Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Guru Besar: Tekan Tren Berobat ke Luar Negeri

Shofwan Karim • Jumat, 10 Juli 2026 | 19:20 WIB
Shofwan Karim.
Shofwan Karim.

Penulis : Shofwan Karim - Pengamat, Penulis Esai dan Dosen Pascasarjana UM Sumbar

PENGUKUHAN  Guru Besar (GB/Prof) di Univesitas Andalas (Unand) 27 Juni lalu memberi getaran pikiran patut diambil perhatian. Unand Adalah Perguruan Tinggi Negeri  (PTN) yang mumpuni. Universitas Andalas (UNAND) kini memiliki 230 orang  GB tetap. 

Unand memiliki Tenaga  Akademik Dosen 2.600 orang. Mereka maha terpelajar, sangat terpelajar dan terpelajar dalam membimbing proses pembelajaran, penelitian dan pengabdian masyarakar bagi sekitar  lebih dari 33.500 orang mahasiswa. 

Universitas Andalas (Unand) memiliki 15 fakultas dengan total lebih dari 120 program studi. pada berbagai jenjang pendidikan, mulai dari Diploma (D3), Sarjana (S1), Profesi, Magister (S2), hingga Doktor (S3). Khusus untuk jenjang Sarjana (S1) saja, Unand menawarkan lebih dari 44 pilihan program studi.

Universitas Andalas (Unand) tercatat pada peringkat ke-16 secara nasional dan berada di kelompok 1401+ dunia menurut QS World University Rankings tahun 2026. Pemeringkatan ini mencerminkan posisinya sebagai salah satu institusi pendidikan tinggi terkemuka di Indonesia. 

Tanggung Jawab Sosial GB

Pengukuhan beberapa Profesor Guru Besar (GB) Unand yang paling baru tadi adalah: Prof. Dr. Silvia Rosa, M.Hum. Prof.Dr.Helmizar,SKM,M.Biomed. Prof. Dr. Ike Revita, SS, M.Hum. Prof. Dr. dr. Rima Semiarty, MARS, FISPH, FISCM, Sp.KKLP, Subsp.COPC. Prof.Dr.Azrimaidaliza,SKM,MKM. Prof. Masyhuri Hamidi, SE, M.Si., Ph.D., CFP., CRP., QWP, dan Prof. Ir. Mas Mera, MT, Ph.D.

Salah seorang di antaranya Rima Semiarty. Kalau tak salah sewaktu remaja dan mahasiswa dulu dikenal sebagai Rima S Kamardi. Putri Prof. Dr. Kamardi Thalut itu dulu aktif dalam berbagai  kegiatan dan juga dikenal sebagai penyanyi. Waktu SMA ia pernah mengikuti   pertukaran siswa program AFS satu tahun di Amerika. 

Kali ini Prof. Rima mengajukan judul Orasi: “Kenapa Berobat ke Luar Negeri? Peningkatan Mutu Administrasi Layanan Kesehatan untuk Kepuasan Masyarakat.” 

Narasi ini boleh disebut  disamping bersifat akademik, juga sebagai tanggungjawab sosial GB. Ia menekankan pendekatan strategis administrasi playanan kesehatan yang mencakup 5 poin utama untuk menekan tren berobat ke luar negeri.

Kelimanya adalah: (1) Kecepatan pelayanan dengan memangkas waktu tunggu pasien; (2) kemudahan administrasi dengan menyederhanakan birokrasi rumah sakit; (3) komunikasi Tenaga Kesehatan dengan memperbaiki interaksi dan empati antara dokter/perawat dengan pasien; (4) pengalaman Pasien (Patient Experience) dengan memastikan kenyamanan menyeluruh dari awal masuk hingga pulang dan;  (5) kepercayaan Publik (Public Trust) dengan membangun kembali reputasi rumah sakit dalam negeri agar berkeadilan dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat.

Bila dibuat simpliflikasi ke-5 poin itu bisa disingkat menjadi: Manajemen layanan dan waktu, komunikasi yang empatik, nyaman dan  psikologi-keyakinan. Ini yang menjadi asah pikiran saya terhadap orasi Prof Rima dan menjadi refleksi hari ini.

