Seniman Padang: Jangan Jadi Pengamen di Rumah Sendiri, Peluang dan Tantangan di Tengah Program "Padang Gastronomy City"

Tandri Eka Putra • Dipublikasikan Jumat, 31 Juli 2026 | 14:26 WIB
Dasrul Ss Msi/ Pengiat Budaya Di Sumatera Barat
Dasrul Ss Msi/ Pengiat Budaya Di Sumatera Barat

 

Oleh: Dasrul, S.S., M.Si (Penggiat Seni Budaya)

PADEK.JAWAPOS.COM-Program "Padang Gastronomy City" yang sedang digagas Pemerintah Kota Padang membuka peluang besar bagi pengembangan sektor pariwisata berbasis budaya.

Konsep gastronomi tidak lagi dipahami sekadar sebagai urusan makanan, melainkan perpaduan antara cita rasa, sejarah, tradisi, seni, dan pengalaman yang membentuk identitas sebuah daerah.

Dalam konteks ini, Kota Padang memiliki modal yang sangat kuat. Kuliner Minangkabau telah dikenal dunia melalui rendang, sate Padang, gulai, lamang, lapek, hingga tradisi makan bajamba. Namun, kekuatan tersebut sesungguhnya tidak berdiri sendiri.

Di balik setiap hidangan terdapat nilai budaya yang diwariskan melalui seni pertunjukan, musik tradisional, sastra lisan, hingga kerajinan masyarakat.

Karena itu, keberhasilan program Gastronomy City tidak cukup hanya menghadirkan festival kuliner atau promosi makanan. Yang harus dijual kepada wisatawan adalah pengalaman budaya yang utuh. Di sinilah posisi seniman menjadi sangat strategis.

Selama ini, dalam berbagai kegiatan pemerintah, seniman sering kali hanya diposisikan sebagai pelengkap acara. Mereka diundang untuk mengisi hiburan, tampil beberapa menit, kemudian selesai. Padahal, dalam konsep gastronomi modern, seni justru merupakan bagian dari produk wisata yang memiliki nilai ekonomi.

Pertunjukan tari piring yang mengiringi makan bajamba, musik talempong yang menyambut tamu, pertunjukan randai yang mengisahkan asal-usul makanan khas, hingga karya seni rupa yang memperkuat identitas ruang kuliner merupakan bagian dari pengalaman yang dicari wisatawan. Pengunjung tidak hanya membeli makanan, tetapi juga membeli cerita, suasana, dan memori.

Di sisi lain, Gastronomy City juga membuka peluang baru bagi tumbuhnya ekonomi kreatif. Pelaku UMKM membutuhkan desain kemasan, fotografi produk, ilustrasi, video promosi, hingga narasi budaya yang mampu meningkatkan nilai jual produk mereka. Semua kebutuhan tersebut merupakan ruang berkarya bagi para seniman.

Tidak hanya itu, program ini juga berpotensi memperluas ruang ekspresi seni hingga ke seluruh kecamatan di Kota Padang. Setiap wilayah memiliki kekhasan budaya yang dapat dipadukan dengan kuliner lokal sehingga melahirkan destinasi wisata baru yang tidak terpusat di kawasan pantai atau pusat kota.

Namun demikian, peluang tersebut hanya dapat diwujudkan apabila pemerintah benar-benar menempatkan seniman sebagai mitra pembangunan, bukan sekadar pengisi acara.

Persoalan yang selama ini muncul adalah keterlibatan seniman yang masih bersifat seremonial. Mereka diundang ketika ada kegiatan, tetapi tidak dilibatkan sejak tahap perencanaan. Akibatnya, kolaborasi antara sektor seni dan kuliner belum menghasilkan produk yang berkelanjutan.

Tantangan lainnya adalah masih minimnya pemahaman bersama mengenai konsep gastronomi. Banyak pelaku seni belum memahami bagaimana karya mereka dapat menjadi bagian dari industri pariwisata, sementara sebagian pelaku kuliner juga belum melihat seni sebagai investasi yang mampu meningkatkan nilai ekonomi produk.

Selain itu, hingga kini belum tersedia basis data yang memadai mengenai potensi seniman lokal. Pemerintah relatif memiliki data pelaku UMKM, tetapi belum memiliki sistem informasi yang memuat seniman tari, musik, teater, seni rupa, maupun pelaku budaya lainnya yang siap dilibatkan dalam berbagai program.

Kondisi tersebut menyebabkan peluang kerja sama sering kali lebih banyak dinikmati oleh penyelenggara kegiatan dari luar daerah yang telah memiliki jaringan dan basis data yang lebih lengkap.

Untuk itu, diperlukan langkah konkret agar Gastronomy City benar-benar menjadi ruang pemberdayaan bagi seniman lokal.

Pemerintah Kota Padang dapat membangun pusat kolaborasi kreatif yang mempertemukan seniman, pelaku UMKM, akademisi, dan chef dalam menghasilkan produk-produk inovatif berbasis budaya Minangkabau.

Selain itu, setiap kegiatan gastronomi yang didanai pemerintah sebaiknya mewajibkan keterlibatan seniman lokal sebagai bagian dari konsep acara, bukan sekadar hiburan. Keterlibatan tersebut perlu dirancang sejak awal agar seni menjadi unsur utama dalam membangun pengalaman wisata.

Peningkatan kapasitas sumber daya manusia juga penting dilakukan melalui pelatihan mengenai storytelling budaya, pertunjukan wisata, produksi konten digital, hingga pengembangan produk kreatif yang mampu mendukung promosi kuliner.

Di saat yang sama, pemerintah perlu membangun basis data seniman yang terintegrasi agar proses kolaborasi menjadi lebih mudah, transparan, dan membuka kesempatan yang sama bagi seluruh pelaku seni.

Promosi Gastronomy City pun semestinya tidak hanya menjual makanan, tetapi juga memperkenalkan seniman sebagai duta budaya. Paket promosi yang menggabungkan kuliner, seni pertunjukan, dan produk ekonomi kreatif akan memberikan pengalaman yang lebih berkesan bagi wisatawan sekaligus memperkuat identitas Kota Padang.

Pada akhirnya, Gastronomy City bukan sekadar program kuliner. Program ini merupakan upaya membangun identitas kota melalui perpaduan rasa, budaya, dan kreativitas masyarakatnya.

Tanpa keterlibatan seniman, Gastronomy City berisiko menjadi sekadar festival makanan yang mudah ditemukan di berbagai daerah. Sebaliknya, ketika seni menjadi bagian yang menyatu dengan pengalaman kuliner, Kota Padang akan memiliki keunikan yang sulit ditiru.

Wisatawan mungkin dapat menikmati rendang di banyak tempat. Namun, pengalaman menikmati rendang sambil menyaksikan randai, mendengar talempong, atau memahami filosofi budaya Minangkabau hanya dapat ditemukan di Kota Padang.

Karena itu, seniman tidak seharusnya menjadi dekorasi dalam program Gastronomy City. Mereka harus menjadi bagian dari penggerak utama yang menghadirkan jiwa dan identitas Kota Padang kepada dunia.(***)

Editor : Novitri Selvia
Seniman Padang Gastronomy City dasrul