Oleh: Divani Fadilah Putri, Mahasiswi Antropologi ISI Padangpanjang
Pada masa darurat bencana di Sumatera Barat, khususnya di Kabupaten Agam, upaya penanganan pascabencana selama ini lebih berfokus pada pemulihan fisik dan pemenuhan kebutuhan pangan. Sementara itu, aspek pemulihan psikososial belum sepenuhnya menjangkau seluruh masyarakat terdampak.
Keterbatasan tenaga pendamping, kondisi geografis nagari, serta situasi pascadarurat menjadi tantangan dalam penyelenggaraan layanan trauma healing secara langsung. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan pemulihan yang lebih adaptif, mudah diakses, dan sesuai dengan karakter sosial budaya masyarakat nagari.
Program ini bertujuan mendukung pemulihan psikososial masyarakat nagari terdampak bencana di Sumatera Barat melalui kegiatan trauma healing berbasis pertunjukan saluang dendang tradisional yang disiarkan secara live streaming.
Program pengabdian kepada masyarakat bertajuk "Live Streaming Dendang Tradisional: Trauma Healing Nagari Terdampak Bencana di Sumatera Barat" memiliki urgensi yang tinggi dan relevan dengan kondisi sosial masyarakat pascabencana.
Secara geografis, Sumatera Barat merupakan wilayah yang rawan bencana alam, seperti gempa bumi, banjir bandang, dan tanah longsor. Bencana tersebut terjadi di sejumlah wilayah, antara lain Kecamatan Malalak, Kecamatan IV Koto, Kecamatan Tanjung Raya, dan Kecamatan Palembayan di Kabupaten Agam.
Dampak bencana tidak hanya terlihat pada kerusakan infrastruktur dan melemahnya perekonomian masyarakat, tetapi juga pada kondisi psikologis warga yang mengalami tekanan, ketakutan, dan trauma berkepanjangan.
Pemulihan trauma menjadi kebutuhan mendesak agar masyarakat dapat kembali beraktivitas secara normal dan produktif. Pendekatan berbasis budaya lokal melalui dendang tradisional Minangkabau dinilai menjadi salah satu cara yang efektif sekaligus kontekstual.
Dendang tradisional memiliki nilai historis, emosional, dan spiritual yang kuat dalam kehidupan masyarakat nagari. Melalui syair dan iramanya, masyarakat dapat mengekspresikan perasaan, membangun ketenangan batin, serta memperkuat kembali solidaritas sosial yang sempat terganggu akibat bencana.
Keunggulan program ini terletak pada pemanfaatan teknologi live streaming sebagai media penyebarluasan kegiatan sekaligus memperluas dampaknya. Melalui siaran langsung, pertunjukan dendang tradisional tidak hanya dapat dinikmati masyarakat di lokasi bencana, tetapi juga oleh masyarakat luas, termasuk para perantau Minangkabau dan berbagai pemangku kepentingan.
Dukungan moral yang hadir melalui media digital diharapkan mampu meningkatkan rasa percaya diri dan semangat masyarakat dalam menjalani proses pemulihan.
Selain menjadi sarana trauma healing, program ini juga berkontribusi terhadap pelestarian dan revitalisasi seni tradisional Minangkabau di tengah arus globalisasi dan digitalisasi.
Keterlibatan akademisi melalui Program BIMA Ristekdikti memastikan kegiatan ini berbasis riset, berkelanjutan, serta memiliki dampak nyata bagi masyarakat. Dengan demikian, program ini mengintegrasikan pemulihan psikososial, pelestarian budaya, dan inovasi teknologi untuk memperkuat ketahanan masyarakat nagari terdampak bencana di Sumatera Barat.
Tujuan utama program ini adalah membantu pemulihan psikologis dan sosial masyarakat pascabencana melalui pendekatan seni budaya lokal.
Program ini memanfaatkan dendang tradisional Minangkabau sebagai media trauma healing yang mampu menenangkan emosi, memperkuat solidaritas sosial, serta menumbuhkan kembali rasa aman masyarakat.
Selain itu, program ini juga mengintegrasikan teknologi live streaming sebagai sarana memperluas jangkauan kegiatan, meningkatkan partisipasi publik, serta mendukung pelestarian dan revitalisasi dendang tradisional Minangkabau di era digital.
Tujuh bulan setelah bencana besar melanda Kecamatan Malalak, Kabupaten Agam, pada November 2025, proses pemulihan masyarakat terus berlangsung, baik dari aspek fisik maupun psikologis.
Camat Malalak, Ulya Satar, S.STP., M.Si., menyampaikan bahwa bencana tersebut merenggut 18 korban jiwa, menyisakan satu korban yang hingga kini masih dinyatakan hilang, merusak 192 rumah warga, serta melumpuhkan sekitar 600 hektare lahan pertanian.
Di tengah proses pemulihan infrastruktur dan ekonomi masyarakat, penyembuhan trauma juga menunjukkan perkembangan yang cukup signifikan.
Sebanyak 14 kepala keluarga yang kehilangan tempat tinggal kini telah menempati hunian baru yang disediakan pemerintah. Sementara itu, warga terdampak lainnya memperoleh bantuan sewa rumah sebesar Rp600.000 per bulan hingga hunian tetap mereka selesai dibangun.