Masa Lalu 

Pada tahun 2014, saya pernah menulis di Harian Singgalang tentang fenomena pasien Sumbar berobat keluar negeri. Tulisan itu dalam rangka menyambut diresmikannya sebuah RS  di kota Padang. Pada dekade sebelumnya sasaran utama pasien berobat ke luar negeri adalah Malaysia dan Singapura. Rumah Sakit (RS) di  Kualalumpur dan Singapura  adalah tujuan utama kelas atas. 

Sementara  para pasien kelas menengah adalah RS di Malaka. Para toke kelapa sawit dan para usahawan di berbagai wilayah di Sumatera amat lancar bicara soal bagaimana berobat ke negeri jiran itu.  Di masa itu ada sekitar 5000 (lima ribu orang) pasien yang berobat ke keluar negeri terutama tiga tujuan tadi dari Sumbar dan sekitarnya.

Pada 15-25 tahun lalu RS Malaka mencari pasien ke Indonesia. Mereka memasang agen-agen untuk merektrut calon pasien untuk berobat. Agen-agen itu mungkin dapat disebut sebagai ujung tombak RS atau marketer. Mereka langsung mendapat preferensi dari pasien yang sudah berobat  sebelumnya dan merasa sukses. Pasien dari luar negeri (ya,orang kita ini) dilayani sepenuh hati. Bila pemberi layanan dari hati, maka yang dilayani itupun menyerahkan hatinya. 

Pasien atau keluarga yang mendampingi akan terhubung dengan Admin atau Costumer Service (CS) RS di sana. Serta merta terjadi hubungan aktif dan kondusif. Mereka bahkan akan dibantu mendapatkan tiket terbang, home stay atau hotel yang dekat di sekitar RS. Lalu merujuk ke dokter yang sesuai dengan kebutuhan pasien, labor, obat dan bahkan menawarkan menu makan yang sesuai baik yang harus rawat inap maupun rawat jalan. Beda dengan di kita (waktu itu). Pasien yang mencari rumah sakit, ketersedian dokter, ruang rawat, obat, administrasi labor dan sebagainya. Mereka sudah one stop service. Kita, kala itu masih bolak-bolak dari satu meja ke ruangan lain. 

Dulu ada pasien yang traumatik. Setelah operasi di salah satu tempat, ternyata terus pendarahan. Pasien itu dari pada kembali ke RS awal dan nanti panjang urusannya, apalagi ada indikasi malpraktik, hanya berucap: astaghafirullah. Ia kumpulkan segala daya dan dana, terbanglah Pasien ini ke salah satu RS di luar negeri tadi. Di sana diperiksa dan  teliti-ulang medical record yang dibawa. Lalu  bertemu ada benda lain di bekas   operasi  sebelumnya di tanah air. Tentu dengan cepat tanpa menyalahkan di RS  sebelumnya, mereka ambil tindakan solutif, mengobati dan menyebuhkan pasien tadi. 

Kata Pakar

Saya pernah mendiskusikan ini kepada beberapa pakar. Mereka mengatakan (sekali lagi ini pada 10-20 tahun lalu) antara lain begini. “Peralatan operasi dan  laboratorium pada waktu itu ada yang sudah expired (habis masa berlaku). Orang kita pintar menservis-perbaiki, maka terus digunakan.” 

“Padahal seharusnya kalau sudah esxpired,  ya dibuang.” Kata pakar itu lagi, “dokter kita bekerja “over loaded”. Tambahnya. Waktu itu berlaku aturan seorang dokter bisa praktik di tiga tempat (baik RS maupun pribadi). 

Dokter itu manusia. Ada lelah dan capek.  Bagaimana mau senyum dengan pasien kalau sebelumnya begadang terhadap puluhan pasien yang diladeni. Apalagi kalau perawat yang bekerja meladeni dan mengontrol pasien rawat inap, mereka dalam jumlah terbatas dan pasien banyak, apalagi yang akan disebut.

Wabilhal, agaknya 5 tindakan preventif yang diusulkan Prof Rima di atas tadi  sangat rasional dan itulah soalnya. Namun bagi orang awam masih menyimpan beberapa hal yang sangat sederhana. Bagaimana pengobatan menggunakan BPJS tidak mengalami antri yang panjang. Obat yang benar berkualitas bukan murahan. Tak perlu waktu daftar ada frasa, apakah akan menggunakan BPJS atau Pribadi?  Dan mereka jangan ditanya akankah berobat ke luar negeri? (*)

Editor : Adriyanto Syafril
#opini #Opini Padek