambah dengan beban emosional berupa kekecewaan, benteng pertahanan logika kita benar-benar roboh tanpa sisa.
Dalam kondisi mental yang rapuh ini, kita kehilangan kepekaan terhadap nilai uang. Kita menjadi sangat mudah terbujuk oleh iklan-iklan penenang pikiran yang berseliweran di media sosial. Slogan-slogan pemasaran yang menawarkan kenyamanan setelah hari yang berat terasa sangat personal dan masuk akal di kepala kita.
Akibatnya, kita mengonfirmasi berbagai transaksi digital tanpa berpikir panjang, seolah-olah pengeluaran uang tersebut bisa memutar balikkan papan skor pertandingan yang sudah usai semalam.
Mengunci Dompet Saat Menghadapi Patah Hati Bola
Industri retail dan platform e-commerce sangat paham bahwa konsumen yang sedang bersedih adalah target pasar yang sangat mudah dipengaruhi. Mereka dengan jeli menyesuaikan algoritma promo untuk menawarkan produk-produk hiburan, paket liburan, atau makanan siap saji tepat di pagi hari setelah pertandingan final usai.
Jika kita tidak menyadari mekanisme pertahanan ego ini, kita tidak hanya kehilangan trofi juara dunia yang diimpikan, tetapi juga kehilangan kendali atas kesehatan tabungan kita sendiri.
Untuk mengantisipasi jebakan pengeluaran balas dendam ini, penting bagi kita untuk mengenali bahwa keinginan belanja yang muncul di hari kerja pasca-final hanyalah ilusi emosional sesaat. Sebelum Anda melarikan kekecewaan dengan membuka aplikasi belanja digital, berikan waktu bagi tubuh Anda untuk mendapatkan tidur yang cukup terlebih dahulu.
Menunda segala jenis transaksi besar hingga pikiran kembali jernih dan emosi mulai stabil adalah strategi terbaik untuk menyelamatkan isi rekening dari dampak buruk patah hati sepak bola. (*)
Editor : Heri Sugiarto