Di sektor pertanian, lahan yang sebelumnya lumpuh perlahan kembali produktif setelah sebagian area terdampak dialihkan menjadi lahan tanaman jagung guna menopang perekonomian masyarakat.
Di tengah duka yang perlahan mulai terobati, Program Inovasi Seni Nusantara 2026 hadir sebagai ruang hiburan sekaligus pemulihan psikologis bagi masyarakat yang masih diselimuti trauma.
Program ini diketuai oleh Dr. Rustim, S.Pd., M.A., dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Padangpanjang, bersama Hamzaini, S.Sn., M.Sn., Wahyu Nova Riski, S.Sn., MCMG., serta mahasiswa Divani Fadilah Putri, Rugayah, Ranny Juwita Aulia, Nadya Julia Putri, Muhammad Akbar Revano, dan Yohanes Yukensio Kopong Ola.
Program tersebut bertujuan menjadi wadah hiburan sekaligus media penyembuhan trauma bagi masyarakat Malalak.
Mengusung tema "Trauma Healing di Nagari Terdampak Bencana", kegiatan ini dilaksanakan pada 3 Juli 2026 di Balai Cimpago, Malalak Utara.
Pertunjukan menampilkan kesenian tradisional saluang dendang Bagurau Lamak yang dikemas secara modern melalui siaran langsung (live streaming) multikamera di platform TikTok dan YouTube.
Teknologi live streaming dilengkapi fitur donasi daring dan virtual gift sehingga masyarakat Minangkabau di perantauan dapat berpartisipasi secara langsung melalui donasi.
Model ini menciptakan bentuk pemberdayaan baru, yakni seni tradisi yang mampu menghasilkan nilai tambah ekonomi sekaligus mendukung keberlanjutan regenerasi seniman dan tim produksi konten kreatif.
Program ini juga menjadi jembatan bagi para perantau untuk menyaksikan pertunjukan dari kejauhan sekaligus menyalurkan bantuan bagi masyarakat Nagari Malalak yang masih berjuang bangkit dari bencana.
Inovasi panggung digital dalam Program Inovasi Seni Nusantara 2026 turut menghadirkan elemen visual emosional melalui penggunaan green screen sebagai latar panggung.
Teknik ini memungkinkan tim kreatif memproyeksikan visual dinamis secara real-time, termasuk dokumentasi bencana yang terjadi di Nagari Malalak pada 26 November 2025, yang disisipkan secara halus di sela-sela pertunjukan.
Visual kilas balik tersebut bukan sekadar efek estetika, melainkan pendekatan psikologis untuk membantu penonton menghadapi memori kelam secara jujur, menerima duka, dan membangun semangat bangkit melalui pantun-pantun dendang tradisional.
Penggunaan green screen menciptakan ruang refleksi yang kuat dalam bingkai live streaming. Latar panggung berubah menjadi narasi visual mengenai ketangguhan masyarakat Malalak.
Saat rekaman kondisi nagari pascabencana ditampilkan di belakang para seniman, alunan saluang dendang menjadi pengiring proses penyembuhan yang melampaui kata-kata.
Pesan yang ingin disampaikan adalah bahwa meskipun bencana meluluhlantakkan infrastruktur dan mata pencaharian masyarakat, nilai budaya serta semangat hidup warga harus tetap berdiri kokoh.
Perpaduan visual bencana dengan pertunjukan seni tradisional menghadirkan pengalaman emosional bagi penonton TikTok dan YouTube, sekaligus menjadi dokumentasi sejarah yang mampu membangkitkan empati serta solidaritas masyarakat luas.
Mahasiswa dan dosen ISI Padangpanjang berperan sebagai fasilitator yang mentransfer pengetahuan teknis hingga strategi interaksi dengan audiens secara daring. Dengan demikian, para seniman lokal diharapkan mampu mengelola siaran secara mandiri dengan standar produksi yang profesional.
Kehadiran pertunjukan Bagurau Lamak disambut antusias masyarakat Nagari Malalak yang telah lama merindukan hiburan sekaligus penguat mental setelah bencana.
Gelak tawa warga yang memadati lokasi pertunjukan tidak hanya mengurangi beban psikologis akibat trauma, tetapi juga menghidupkan kembali roda ekonomi lokal. Para pelaku UMKM dan pedagang kaki lima yang terdampak bencana kembali membuka lapak dan menikmati meningkatnya jumlah pengunjung.
Seperti disampaikan Camat Malalak, Ulya Satar SSTP MSi, saat membuka acara, "Pementasan ini bukan hanya berhasil menghibur warga yang masih diselimuti duka, tetapi juga menjadi berkah nyata bagi para pelaku UMKM dan pedagang kaki lima. Tingginya antusiasme penonton membuat roda ekonomi lokal kembali berputar."
Kolaborasi dosen dan mahasiswa Institut Seni Indonesia Padangpanjang melalui Program Inovasi Seni Nusantara 2026 membuktikan bahwa pendekatan seni mampu menjadi penggerak pemulihan nagari secara efektif, baik dari aspek psikologis maupun kebangkitan ekonomi masyarakat.(*)
Editor : Hendra Efison